Dinas P3A Maluku intensifkan sosialisasi UU No 23 tahun 2002

oleh -50 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon : Dalam kurun 2 tahun, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Maluku semakin mengalami peningkatan.

Kekerasan terhadap anak kebanyakan terjadi pada anak usia 8-17 tahun, sedangkan kekerasan perempuan lebih banyak terjadi di dalam rumah tangga.

Hal ini dibenarkan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Maluku, Ir. Meggy Samson,M.Tech, saat berhasil dikonfirmasi waratwan, di Ambon, Kamis (15/3).

”Kekerasan yang terjadi di Maluku di tahun lalu dan tahun ini berdasarkan sistem informasi  lebih dari 100 kasus,” ujarnya.

Link Banner

Masalah ini, akunya, juga dibahasa dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Maluku, di Hotel Everbright Belakang Soya Ambon, Kamis (15/3).

Baca Juga  Terus Bertambah, Maluku Utara Masih Tunggu Hasil Pemeriksaan 22 Spesimen Dari BBLK Makassar

Mengatasi peningkatan kekerasan ini, jelasnya, pihaknya terus bersinergi dengan lembaga pemerhati perempuan dan anak untuk menangani kasus yang terjadi di dalam masyarakat.

Selain itu, tegasnya,  pihaknya juga melakukan sosialisasi UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan terhadap Perempuan dan Anak.

Dijelaskannya, khusus tahun 2018 ini pihaknya melakukan sosialisasi pada 3 kabupaten yakni Maluku Tenggara (Malra), Seram Bagian Barat (SBB) dan Maluku Barat Daya (MBD).

Sementara kabupaten lainnya sudah dilakukan sosialisasi materi yang sama pada tahun lalu.

”Dinas  secara terus-menerus melakukan sosialisasi maupun upaya-upaya pencegahan dan penanganan kasus, terutama daerah yang tingkat kekerasan perempuan dan anak yang tinggi,” jelasnya.

Sosialisasi undang-undang ini, tegasnya, perlu dilakukan agar masyarakat Maluku dapat memahami dan peduli terhadap hak anak dan perempuan.

Baca Juga  Ini 11 Strategi KKP dalam Pengelolaan Perikanan TCT

Karena itu, terangnya, dupaya dimasud juga memerlukan dukungan dan kerjasama masyarakat, pemerintah, lembaga pemerhati perempuan dan anak, bergandengan tangan mengurangi serta menyelesaikan persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

”Namun yang paling utama harus dimulai dari keluarga guna mewujudkan anak–anak yang baik, dan terlindungi dari kekerasan,” pungkasnya. (keket)