Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis
Islamabad, Sabtu ini, sudah siap menggelar pertemuan kelas berat delegasi Amerika Serikat dan delegasi Iran. Dua delegasi besar, atau salah satunya, dari Washington dan Teheran, dikabarkan sebentar mendarat.
Mereka diarahkan tiba di Pangkalan Udara Nur Khan, markas militer Pakistan yang biasanya lebih akrab dengan jet tempur daripada rombongan diplomat yang membawa beban sejarah.
Dari sana, menurut jadwal, mereka digiring ke kawasan paling steril di ibu kota: Red Zone (Zona Merah). Ini jantung kekuasaan Islamabad yang hari itu dikunci rapat, seperti rahasia yang tak ingin bocor.
Kota ini tidak hanya dijaga, ia disamarkan. Detail lokasi perundingan dirahasiakan, waktu kedatangan dibuat kabur, dan jejak diplomasi sengaja dikaburkan dalam kabut informasi.
Hotel-hotel dikosongkan diam-diam, jurnalis dijauhkan dari titik-titik strategis, dan para pejabat Pakistan memilih berbicara secukupnya. Bahkan mereka lebih sering berkomunikasi lewat potongan kalimat di X ketimbang konferensi pers.
Seolah dunia sedang menonton film, tapi layar sengaja diredupkan agar alur ceritanya tidak terbaca terlalu cepat. Tapi, perang mulut antara petinggi Pakistan dengan Israel menyeruak usai ratusan jiwa sipil Lebanon dibom pasukan Zionis








