Ditutup 14 Hari, Melkias Harap Pemprov Benahi RSUD Haulussy

oleh -329 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Selang 14 hari Pemerintah Provinsi Maluku mengambil kebijakan untuk menutup sementara RSUD Dr Haulussy Ambon.

Pasalnya, bukan hanya jumlah warga sipil saja yang menjadi korban serangan virus corona (covid-19, namun tenaga medis yang mengabdi pada UPT milik Pemprov Maluku ini juga sudah terpapar virus dimaksud.

Selang masa penutupun 14 hari ini, Pemerintah Provinsi Maluku pun diminta untuk segera melakukan pembenahan atas UPTD miliknya itu.

Hal ini ditegaskan Wakil KetuaI DPRD Provinsi Maluku, Melkias Seirdikut, kepada wartawan, usai menghadiri rapat dengar pendapat (hearing) tentang penutupan RSUD Dr Haulussy, Selasa (12/5/2020).

”Tren semakin bertambah. Bahkan, tren positif covid-19 ini tembus sampai pada tempat wilayah harapan kita yaitu rumah sakit. Rumah sakit Dr. Haulussy yang ada di Kudamati ini adalah menjadi rumah sakit kebangaan kita sekaligus rujukan terbesar sekarang ini. Kami berharap proses penutupan ini disertai dengan langkah-langkah tepat untuk pembenahan rumah sakit ini selama 14 hari. Supaya apa? Ketika pemerintah daerah merasa waspada, pada waktunya rumah sakit ini bisa dibuka kembali, semua bisa kembali dengan angka yang netral. Penututupan 14 hari ini harus disertai dengan tindakan untuk pembenahan dan pembersihan seluruh rumah sakit ini,” ujarnya.

Baca Juga  Lanud Pattimura Gelar Karya Bakti di Desa Pesisir

Meskipun ditutup sementara waktu, akunya, pemnerintan daerah sendiri pun masih belum mengindikasikan akan memindahkan sementara aktivitas pelayanan ke rumah sakit lainnya seperti RS BHayangkari maupun RS Angkatan Laut (Rumkital) ataupun RS TNI AD.

”Mungkin saja pemerintah daerah sudah berhitung untuk pindah ke rumah sakit RST, bisa saja. Tapi, proses ini kan bukan gampang. Dan bukan proses yang memindahkan sesuatu dari tertentu ke tidak tertentu. Karena itu, hari ini terkait dengan proses tutupnya RSUD ini untuk kami memintah pemerintah daerah segera melakukan rehab terkait rumah sakit ini. Baik dari segi manajemen, baik dari dari sterilisasi di wilayah ini, terutama berkaitan dengan protokol covid-19 ini”, ujarnya.

Alasan paling penting tutup rumah sakit RSUD ini juga supaya masyarakat juga tahu proses sementara ini untuk kini memberikan semacam dampak psikologi buat saudara-saudara kita yang ada di sekitar lingkungan rumah sakit. Baik secara langsung maupun secara tidak langsung,” tambahnya.

Baca Juga  Jalin Silaturahmi, Wakapolda Maluku Kunjungi Ketua MUI Maluku

Selain itu, tegasnya, tenaga medis maupun unsure pendukung lainnya pada rumah sakit itu sendiri, harus diberikan hak mereka sepenuhnya.

Pasalnya, merekalah yang menjadi perisai utama dalam hal penanganan dan penyebaran Covid-19.

”Dari awal kita punya pikiran dan tenaga medis untuk covid-19 ini banyak orang, bahkan semua punya tanggung jawab. Seluruhnya yang bekerja di Rumah Sakit Haulussy ini dari cleaning service hingga tukang masak, semua harus diperhatikan dalam bentuk haknya. Jangan kita paksa saudara-saudara kita yang medis ini melakukan kewajiban tapi tidak mendapatkan haknya. Tanpa kecuali, yang namanya rumah sakit rujukan yang menanagani covid-19, semuanya mulai dari celanning service, tukang masak dan sebagainya semua harus mendapat insiatif,” tegasnya.

Baca Juga  Unggul di Pilkada Halsel, Usman Sidik Turun Sapa Warga Obi

Ditambahkannya, seluruh tenaga medis maupun staf biasa pendukung aktivitas rumah sakit pun berpotensi terpapar virus yang sementara mendunia ini.

”Dengan adanya RAUD ini mengkonfirmasikan masalah yang terbesar adalah penanganan Covid-19. Tunjukkan bahwa siapapun yang bertugas di Rumah Sakit Haulussy, siapa pun dia, berpotensi terpapar. Bahkan rumah sakit lainnya juga berpotensi terpapar virus ini. Bayangkan kalau petugas medis mengalami ini di berbagai daerah dan rumah sakit, lalu siapa yang akan mengurusi dan merawat pasien-pasien lainnya?”, tutupnya. (liehu)