DPRD Kota Ambon Nilai KONI Tak Serius Gelar Kejuaraan Taekwondo

Porostimur.com | Ambon: DPRD Kota Ambon menilai bahwa Pengurus KONI Kota Ambon tidak serius menyelenggarakan kejuaraan Taekwondo Indonesia di Kota Ambon,

Pasalnya, lokasi penyelenggaraan kejuaraan yang digunakan tidak sesuai yakni mall Ambon City Center (ACC) Passo yang tidak memenuhi standar dan prosedur penyelenggaraan kejuaraan dimaksud.

Di lain sisi, waktu penyelenggaraan pun mengalami kemunduran, semula ditetapkan 7-9 Februari, justru berubah menjadi 10-11 Februari.

Hal ini ditegaskan anggota DPRD Komisi I Kota Ambon, Jouly Toisuta, kepada wartawan, di Ambon.

”Karena mengingat dari sisi kebutuhan, banyak hal yang tidak memenuhi proses pada daerah pelaksananaan tidak sesuai prosudur, seharusnya dilaksanakan pada GOR, bukan pada mall ACC, karena momen ini satu hal yang kita lihat adalah gawai kota. Dari sisi pelaksanaanya seakan-akan panitia tidak serius dalam menangani kejuaraan Taekwondo Indonesia di Kota Ambon. Artinya, kesiapan belum ada sama sekali. Seperti contoh team kesehatan, sisi keamanan tidak ada sama sekali, padahal mereka tahu bahwa kejuaraan seperti ini adalah pertandingan fisik,” ujarnya.

Menurutnya, yang menjadi pertanyaan besar atas tindakan panitia pelaksana yakni proses pendaftaran peserta yang ditetapkan sebesar Rp 200 ribu/atlit.

”Kemudian acara tersebut tidak ada momen seremonial pembukaan, seakan-seakan tidak resmi, karena tidak sesuai prosedur. Apalagi momen kota, minimal Ketua KONI Kota Ambon harus mengetahui hal ini, Walikota dan Ketua Harian Pengkot KONI Ambon, yakni Sekkot Ambon, A. G. Latuheru, harus mengetahuinya,” jelasnya.

Penyelenggaraan even dimaksud, akunya, merupakan sarana atau wadah penjaringan sekaligus pembinaan kepada bibit muda atlit taekwondo di Kota Ambon.

Sayangnya, pelaksanaanya tidak profesional sama sekali.

Techninal meeting yang digelar sebelumnya dengan melibatkan seluruh coach, wasit dan panitia penyelenggara, jelasnya, merepresentasikan jumlah peserta sebanyak 300 atlit.

Namun saat menghadiri dan menonton langsung gelar kejuaraan dimaksud, adanya indikasi tentang pendaftaran tambahan di luar jumlah peserta yang sudah terdaftar sebelumnya.

Dari kondisi peneyelnggaraan sendiri, terangnya, kejuaraan yang sedianya harus dituntaskan dalam 3 hari, ternyata molor dan menjadi 5 hari.

Alhasil, peserta yang sebagian besarnya merupakan pelajar terpaksa mengorbankan waktu belajarnya lebih banyak, yakni 2 hari.

”Terkait dengan kegiatan pertandingan taekwondo ini, memang ada hak-hak yang seharusnya disikapi oleh panitia pelaksana tetapi tidak disikapi panitia pelaksana secara baik. Maka, terjadi molor pertandingan. Seperti contoh hak-hak wasit dibicarakan sejak awal seharusnya diselesaikan ketika pertandingan berjalan, ternyata terjadi kompensasi. Sehingga, dia menunda-nunda waktu pertandingan. Yang seharusnya berjalan sesuai jadwal yang sudah ditentukan, hanya 3 hari, pertandingan akhirnya menjadi 5 hari. Juga, diduga ada pendaftaran siluman atau juga ada kontrak kerja yang mungkin dari awal rencana panitia dengan wasit supaya semua bisa jalan baik dengan waktu yang ditentukan, maka terjadi semacam komplain yang memperhambat pertandingan. Juga yang menjadi persoalan kepada atlit berlatar anak sekolah, waktu dalam Tecnical Meting 3 hari, akhirnya molor. Sehingga, waktu pendidikan mereka dikorbankan bertambah 2 hari,” terangnya.

Akibat banyaknya kekurangan dan kejanggalan dalam penyelenggaraan even kejuaraan taekwondo ini, tak segan Toisuta yang berada dalam komisi yang membidangi olahraga di DPRD Kota Ambon itu pun meminta Pemerintah Kota Ambon menertibkan Pengurus Kota (Pengkot) KONI Ambon, khususnya yang membawahi cabor taekwondo.

Apalagi, tegasnya, sebuah kejuaraan yang diselenggarakan harus memenuhi mekanisme dan prosedur yang sudah ditetapkan sebelumnya.

”Komisi I yang membidangi Dinas Olahraga, juga mintakan dari Pemerintah Kota Ambon dan Pengurus KONI Kota Ambon harus menertibkan momen olahraga seperti ini. Minimal dia harus memenuhi prosedur dan mekanisme sebuah pertandingan. Ini yang harus punya ketegasan baik dari KONI Kota Ambon. KONI Kota Ambon harus melihat bahwa Taekwondo Kota Ambon kondisinya seperti ini. Kalau dilihat hubungan kerja antara Pengurus Taekwondo Indonesia dalam hal ini di Kota Ambon tidak selaras atau tidak berjalan,” tegasnya.

Kejuaraan dimaksud, tambahnya, merupakan wadah untuk melakukan pembinaan kepada para atlit.

Namun baginya, tidak ditemukan adanya proses pembinaan kepada para atlit, khususnya dari sisi kepemimpinan.

Kekurangan ini, tambahnya, justru akan memicu para atlit berprestasi hengkang ke daerah lain.

”Kami melihat sama sekali proses kepemimpinannya tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Yang menjadi masalah, para atlit ini mewakili Kota Ambon ke luar daerah, tetapi proses kepemimpinananya tidak berjalan sesuai dengan apa yang mereka miliki. Akhirnya, proses pembinaannya macet dan jangan lagi mengharapkan Kota Ambon ini akan melahirkan atlit-atlit yang berkualitas, karena proses pembinaannya memang tidak sesuai dengan prosedur, baik dari sisi peràlatan pelatihan artinya bukan untuk cabor taekwondo saja tetapi untuk semua cabor. Karenanya kami meminta perhatian kepada KONI Kota Ambon agar semua cabang olahraga yang ada di Kota Ambon harus memiliki pembinaan, khususnya dilengkapi juga dengan pembiayaan yang maan,” pungkasnya. (lely)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: