Dua Puisi Dino Umahuk

oleh -25 views
Link Banner

Di Teluk Ambon Aku Mencintaimu

aku mencintaimu
di hamparan pasir putih tanjung marthafons
di antara riak ombak yang membelai sampan
di ujung teluk yang menyuburkan harapan

aku mendengar lagu-lagu merdu yang mengabarkan rindu bagai rimbun daun bakau
celoteh burung camar juga nyiur yang melambai
memanggilku untuk segera pulang
pulang padamu seperti dahulu
dengan rindu yang selalu menderu

di teluk Ambon aku mencintaimu
dengan cinta sepenuh biru
apa kau masih saja meragu?

Aku mencintaimu
di pesisir pantai pulau nan biru
di antara umur yang terus melayu
sebelum karam ditelan waktu

aku membayangkan mesranya senja yang berpulang di matamu
alamat di mana aku selalu merebahkan pilu, rumah yang selalu aku tuju
bila luka memenuhi seluruh tubuhku
dengan cinta sedari dahulu. peluklah aku

Baca Juga  Delapan Ide Foto Prewedding Outdoor Sederhana Tapi Menarik

di teluk Ambon aku mencintaimu
dengan cinta yang hanya satu
sampai ajal memutus waktu

Ambon, 02 Januari 2021

==========

Di Teluk Baguala Aku Mengingatmu Adinda

puisiku adalah syair cinta abadi yang tersimpan rapi di ruang sepi hatimu
meski aku lama pergi, kembali pulang dan menemukanmu adalah riwayat paling kutuju menuju rumah

senja menyapa dermaga tua di pantai Galala tempat dahulu cinta menyeberang dan kembali
meski perahu-perahu layar itu tak nampak lagi, cinta kita tiada pernah menuju mati

sebatang besi tua masih berdiri di sana bagai dewa laut sang penjaga
setia ia merawat cerita, menjadi penanda
bagi lelaki yang mendambakan rumah
bila kelak Ia pulang merebahkan lara

Baca Juga  Wiwiex Powerslaves Ajak Anak Rilis Lagu Religi Berjudul Taubat

di manakah sampan-sampan
yang mengasuh kenangan masa muda kita?
setelah jembatan membentang angkuh di atas telukmu yang menjauhkan kita dari garam?
yang memupus aromamu nan laut dari detak nafas dan tatap mata?

lekaslah nona, mendekatlah sayang
tuntun aku melayari telukmu walau tak lagi serimbun dahulu
dahan bakau dan semak tubuhmu membasuh pilu

tuntun aku menziarahi kenangan yang pernah kita kubur di batas pantai
biar kubasuh semua luka masa lalu itu dengan air mata haru
sambil mengenang senja di tanjung marthafons
ketika kau gemetar menerima ciumanku yang pertama dalam keharuman pucuk bunga

puisiku adalah kamu
dan akan begitu seiring waktu

Ambon, 30 Oktober 2020