Dukung Perjuangan Masyarakat Adat Marafenfen, ini Kata Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unpatti

oleh -553 views
Link Banner

Porostimur.com – Ambon: Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pattimura, Heppy Leunard Lelapary, angkat suara terkait aksi solidaritas untuk Aru lewat mimbar bebas yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unpatti, yang digelar, Senin (22/11/2021).

Menurut Lalapary, adanya relasi emosional antara Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan masyarakat adat Marafenfen, karena pernah melakukan penelitian kebahasaan di sana.

Aktivis 98 ini menjelaskan, dengan menggusur Marafenfen sebenarnya menggusur sebuah komunitas bahasa daerah di sana.

“Secara moral kami merasa terpanggil untuk turut mem-back up perjuangan Bung Aristo Bothmir bersama masyarakat adat Marafenfen di Kepulauan Aru, alasannya sederhana bahwa wacana-wacana yang mereka tampilkan adalah wacana perjuangan masyarakat adat dan sudah memuncak ketika dikelarkannya keputusan Pengadilan Negeri Dobo yang memenangkan TNI AL,” tutur Lelapary.

“Untuk merebut kembali hak ulayat masyarakat adat Marafenfen, kami butuh dukungan dari semua pihak. Kampus sebagai komunitas intelektual bertanggung jawab untuk menyuarakan ini, cara yang kita buat dengan potensi keilmuan yang ada pada Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia kami coba menyentuh pemerintah dan pihak-pihak yang sementara ini berjibaku dengan masyarakat adat Aru terkait dengan perempasan hak wilayah adat di Marafenfen,” imbuhnya.

Baca Juga  5 Hijab yang Cocok dengan Busana Perpaduan Warna Coklat

Lelapary menjelaskan, ini sebuah musibah besar bagai kelompok masyarakat adat Marafenfen, atas dasar kepedulihan, mahasiswa yang punya ikatan emosional dengan para alumni, mereka mencoba menggagas ide untuk menggelar mimbar bebas. Tentunya dengan cara dan kreativitas Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, kita tampil dengan cara orasi ilmiah, penampilan puisi, nyanyian dan juga atraksi-atraksi sastra lainnya untuk menginterupsi pemerintah.

“Kedepan, dalam hitungan hari kami akan menemui DPRD, menyurati presiden lewat Kantor Staf Presiden di Jakarta, semua itu akan kami lakukan dengan tentuhnya akan menambahkan bukti-bukti dan fakta-fakta lain dengan masyarakat yang ada di Aru,” kata Lelapary.

“Kami berharap ini tidak akan selesai walaupun sudah berketentuan hukum di tingkat pengadilan negeri Dobo, harapan kami ada upaya banding atau kasasi untuk memperjuangkan nasib ini, hingga kini aksi-aksi solidaritas untuk Aru masih digencar karena mereka melihat itu sebagai peluang. Saya kira perjuangan ini belum berakhir dan kita bersama-sama akan mengawal proses ini sampai dengan mendapat kejelasan keberpihakan kepada keadilan dan kebenaran milik masyarakat adat Marafenfen,” pungkasnya. (akib)

No More Posts Available.

No more pages to load.