Empat Puisi Maswin Muhammad Rahman

oleh -198 views
Link Banner

PRAHARA GAMALAMA

Gemuruh tifa dan dentuman gong kembali berdendang

Dendang berang pulau Thirnata di jaman perang

Link Banner

Kapitan laut berselempang dendam, maju menerjang

Melenggang tangkas, menepis gelombang

Hilang serang Laksamana de Marmarque semakin terang

Pandang Santa Lucia penuh seluruh melulur patung

Santo Paulo runtuh, hancur berkeping-keping

Tunggang langgang ke Santo Pedro berkawan tulang-belulang

Merah putih segi empat bertepuk gemuruh memurung jangang

Demi air mata suci Ratu Nukila

Demi pusara Tabarija di Malaka sana

Lembah hijau Gam Konora memerah bara

Juida Kasiruta saksi bisu lautan darah

Datuk-datuk laut serikat cakar di Buku Konora

Pulau Ambon mendidih semangat pasukan Lawalata

Jihad soya-soya mebelah tahang-tahang Halmahera

Mengepak sayap menukik cakar si Burung Goheba

Perisai Gamraha berlaga gagah tambah perkasa

Segenap prahara sederap menyatu dibilang canga-canga

Bikin goncang semangat Duarte de Ela

Kelip berpijar kembali temaram

Sekongkokol Lopez dan de Pementa bercurang serang

Mulut manis perdamaian tersimpan selaksa dendam

Santo Pedro mendayu-dayu perang terbenam

Baca Juga  Laturiuw : Kedepankan kebersihan sekolah

Khairun Djamil jatuh tersungkur darah menyiram

Nyala api Kapitan Gorango turut dipadam

Jantung diusung musuh menyusur kelam

Dua delapan Pebruari membanjir muram

Tahun Lima Belas Tujuh Puluh menjadi buram

Babullah Datuk Syam bangkit menggenggam bertambah geram.

Kastela, 28 Februari 1987

=============

KHAIRUN

Di tengah derap dan gemuruh pembangunan

Jika Jou Kolano hadir di Gam Lamo

Cako tifa tolo saragi se ngofa se dano

Dolabololo se Dalilmoro jadikan moto

Disemua garis batas tuan datang

Satu hentakan bumi berguncang

Satu panggilan Moloko bergetar

Di laut lepas datang bergegas

Hingar bingar penduduk kota berhenti seketika

Jadilah barisan Soya-soya menjalarkan api keabadian

Ke Barat menuju Afo

Ke Selatan menuju Santo Pedro

Pulang kembali ke Ake Santosa

Sowohi bilang

Ini malam rapat raksasa

Di atas mimbar tuan bersabda

Bumi Ternate luka parah

Seorang Pemuda maju membantah

Tuan salah

Tuan Buta

Tak peduli siapa

Entah penguasa

Pemangku adat

Mahasiswa serta Pelajar

Baca Juga  Pasukan TNI-Polri Baku Tembak dengan TPN-PB, 3 Warga Sipil Tewas, 4 Terluka

Tuan bilang

Air Santosa rusak binasa

Cengkeh Afo tanpa fadafo

Santo Pedro berdinding kendor

Benteng Toloko semakin bongkok

Awas: Jangan sampai Kapita-kapita marah

Datuk moyangmu sendiri amat murka

Melihat sejarah terlantar binasa, di bumi pusaka

Dan kami menanti

Dengan letusan gunung berapi

Gam Lamo, Maret 1987

=============

TANAH KELAHIRAN 2

Di sini ditanah leluhur ini

Telah mengalun simponi sejarah

Mengharum pesona namamu

Menembus Eropa, Tidore nan jaya

Kini, kami yang lahir dan tumbuh di sini

Kami malu kepada sejarah

Kami tidak punya apa-apa lagi

Sebagai bukti keperkasaan datuk moyang

Ah, apa guna bertopang dagu

Sehabis berkelahi teringat silat

Ayo kawan tuntutlah ilmu

Pulang kembali ke tanah kelahiran

Laut biru terbentang luas

Yo, bangun seindah dapat

Nun jauh di Bukit Marijang

Gurabunga, Talaga, Jaya, Kalaodi

Menanti semaian benih sepadan

Kakek, nenek terbaring sakit

Menanti sang ahli putera sendiri

Tanah kelahiran rindu menanti

Karya nyata ikhlas berbakti

Baca Juga  Pasien COVID-19 di Amerika Serikat yang Meninggal Sudah 16 Ribu

Tidore, Desember 1998

==========

KEPADA TUAN-TUAN

Bunda pertiwi kini menangis

Bunda pertiwi kini dilanda duka nestapa

Melihat keadilan sejarah,

Dibikin binasa di tanah persada

Wahai pemimpin-pemimpin republik

Tapak-tapak sejarah adalah saksi-saksi perkasa

Kora-kora melintas-lintas di Laut Arafura

Bikin Soekarno dan Hatta berani angkat bicara

Berteriak lantang tentang Trikora

Kami hanya minta keadilan dan kejujuran sejarah

Apa beda tetasan darah leluhur kami

Dengan leluhur Jokyakarta

Apa beda cucuran keringat datuk moyang kami

Dengan datuk moyang Serambi Mekah

Kini kau selempangkan istimewa di pundaknya

Tapi kotaku seperti mati, tak punya ceritera

Ayo tuan-tuan

Mari kita bikin janji,

Hanya ada satu barisan kata-kata.

Tancapkan keadilan sejarah

Agar bunda pertiwi tersenyum kembali

Sebening embun pagi.

Tidore, April 1992

========

Almarhum Maswin Muhammad Rahman adalah Mantan Ketua Sanggar Satra Gendang Gamalama Universitas Khairun, Ternate (1988-1991), Ketua Lembaga Kesenian Keraton Kesultanan Tidore (2006-2010) dan Ketua Harian Dewan Kesenian Tidore (2007-2011)

Link Banner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *