Empat Puisi Nuriman Bayan

oleh -58 views
Link Banner

Tapi Kata Mama

Berkali-kali sudah
kami melarang mama
jangan lagi ke kebun
jangan lagi mendaki
bukit yang terlalu tinggi
dalam riwayat pendakian kami

keringat dan air mata mama
sudah cukup tumpah di sana
sudah lebih—tumbuh di sana

tapi jawaban mama
selalu membuat kami terkecut.

Bertahun-tahun sudah
kami cemas dan sedih
tapi kata mama,
mama lebih cemas dan lebih sedih
ketika mama tidak bisa lagi ke kebun
tidak bisa lagi——–menghirup embun.

Link Banner

2021.

======

Ketika Langit Berlahan Kelabu

Kau kembali memandangi langit yang berlahan kelabu, tapi hujan masih serupa rencanamu. Tak dapat kau pastikan, ke mana ia akan jatuh, mengalir, dan menetap.

Apakah ke matamu, membasahimu. Atau pergi dan jatuh di belahan bumi yang lain.

Baca Juga  Gereja Papua Pesimis TGPF Ungkap Pelaku Penembakan Pendeta Yeremia

Kau masih memandangi, dari sebuah mata pintu. Pagar yang berdiri di depan, seperti hari depan yang ingin kau lompati. Yang ingin kau genapi.

Burung-burung yang tiba-tiba hinggap di pohon dan kemudian pergi. Hanya meninggalkan suara, seperti anak-anak yang datang kemudian pergi dari ibunya.

Kau kembali memandanginya. Angin berlahan bertiup. Kemudian tak ada lagi, yang ingin kau pandangi. Selain dedaunan yang kini berayun di dalam matamu.

2021.

=======

Di Depan Laptop

1/
Di luar
hujan seperti anak-anak yang pulang bermain

di depan laptop
kau berenang sambil meneguk huruf-huruf yang manis dan amis.

2/
Di luar
warna langit seperti asap papa fufu kelapa

Baca Juga  Gelar demo, mahasiswa Unidar soroti ruas jalan Kebun Cengkeh-STAIN

di depan laptop
kau duduk sambil mengusap-ngusap kepala.

2021.

=======

Bastotoro

Ombak nae-nae
ade ambil papan

ombak paka-paka
ade peluk papan.

Ke mata sungai
ade meluncur

ke mata kaka
ade berteriak,

“minggir, minggir
kenangan mau lewat.”

Di tepi pantai
kaka menyaksikan

tanpa kokodo
dan ikan bakar.

Di tepi pantai
kaka menyaksikan

seperti melihat
riwayat sendiri.

Di tepi pantai
kaka menyaksikan

di dalam kepala
kenangan-pun yora.

Teluk Loloda, 2021.

=========