Empat Puisi Nuriman Bayan

oleh -10 views
Link Banner

HARI-HARI IBU

Betapa sarat hari-hari ibu
kita tumbuh dari belaian tangannya
anak-anak kita tumbuh dari sentuhan tangannya.

Tangan ibu laksana jembatan
di bawah hujan yang jatuh berderas-deras
kita dan anak-anak berjalan di atasnya.

2021.

========

SEDANGKAN DI HATIMU

Jika ia yang kau tanam di sini
di belahan bumi mana aku harus tumbuh?

Aku tak mungkin bisa bertahan
di antara deretan gedung, bunyi mesin
apalagi di samping ia yang terlalu keras.

Jika ia yang kau tumbuhkan di sini
di belahan bumi mana kau ingin menanamku?

Sedangkan di hatimu
hanya nafsu, dunia, dan kertas.

2021.

=========

DI SUATU PERCAKAPAN

Jika aku benih,
kamu ingin menanam aku
di belahan bumi yang mana?

Baca Juga  BMKG Rangkum Data Tsunami di Indonesia yang Terjadi pada Bulan Desember, Salah Satunya di Ambon

Di batu-batu rijang itukah?
Di bukit-bukit hijau itukah?

Atau di tanah rata
di dekat sungai?
Agar ketika hujan
aku bisa berenang
sambil menyanyikan
lagu rindu,

kukuku,
wange
noma siwa-siwaku
ragu mangopa ima wohe so.

Hatiku bumi
aku menanam kamu
di sini, di dekat jantung.

Tapi bagaimana mungkin
sedangkan aku ingin tumbuh
bercabang, berdaun, dan berbuah?

Kutanam kamu
di hatiku yang lain
di tempat tak ada yang lain
selain kamu dan Tuhan.

Tapi,
aku ingin ada kamu.

Kamu adalah aku.

Galela, 2021.

=========

DI DEPAN PINTU DEMOKRASI

Di depan pintu demokrasi
kau berdiri kemudian dengan
bangga berkata padaku,

bila kau
dingin dan rindu
datanglah padaku
sebagai isyarat,
pelengkap, dan pengingat

Baca Juga  JK: Covid-19 Virus Ganas, Tidak Bisa Diajak Berdamai

mendengarnya
dadaku berdebar
tubuhku gemetar

tapi aku telanjur
tahu maksudmu
sebab sedari dulu—–
kau, memang begitu
minta dikecup
minta dipeluk
padahal busur panah
sudah kau arahkan
tepat ke dadaku.

Kini
tak usah lagi kau berbelit
sebab aku tahu
cara kau mencintaiku.

Di depan pintu demokrasi
rindu adalah mulut yang
bertahun-tahun dibungkam.

2021.

=======