Empat Puisi Wirol Haurissa

oleh -14 views
Link Banner

Debu

hujan paling tua turun. matahari berkilau di antara pepohonan. rumah yang sepi kembali ramai.

di atas bukit seorang lelaki mengucapkan kalimat berbahagia dan semua orang bersandar padanya. karang-karang laut disusun menjadi rumah, orang-orang kudus mengukur jalan di antara ombak dengan layar yang tak patah-patah sambil bertemu ribu-ribu mata berlutut dengan berat.

di kursi-kursi terdapat bermacam kelompok umur yang mendengar cerita ayat-ayat dan menyanyi lagu solid dan berayun. siapa tahu malaikat-malaikat menari sambil memetik senyum menjadi hasil dari sepucuk semasanya, tumbuh setelah petani memberi tempat dan menyiramnya.

dan kami belajar untuk percaya; kalau-kalau kami adalah belaskasihan tuhan, sebuah bentuk debu yang surgawi.

7 September 2020

=========

Baca Juga  Jumlah Pasien Covid-19 di Maluku Utara Melonjak Jadi 41 Kasus

Inilah Harapan

di dekat pagar pantai
aku melihat ikan besar kecil
berputar-putar sendiri,
di samping mereka ada ikan-ikan lain
menciptakan arus.
serentak mereka berputar
kembali berputar-putar
putar berkembang,
tenggelam dan muncul berkali-kali
berputar-putar.
datanglah ombak secara beruntun,
mereka diombang ambingkan
masuk dan keluar.
belum lagi baling-baling kapal
berputar ke atas dan ke bawah,
ke kiri dan ke kanan, air yang dalam.

inilah harapan

di dekat pagar pantai. banyak pasir yang digenggam, biarlah tiupan angin menyaringnya ke dalam kata; sudah hampir malam. lihat sebuah protret atin setelah cerita ikan-ikan.

_10.8.2020

========

JFL 1951

ini sebuah catatan atau bunga
ingatan penginjil dan kelembutan matahari
terbenam tenang.

Baca Juga  Panitia Pusat HPN 2021 Bertemu Kominfotik Pemprov DKI Jakarta

betapa sederhana prinsip itu, siapa membenci satu ikatan, membenci yang lain.

dan di udara tinggi yang bersatu dengan semuanya
dia meninggalkan gelap di antara pepohonan yang hijau dan angin yang lapang.

benar bahwa setiap orang akan meringankan beban mereka ke tanah.

dan aku ingat; bagaimana kayakinan-kayakinan jatuh bangun di lantai. di saat bersamaan aku melihat senyumnya bersinar seperti cahaya lembut di wajah humanis kumis tipisnya.

sering dia bilang dengan wajah tak terbaca musim. silakan mendengar dan mencatat sebagai bagian dari ingatan. kita membaca apa yang dicatat dan membaca ulang catatan, dan menceritakan kembali. akhirnya kita temukan pertanyaan dan kebenaran itu seperti jalan baru ke pemandangan baru.

Baca Juga  JMSI Serahkan Berkas Pendaftaran Tahap Awal Sebagai Persyaratan Calon Konstituen Dewan Pers

Suli, 31 Oktober 2020

========

Sedikit Lagi Banda

di dekat gunung api. kulihat seorang wanita memotret orang-orang berkeliling di antara sepasang angin dan sepasang rindu yang berdekat-dekatan. tentang semua yang diambil di depan camera akan menjadi lebih muda setelah beberapa tahun akan lebih dewasa.

katanya padaku saat dia menyimpan semua bagian, belakang tubuhku untuk dikemudian hari melihat kembali kenyataan di depan. tetap di depan wajah.

Banda Naira, 18 Februari 2020

======