Empati & Kesetiakawanan

oleh -247 views
Link Banner

Penulis: Sofyan Daud

Bolito si no sogoko beda, munara mega la yo dadi”. — Jika teledor pertajam perbedaan, saling lempar kesalahan, saling membantah, maka pekerjaan apapun tak akan selesai. (Dolabololo Tidore)

Link Banner

Empati dan kesetiakawanan sangat dibutuhkan menghadapi situasi krisis seperti sekarang ini.

Dua modal sosial itu sudah sangat membantu suatu bangsa atau suatu daerah mengendalikan dampak krisis.

Empati mendorong aparatur negara memberikan kebijakan dan pelayanan terbaik, dan warga memberikan partisipasi, dedikasi terbaik.

Begitu, setiap individu secara sadar penuh kerelaan memberi hal terbaik yang dimilikinya untuk memperkuat yang lemah, melengkapi yang kurang, memurahkan yang mahal, mempercepat yang lamban, memudahkan akses pada kebutuhan yang sulit didapat, dst.

Indonesia, dan khususnya Maluku Utara, yang katanya religius, menjunjung filosofi Bari (Gotong Royong), “Duka se Goru (kasih dan sayang), Cing se Cingare (pengayoman), kini sedang diuji hebat. Bisakah kita generasi kini membuktikan kekuatan kearifan itu?

Jika ya, kita pasti sedih melihat warisan kearifan-peneladan dari leluhur itu, kini mulai digerus pragmatisme “memancing di air keruh”, atau tabiat buruk “cari untung di tengah situasi sulit”.

Baca Juga  Respi Mulia ditemukan Tim SAR Sudah tak Bernyawa

Barang dan kebutuhan penting langka. Harga-harganya melonjak. Bukan hanya masker, vitamin, suplemen, disinfektan. dll Guraka (jahe) dan kawanannya pun kini harganya “bakage” melonjakl.

Kita pun sedih, mendengar sekelompok pelaku usaha jasa transportasi meminta kenaikan tarif. Juga beberapa tuntutan yang bersifat keinginan kepentingan, bukan kebutuhan.

Kita lebih sedih, heran juga malu, mendengar sekelompok warga, saudara kita sendiri, menolak rencana pemerintah menggunakan gedung tertentu untuk tempat karantina ODP atau PDP, karena fasilitas ruangan RSU memang terbatas, sementara harus juga melayani pasien umum yang puluhan, ratusan orang.

Sudah begitu individulitik kah kita. sehingga mulai mengidap sifat “Nyinga ma tamoi” (hanya memikirkan diri sendiri)?

Sudah begitu minimkah solidaritas dan kesetiakawanan di antara kita. sehingga mulai bermental “Matai Gahi” (berbuat, bertingkah seenak masing-masing)?

Bagaimana bisa kita tega membuat sitiasi krisis, yang sudah rumit jadi makin rumit, dan berat?

Bagaimana bisa kita menolak rencana pemerintah menyediakan tempat karantina untuk saudara kita yang baru pulang dari daerah yang sudah terjangkiti virus corona, agar mereka bisa diisolir. diawasi selama 14 hari, untuk memastikan mereka tidak terefenksi atau berpotensi menginfeksi orang lain.

Baca Juga  Kapolda Malut Pimpin Penyaluran Bantuan kepada Warga Terdampak Covid-19 di Kecamatan Ternate Selatan

Bagaimana kita menolak rencana pemerintah menyiapkan tempat yang baik untuk membantu penyembuhan saudara kita yang sakit, yang terinveksi virus maut ini?

Bagaimana bisa kita tak setuju, pemerintah mencari tempat yang baik dan aman, mengisolasi petugas kesehatan yang pernah melakukan kontak dengan pasien positif corona.

Mesti ada tempat representatif, agar petugas kesehatan yang melayani ODP atau pasien posistif corona, bisa beristirahat dengan baik saat pergantian shift. Bisa membersihkan tubuh, pakaian dan peralatan yang mereka gunakan saat bertugas agar kembali steril.

Tak sedihkah kita, para petugas kesehatan itu berada dalam tekanan psikis hebat dalam bertugas. Mereka menyelematkan jiwa orang lain sambil menjaga jiwa mereka sendiri, jiwa istri, anak dan keluarga.

Jika menggunakan APD, lamanya 8-12 jam. Tak nyaman bergerak. Mesti menahan beol dan pipis atau harus mengenakan pampers. Lelah, ngantuk mereka bersandar sebentar dengan APD lengkap.

Mereka sebaiknya jangan pulang ke rumah setiap hari, agar tak potensial membawa virus ini ke rumah. Mereka butuh tempat istirahat. Butuh perlakuan khusus untuk imunitas, konseling, pemeriksaan kesehatan khusus dan rutin.

Baca Juga  Tingkatkan Kekompakan, Balai TN Aketajawe Lolobata Lakukan Family Gathering di Pulau Morotai

Saya sendiri merasa “bresengsek” belum bisa memastikan adakah “reward”? Adakah jaminan asuransi jiwa mereka juga jaminan keluarganya? Setidaknya rasa hormat dan rasa terima kasih.

Sudah begitu melorotkan rasa kemanusiaan kita sehingga menjadi begitu tega, seolah kita tak punya lagi kepekaan dan kepedulian pada situasi krisis hebat ini?

Katakan, Itu bukan kita! Bukan identitas kita di Maluku Utara.

Kita adalah “Marimoi Ngone Futuru” – bersatu kita kuat. Kita adalah “Maku Eli se Dodara” – saling melindungi dan saling menjaga. Kita adalah “Maku Duka, Gogoru se Rasai’ – saling mengasihi, menyayangi, dan penebar kebaikan.

Kita sejatinya generasi akhir zaman yang patut bertekad, mengambil hikmah dari cobaan dan musibah ini dari situasi krisis ini untuk menegakan wasiat leluhur (papa se tete se gosimo) tentang, Bari, Marong, tentang Marimoi Ngone Futuru, tentang Limau ma dade ma bara jiko se doe (dehe) – pulau-pulau berjejer berdekatan dalam rangkulan teluk dan tanjung. (*)

Sofyan Daud: Politisi, Penulis dan Budayawan

Link Banner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *