Enam Puisi Tanah Beta

oleh -61 views
Link Banner

Suara Protes dan Kemerdekaan Indonesia

Tuan bolah ambil hati ‘ku
tapi tidak untuk hutan ‘ku
tidak untuk lautan ‘ku
tidak untuk nafas hidup ‘ku
Tuan boleh ambil hati ‘ku
jangan bungkam isi kepala ‘ku
jangan kungkung kebebasan ‘ku
jangan bunuh perjuangan ‘ku
Jika tuan masih saja rakus
lalu ingin menghunus
lalu ingin menggerus
lalu ingin merebus
Jangan salahkan aku
suara protes akan menampar tuan yang keparat
jangan salahkan aku
suara protes akan membunuh tuan yang laknat


Maret 2020

=========

Misal Kau Jelata

Misal kau jelata
papah lalu terlunta-lunta
memakan sampah sampai muntah
aku, penguasa, hanya menganga
Misal kau jelata
kumuh, tulang-tulang ternganga
meracau di atas trotoar kota
aku, penguasa hanya menganga
Misal kau jelata
hidup susah tiada bersaudara
perih duka, tumbuh luka
aku, penguasa hanya menganga
Missal kau jelata
lalu mati di atas tumpukan sampah
dibuang pada trotar kota
penuh duka terbungkus luka-luka
Mana mungkin, aku penguasa
hanya melihat jelata teraniaya
sedang di hati, perih menyayat jiwa
terbakar, lumpuh, lalu mati membawa dosa.

Baca Juga  Budayawan Maluku Utara Hadiri Malam Literasi di Kelurahan Topo

Agustus 2020

Link Banner

=========


Ada Itu Mati


Ada pemulung terlunta-lunta di jalanan
ada tukang becak mengayuh keringat tak berkesudahan
ada demonstran teriak-teriak kebenaran
tapi siapa melihat?
sahdan jutaan kepala tertunduk
mata terpejam kebutaan
Ada anak kecil bertelanjang dada kehujanan
ada pedagang asongan berjualan menutup kemelaratan
ada sejuta kebenaran terkungkung dalam pingitan
tapi siapa mendengar?
sahdan jutaan kepala tertunduk
telinga tuli tiada kedengaran
Ada pengemis merengek kasihan
ada pengamen gembira menadah rupiah
ada buruh meringkih tak berkesudahan
ada nelayan na’as di lautan
ada petani terbunuh hasil tanaman di hutan
tapi siapa menjama?
sahdan jutaan kepala tertunduk
tubuh mati rasa dalam meraba
Lalu yang pongah terbahak di tiang gantungan
lalu yang hidung belang memecah tawa di gedung megah
membunuh, menghimpit rakyat dengan bebatuan
Mati sejadinya jelata
hidup menelan kepahitan air mata
sahdan tuan, sahdan nyonya
belas kasih serupa tuba ditelan tiada merdeka.


Ureng, Juli 2020

======

Di Mana-mana Politik


Di mana-mana politik
di mana-mana politik
Tapi ejkonomi rakyat mati
tapi ekonomi rakyat mati
Politik-ekonomi
Ekonomi-politik
Rakyat dijual
rakyat dibual
rakyat jadi tumbal
rakyat jadi berandal
Di mana-mana politik
tapi ekonomi rakyat mati

Baca Juga  Az Alkmaar Tempel Ketat Ajax Amsterdam di Klasemen Liga Belanda


Mei 2020 

========


Jangan Jadi Penyair di Kota ‘ku


Di kota ‘ku
Tak ada ruang untuk puisi
Kalau jadi penyair, saku harus punya isi
Biar cepat dapat tempat menepi

Jangan jadi penyair di kota ‘ku
Tak ada ruang untuk puisi
Semua dilelang untuk politisi
Tak penting kepenyairan hidup di sini

Kalau tak percaya,
Main-mainlah ke kota ‘ku
Di sini banyak cerita buli
Penyair mati terhimpit puisi sendiri

Di kota ‘ku
Tak ada ruang untuk puisi
Koran-koran kota tempatnya politisi
Penyair hanya bisa di pojok jalan menuju mati.

Ambon, 2019 

========


Uang Rampas Ruang


pada senyum terkulum duka lara
cinta hadir dalam suka
kadang-kadang segalanya ingin melayang
sesumbar menyiram dengan kebahagiaan

adakah ruang uantuk cinta hidup?
Setelah uang menari-nari dikepala tuan perintah
Mana ada cinta yang tidak luka?
Jika ruang hidup terus dibunuh uang
Sementara beratus tahun sebelumnya,
Kita adalah hasil perut bumi tergerus

Baca Juga  Diduga Suspect Corona, Satu Warga Halbar Dirujuk ke RSUD Ternate

Uang rampas ruang
Problem agraris jadi roman teraniaya hidup petani
Dibuli pemerintah dengan dalih kekuasaan
Sudah itu para abdi … ahh…
Mungkin mereka pembunuh bayaran

Uang rampas ruang
Korporat, koruptor, bermain bebas bahagia
Konglomerat, rentenir bermain dua muka
Ruang yang mana untuk melarat? Haa banyak.
Uang begitu kuasa melebihi Tuhan.

Nurani, moral, kemanusiaan hilang ruang
Serakah, rakus, pembunuh bebas memilih ruang
Semua kuasa uang
Kejahatan terus berulang

Uang rampas ruang
Kejahatan rampas kemanusiaan
Korumpsi rampas kesejahteraan
Abdi negara bebas bermain pentungan

Uang rampas ruang
Cinta dirampas kebencian
Kehidupan dirampas kematian
Tuan mana mau menjadi miskin untuk orang melarat?

Uang rampas ruang
Tanah dirampas
Laut dimonopoli
Mati, dibuang tiada manusiawi.

Agustus 2020

=======

Tentang Penulis
Tanah Beta alias Adam Makatita adalah seorang pegiat literasi juga aktivis di kota ambon, beberapa karyanya penah dimuat di media Online EkspresiMaluku.com, Lintas.com juga pada blog kompasiana.com/tanahbeta. Aat ini penulisa sedang menjalani studi akhir di IAIN Ambon, Jurusan Jurnalistik.