Epilog Hujan dan Secangkir Kopi Terakhir

Cerpen Karya: Rudi Tri Awan

Seperti hujan yang jatuh ke bumi. Semua rintik air yang turun akan dengan ikhlas berhenti. Seperti itu, rindu kepadamu akan juga ikhlas melupa dengan sendirinya. Memang kisah kita belum genap setahun, tetapi kau meninggalkan luka dan penuh kenangan. Kau lupa dulu asa yang kita bina? Kini semua sirna tak tersisa. Kita dahulu pernah bermimpi merajut angan bersama dan mendamba akhir yang bahagia, tetapi rasa pahit yang harus aku terima. Kau memilih pergi tanpa sedikitpun meminta maaf kepadaku dan aku berupa untuk mengikhlaskan kepergianmu.

Aku masih ingat jelas dua cangkir kopi dan obrolan kecil kita waktu hujan mengguyur alam semesta dan semua itu terangkum dalam benak kepalaku. Ingatan tentangmu terus menelusuri pikiranku dan kepalaku terasa ingin memuntahkan rasa rindu tentangmu.

“Hai, apa kabar?” Ucapku singkat. Kepada seorang perempuan yang sedang duduk di salah satu meja di pojok ruangan kedai kopi.
“Hai juga.” singkat ucap perempuan itu. Sambil melambaikan tangan ke arahku.

Seorang perempuan yang dulu pernah bersanding denganku dan selalu jadi tempatku merebahkan rasa sedih hatiku. Ia juga perempuan yang aku sakiti dulu. Aku memberi ia luka tanpa mengobatinya. Aku pergi bukan karena tak mencintainya lagi, tetapi aku pergi untuk membuktikan kepadanya bahwa kopi rasanya tak enak di lidah dan pahit yang ia katakan dahulu semua akan aku hapus dengan manisnya Cappucino Coffe buatanku sendiri.

“Silahkan di minum kopinya, selagi masih panas.” Ucapku kepadanya.
“Iya, terima kasih.” Balasnya singkat.

Kopi tegukan pertama.
Aku dengan sengaja membuatkan ia kopi yang istimewa. Aku mempelajari kopi ini langsung dari petani kopi di sekitar lereng Gunung Sumbing daerah Wonosobo. Dari awal memanen kopi sampai melalukan Roasting Bean dengan wajan yang panas dari asap yang menyesakkan hidung.

“Enak kopinya der. Aku tak menyangka kopi ini begitu nikmat.” Katanya. Tegukan yang ia rasakan menjelaskan betapa enaknya kopi itu.
“Jelas enak, itu buatanku.” Balasku cepat. Aku merasa kopi adalah penenang hati yang lagi kacau balau, karena rasanya yang nikmat dan warnanya yang pekat.
“Dari kapan kau bisa membuat kopi der?” Ucapnya kembali.
“Ini kedai kopiku. Aku baristanya juga.” Jawabanku atas pertanyaannya.
“Wah, kau hebat Deri.” Ucapnya dengan terkagum-kagum. Tanpa sedikitpun kata terucap dariku dan aku hanya memberi senyuman.

“Alia kau tahu kenapa aku pergi meninggalkanmu dulu? Itu karena aku menjelahi nusantara untuk menelusuri biji-biji kopi dan semua itu aku buktikan kepadamu. Karena itu, aku pergi meninggalkanmu.” Ucapku. Membuyarkan ia sedang enak-anaknya menenguk kopi itu.
“Kenapa kau tak bicara padaku der.” Balasnya. Ia berdiri dan dengan sangat geram ia membentakku. Aku tak ingin semua pelanggan kedaiku pergi karena pertengkaran ini.
“Duduklah. Aku ingin bicara baik-baik Alia. Jangan bertengkar karena masalah semacam ini. Aku tak ingin semua pelanggan kedaiku pergi.” Jawabku. Dengan suara yang lembut aku menyuruhnya duduk.
“Kau bilang macam ini! Kau pergi tanpa ada kejelasan dan kau bilang cuma masalah semacam ini saja. Apa kau tak tahu luka yang kau beri dulu, kini semua masih melekat pada hatiku. Entah apa yang aku rasakan saat ini yang pasti aku masih merakan perih luka darimu.” Ucap Alia. Semua perasaan hatinya telah ia muntahkan pada pertemuan ini dan aku hanya bisa meratapi penyesalan dari apa yang aku perbuat kepada Alia.
“Sudahlah Alia jangan bertengkar. Aku tak mau semua pelangganku pergi dari sini.” Jawabku. Sekali lagi aku ingin menenangkan hati Alia yang sedang marah.
“Lalu aku harus bagaimana? Membiarkan luka yang kau cipta dan aku harus menelan sumua luka itu. Aku cuma ingin penjelasan darimu.” Ucapnya lantang. Tanpa basa-basi ia mengeluarkan semua luka yang menyayat hatinya.
“Baiklah tunggu sampai kedaiku tutup. Aku akan menjelaskan sejelas-jelasnya kapadamu.” Jawabku.
“Baiklah aku tunggu sampai kedai ini tutup dan aku pesan secangkir kopi ini lagi.” Ucapnya. Kayaknya kopi itu sedikit menyembuhkan lukanya pikirku. Buktinya ia memesan sampai cangkir kedua.
“Baik tunggu sebentar.” Jawabku. Sambil menuju ke tempat meracik kopi.

Secangkir kopi kedua.
Dengan cepat aku meracik kopi untuknya. Aku tak ingin ia menunggu lama dan jelang beberapa menit kopi pesanannya sudah kembali tersaji di atas meja.
Dan tak terasa jam menunjukan pukul 22.00 WIB itu adalah jam tutup kedai kopiku. Dua pegawaiku aku izinkan pulang terlebih dulu. Lalu aku menuju meja di mana rasaku masih tertinggal di sana.

“Alia aku tak ingin kau menyimpan luka itu. Jika kamu ingin aku merasakan luka yang sama maka bunuhlah aku. Disini. Aku tak akan melawan perasaanku sendiri.” Ucapku. Tak ada sedikitpun suara keluar dari mulutnya, karena Alia masih meminum kopinya.
“Kau lebih dulu membunuhku. Kau membunuhku tanpa sedikitpun menikam ragaku. Lukamu sudah menyayat hebat pada hatiku.” Balasnya. Jelang beberapa detik setelah meneguk kopinya.
“Maaf jika aku telah membunuh rasamu. Aku tak bermaksud membunuh semua perasaanmu padaku.” Ucapku. Sambil ingin memegang tangan Alia, tetapi Alia melepaskan tanganku dan membuang muka ke arah jendela kaca yang di luarnya masih terlihat hujan turun.
“Aku ingin kamu pergi dari hidupku. Aku sudah punya tunangan dan aku ingin menikah bulan depan.” Balasnya. Dari pelupuk mata Alia air mata pun ingin menetes, tetapi dengan tanganku, aku hapus air mata yang menetes.
“Bukan maksudku ingin menjadi perusak hubungan kalian, tetapi hari ini aku ingin menjelaskan kenapa aku meninggalkanmu dulu. Itu saja Alia. Baiklah, aku akan pergi dari hidupmu, asal kamu memaafkan kesalahanku.” Ucapku. Tanganku masih saja mengusap air mata yang keluar dari matanya.
“Sudah aku maafkan sejak dulu. Aku tak bisa membenci orang yang aku cintai.” Balas Alia. Alia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ternyata sebuah undangan pernikahannya dan sebuah buku.
“Ini apa Alia?” Tanyaku.
“Ini undangan pernikahanku dan ini buku untuk kamu. Buku ini adalah rumah bagi puisimu tentangku. Aku tahu kau suka berpuisi tentangku. Lewat sosial media aku mengetahui itu semua. Aku suka, mungkin ini buku berguna buatmu.” Balasnya. Alia memberikan undangan dan buku itu ke tanganku.

Setelah Hujan Reda.
Terlihat rintik hujan di luar kedai sudah mulai berhenti. Lalu aku memutuskan untuk menyudahi sandiwara cinta ini. Aku memang lelaki pecundang yang tak mau memperjuangkan cintaku pada Alia.
“Hujan sudah reda, mari saya antar pulang Alia?” Ajakku. Alia masih menikmati kopi terakhirnya itu.
“Tidak usah der. Aku hanya mau tanya; apa kau tak mau memperjuangkan cintamu.” Balasnya. Aku terkejut dengan ucapannya itu. Ternyata dia juga masih mencintaiku dan berharap bersanding bahagia bersamaku. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: