Felix Nesi

oleh -46 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Peneliti Politik dan Militer

Saya marah ketika mendengar Felix ditahan. Saya bisa maklum mengapa dia meledak, marah, dan menghantamkan helmnya ke jendela -jendela di pastoran SMK Bitauni.

Saya selalu membayangkan Felix seperti Am Siki, tokoh di novel “Orang-orang Oetimu” yang ditulisnya itu. Am Siki adalah seorang pengelana, penyendiri, namun mandiri; yang tidak pernah berusaha menjadi nabi atau pemimpin, namun kata-kata dan jampi-jampinya diikuti orang; yang kesetiaannya pada pohon Lontar dibawanya sampai mati.

Saya membayangkan watak Am Siki itu keluar ketika Felix menghantamkan helmnya. Mirip sekali seperti ketika Am Siki membunuh lebih dari sepuluh serdadu Jepang dan membakar kamp kerja paksanya.

Link Banner

Mungkin juga seperti Am Siki, yang menolak menghubungkan tindakannya membunuh serdadu-serdadu itu dengan usaha menyelamatkan bangsa. “Saya membunuh bukan untuk menyelamatkan Bangsa” kata Am Siki. “Saya membunuh untuk menyelamatkan kuda saya.”

Felix mungkin marah bukan untuk menyelamatkan gereja. Tapi dia mempunyai saudara-saudara perempuan, adik-adik, dan anak yang mungkin juga akan berurusan dengan orang-orang sejenis Pastor A yang diprotesnya itu. Orang-orang sejenis Pastor A itu bisa hidup nyaman di dalam gereja. Seperti benalu hidup nyaman di pohon-pohon besar yang subur.

Baca Juga  SBY Blak-blakan Kritik Jokowi: Kekuasaan Itu Bukan untuk Menakut-nakuti Rakyat!

Apakah Felix salah? Iya. Kasatmata sekali kesalahan dia itu. Jendela-jendela yang berantakan itu sudah jadi bukti. Saksi juga banyak.

Secara hukum, Felix kabarnya bisa dihukum lebih dari dua tahun penjara. Sebuah hukuman berat untuk seorang yang profesinya hanya sebagai penulis.

Persoalannya, apakah tindakan dan kemarahan Felix itu meniadakan substansi yang dia keluhkan kepada pejabat-pejabat gereja? Disini, Felix harus berhadapan dengan kekuasaan gereja yang angkuh.

Di tempat terpencil yang jauhnya lima jam dari kota Kupang itu, gereja dan para pendukungnya sangat berkuasa. Sangat logis bila polisi, aparat keamanan, dan negara dengan cepat berpihak pada gereja. Sodara mungkin sudah tahu betapa berpengaruhnya mereka yang menamakan diri Romo, Pendeta, Imam, Ustadz atau Ulama di negeri ini.

Bilapun gereja, imam-imam dan uskupnya berkata bahwa mereka sudah memaafkan Felix dan menyelesaikan masalah secara “kekeluargaan,” saya tidak yakin kalau polisi dan jaksa akan melepas perkara ini begitu saja.

Baca Juga  Keroyok Seorang Remaja, Tujuh Warga Bitung Meringkuk di Sel Tahanan Polsek Lembeh Selatan

Sekali lagi, orang seperti Felix adalah Am Siki. Dia berbahaya justru karena dia loyal pada prinsipnya. Loyalitasnya sekeras pohon Lontar.

Pihak negara tahu persis itu. Kalau dia bisa bikin kacau di gereja, dia juga bisa bikin susah negara dan aparat-aparatnya itu. Orang ini tidak bisa dibeli, disogok, atau diajak mengkorup proyek-proyek. Lagipula, sama seperti Am Siki, dia membuat sopi. Sodara tentu tahu siapa yang menguasai bisnis itu?

Banyak yang tidak sadar bahwa pihak yang paling bermasalah disini adalah gereja. Saya seringkali mendengar argumen seperti ini kalau ada penyelewengan di dalam gereja, ” “Sudahlah, kita ini minoritas. Sudah ditindas, aib dibuka pula!”

Argumen seperti itu, yang menjalar dari kepala sampai ujung kaki di dalam gereja Katolik, tentu saja sangat bermasalah. Aib harus dibuka, diperiksa kebenarannya, diakui keberadaannya. Gereja Katolik selalu adalah gereja yang berdosa. Apa salahnya gereja mengaku dosa di depan umatnya dan bertobat? Sama persis seperti yang diajarkan gereja kepada umatnya?

Baca Juga  Cekcok di Pasar Mardika, Suami Tikam Istri Hingga Tewas

Sudah terlalu sering status minoritas itu dipakai untuk menjustifikasi penyelewengan. Politisi-politisi (dan akhir-akhir ini juga para imam dan uskup!) memakainya untuk menakut-nakuti umat. Masih ingat justifikasi oelh politisi dan jendral-jendral Katolik untuk menganeksasi Timor Leste? Masih ingat keterlibatan para aktivis Katolik memanipulasi Pepera di Papua Barat? Masih ingat bagaimana gereja tanpa malu-malu ikut terjun dalam pertarungan politik karena alasan minoritas yang harus dilindungi?

Sekarang status minoritas ini juga harus dipakai menjustifikasi penyelewengan secara seksual kepada anak-anak dan perempuan?

Sama seperti Felix, saya pun marah sekali. Hanya sayang, saya tidak punya helm. Dan, tidak ada kaca-kaca jendela pastoran didekat saya. Kalau saya ada pada situasi seperti Felix, saya pun akan mengamuk.

Apapun yang dilakukan terhadap Felix, baik oleh pihak gereja maupun pihak negara, tidak akan mengurangi atau melebihkan substansi persoalan yang dia sampaikan. Gereja, khususnya para pemimpinnya, harus segera meresponnya dan membereskannya. (*)