Fenomena Politik Filipina Dinilai Bisa Terjadi di Indonesia, Mengapa?

oleh -21 views
Link Banner

Porostimur.com, Jakarta – Ferdinand Marcos Jr terpilih menjadi Presiden Filipina. Kemenangan ini menimbulkan protes dari warganya sendiri lantaran pria yang dikenal sebagai “Bongbong” ini merupakan anak mantan diktator Filipina Ferdinand Marcos Sr. 

Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI), Evi Fitriani, menilai kemenangan Marcos Jr ini bisa terjadi lantaran sistem demokrasi yang belum matang. Menurutnya, demokratisasi di Filipina sama mentahnya dengan di Indonesia sehingga banyak unsur yang tidak sempurna.

“Mungkin bedanya satu dekade dengan Indonesia, jadi banyak unsur-unsur yang tidak sempurna dan kemangan ini bagian dari ketidaksempurnaan itu,” kata Evi sebagaimana dilansir Liputan6.com di Jakarta, Rabu, (11/5/2022).

Evi mengatakan, budaya politik di Filipina belum menunjang sistem demokrasi, hal ini terlihat dari adanya pattern client.

“Jadi orang memilih karena uang atau mungkin karena hubungan pribadi karena persona pribadi si kandidatnya,” ujarnya.

Baca Juga  Berpenumpang 25 Orang, Kapal Kargo Pengangkut Nikel Hilang Kontak di Perairan Pulau Buru

Di Filipina, kata dia, dikuasai klan-klan keluarga yang kaya dan mendominasi kongres serta parpol sejak jaman dulu seperti keluarga Acquino dan Marcos.

“Jadi walau pun markos sudah dijatuhkan, namun proses hukumnya kan tidak tuntas. Malahan dalam waktu lima tahun, keluarganya bisa come back dan anaknya bisa memulai karir politik lagi lewat anaknya ini, mulai dari gubernur, kemudian anggota senat. Sebab mereka punya pengikut yang dulu diuntungkan sejak zamannya Marcos berkuasa,” kata dia.

Ditambah lagi, banyak masyarakat miskin dan tingkat pendidikan belum merata, sehingga rakyat mudah dibohongi. Terlebih dengan pemberitaan medsos yang memutar balik sejarah.

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia, di mana keluarga Cendana tengah berusaha membersihkan nama Presiden Soeharto.

Baca Juga  Pabrik Kelapa Sawit di Kobisonta Ambruk Akibat Gempa Beruntun Sabtu Sore

“Nah itu kan yang dilakukan Bongbong ini kan? Seakan-akan jaman si ayahnya Bongbong ini jaman keemasan Filipina. Nah ini mirip dengan yang di Indonesia, tapi di sana mereka mulai dari bawah, dari gubernur dan anggota senat, Markos Junior ini aktif tapi kan beda dengan di Indonesia yang keluarga Cendana tiba-tiba mau jadi ke kancah nasional,” kata Evi.

Sehingga, kata Evi, tidak menutup kemungkinan pilpres yang terjadi di Filipina juga bisa teradi di Indonesia. 

“Bisa jadi, Amerika kan jaman Trump juga begitu karena mereka hire PR yang begitu bagus dan mau melakukan pembohongan politik seperti itu. Pada Indonesia sendiri juga sudah mulai terjadi dari pemilu beberapa pemilu sebelumnya, hoaks banyak sekali,” ujarnya.

Baca Juga  Suzuki Saluto 125 Cocok buat Lawan Benelli Panarea dan Honda Scoopy

Untuk itu, dia meminta masyarakat Indonesia lebih cerdas serta peran media yang tidak disetir oleh kelompok-kelompok tertentu. 

“Karena kasus di Filipina ini yang banyak main ini media alterinatif yang disebar kelompoknya Bongbong dengan kekuatan uang mereka melakukan itu. Jadi media ini diperkuat, kelompok sipil diperkuat untuk membuat counter narasi,” tandas Evi. (red/liputan6)