Gaji 2,6 Milyar Per Tahun

oleh -183 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

SEBUAH artikel melintas di lini masa saya. Judulnya, “Mentari Semesta, WNI Kerja di Boston dengan Bayaran Rp2,6 Milyar Per Tahun.” Saya pun langsung ternganga. 2,6 milyar per tahun! Bayangkan uang sejumlah itu, Sodara-sodara!

“Maafkan aku ndeso banget tapi aku barusan dapet kerjaan impianku consulting di Boston dengan bayaran 2.6 milyar per taun I’ve never seen this much money in my life before,” demikian media mengutip cuitan si penerima gaji di Twitter.

Jumlah ini kira-kira sebesar US$175k per tahun. Jumlah yang besar bahkan untuk ukuran Amerika Serikat. Si penerima gaji adalah seorang PhD candidate di sebuah sekolah ternama di AS, Duke University.

“Aku bersyukur banget terlahir di keluarga akademik yang suportif. Ayahku dulu PhD di Inggris, sama kayak bidangku sekarang, molecular biology. Ibuku S2 di Indonesia dan sekarang dosen pertanian. Dari kecil difasilitasi untuk sering baca dan belajar. These are all real privileges,” demikian tulisnya.

A real privilege, indeed.

Tidak lupa media yang menulis artikel ini memuat tanggapan orang-orang atas gaji Rp 2,6 milyar per tahun ini.

“WOILAH KAK INITU KGAK NDESO JIRRRR THATS SUPER NORMAL REACTION Gue kl sebulan dpt gaji 3 digit gini pasti mak gue udah bangga”in gue ke tetangga sm sodara” smpe capek trs psti w udah punya rumah gede kek kluarga kaya di indosiar KEREN BANGET POKOKNYA SELAMAT YA KAK!,” demikian tulis seseorang.

Baca Juga  Wakapolda Maluku resmi dijabat Brigjen Pol Drs Hasanuddin

Sementara ada yang tidak menganggap penting gaji yang demikian besar. Dia ngiri gelarnya. “Begitu buka profile nya, Phd candidate..segaann..u deserve it mbak..congrats..aku ngiriii tp bkn ngiri 6digits nya, ngiri sm Phd nya hehe,” begitu cuitnya.

Oh ya. PhD adalah sebuah gelar aristokrasi baru yang diciptakan oleh imajinasi orang-orang Indonesia masa kini. Sebuah imajinasi yang anehnya juga bangga dipimpin presiden yang bercitra sebagai “tukang kayu.”

Ada juga komentar lain yang menarik perhatian redaktur media tersebut, “Selamat ya kak ga tau baca tweet kakak rasanya ikut senenggg, pdhal ga kebagian sepeserpun tapi semoga saya atau keluarga saya bisa tertular keberuntungan dari kakak yaaa.”

Saya tertarik dengan kata “keberuntungan.” Rp 2.6 milyar per tahun tentu saja adalah keberuntungan. Khususnya untuk orang-orang yang tidak mampu mencapainya. Saya, kamu, kowe, serta kowe … termasuk didalamnya!

Berita seperti ini selalu menarik perhatian saya. Menarik karena menceritakan tentang hidup seseorang yang “sudah selesai.” Ya, hidup yang sudah paripurna. Selesai.

Penghasilan seperti itu di Indonesia mungkin hanya bisa dicapai oleh anggota DPR. Bahkan Komisaris perusahan BUMN dari jalur relawan tidak akan mendapat gaji sebesar itu. Lagipula untuk menjadi Komisaris, Anda harus jadi relawan dulu. Untuk jadi relawan, Anda harus jadi aktivis dan pintar omong-omong Kiri dan kutip Marx, Che Guevara, atau minimal Tan Malaka.

Baca Juga  Konflik Ukraina dan Indonesia

Imajinasi yang muncul dari gaji besar itu sepenuhnya materialistik. Si penanggap pertama menulis kalau dia punya gaji segede itu, pasti “udah punya rumah gede kek kluarga kaya di indosiar.”

Tidak ada yang salah dengan imajinasi materialistik. Hanya saja, ia tumbuh dalam karakter masyarakat hyper-religius, yang menyerahkan semua urusan kepada Allah. Hidup, mati, dan rejeki adalah urusah Yang Maha Kuasa, demikian sering kita dengar.

Dan, terakhir, ada imaji yang lain yang tumbuh dari gaji US$176k per tahun ini. Banyak orang mengaitkan dengan kebanggaan kebangsaan. “Seorang warga Indonesia mendapatkan pekerjaan dengan gaji 2.6 milyar per tahun,” demikian kalimat pembuka artikel ini. WNI adalah bagian yang penting. Ia bukan WN Malaysia. Bukan Filipin atau Singapore. Bukan Jepang atau Korea. Apalagi Jerman atau Itali. Dia WNI!

Nasionalisme itu bisa sedemikian dangkal. Karena, entah mengapa, gaji yang dinikmati oleh seorang WNI ini membuat membuat orang-orang yang merasa diri juga WNI merasa turut bangga dan senang.

Namun ada yang hilang disini. Yang hilang itu adalah bagaimana orang yang menerima gaji itu, seperti yang dikatakannya sendiri, adalah bagian sangat kecil dari warga negeri ini, “the privilege.” Ini bukan cerita Cinderella, berawal dari kemiskinan dan ketidakadilan, kemudian menjadi istri pangeran.

Baca Juga  Biar Mereka Pakai Karung Pupuk

Sebaliknya, ini adalah cerita Paris Hilton, Ivanka Trump, atau Jared Kushner. Good looking, smart, and rich yang menjadi pintar dan kaya karena orangtua yang pintar dan kaya raya.

Ini adalah cerita tentang hidup yang sudah selesai. Dan kita dipaksa untuk mengaguminya.

Saya pernah membaca artikel dari seorang pemikir. Dia bertanya, mengapa kita merasa kasihan dan bersedekah kepada pengemis? Jawabnya sederhana: karena kita melihat kemungkinan bahwa kita bisa berada dalam situasi seperti itu dan berharap bahwa ketika berada disana akan ada orang yang murah hati bersedekah untuk kita.

Ketika membaca artikel ini, saya melihat kebalikan dari teori sedekah itu. Hampir seluruh pembaca tahu bahwa Rp 2,6 milyar itu adalah mimpi yang mustahil. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah kagum dan ikut senang.

Karena kita tidak mungkin iri. Hidup kita belum selesai. Kita harus tetap bangun pagi, sarapan nasi kucing, lari mengejar kereta, kerja keras sepanjang hari, dan pulang dikejar cicilan.

Kita kagun dan ikut senang. Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan. Karena hidup kita belum kelar. (*)

Link artikel: https://bit.ly/3OaOgHj

No More Posts Available.

No more pages to load.