Cerpen Karya: Amelia Carolina Rodriguez

Tidak!! hentikaan!!!”. aku berteriak berharap teriakanku dapat mengubah sesuatu, tapi sudah terlambat. Jleb!! Wening menusuk jantung haidar menggunakan pisau yang sudah berlumuran darah di tangannya.

Air matanya menetes tak berhenti ia sadar akan hal yang dilakukannya tapi tubuhnya tak bisa dikendalikannya. ‘Merri’ sudah menguasai seluruh anggota tubuhnya, hanya saja tidak dengan perasaannya.

Haidar terjatuh, jantungnya terlepas dari bilah pisau yang digenggam wening. Darahnya mengalir membanjiri lantai. Air mata Wening semakin deras menunjukkan penderitaan yang dialaminya saat ini.

Semua hal tragis itu membuat Merri semakin girang. Dia tertawa terbahak bahak menikmati suasana yang diciptakannya.

Wening mengambil kesempatan dari peristiwa itu. Dia melepas kendali Merri dan menikam dirinya sendiri dengan pisau yang telah dilumuri darah kekasihnya, kemudian tewas.

Roh merri tertarik masuk ke dalam gaun pengantin yang dikenakan wening, disini, aku bagaikan seorang penonton dari sebuah film yang amat menyayat hati.

Suara hujan memenuhi seluruh ruangan. Langit seolah ikut menangis menyaksikan peristiwa tragis yang dialami wening. Aku bersalah.

Andaikan aku menghentikannya memakai gaun pengantin misterius itu, Merri takkan mengambil alih tubuhnya dan membunuh semua orang yang disayanginya.

Aku mengambil pisau berlumuran darah itu dari tangan wening. Dan menusuk diriku sendiri untuk mengakhiri penyesalan dari kesalahan yang telah kuperbuat.

Suara hujan yang deras mulai tak terdengar seiring dengan kesadaranku. Kurasa aku akan mati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: