Gaza Menyalakan Ramadan dari Reruntuhan

oleh -5 Dilihat

Angin mungkin menerbangkan sebagian dari kertas itu.

Debu mungkin menempel di sudut-sudutnya.

Tapi warna-warna itu tetap menggantung, seperti senyum yang dipaksa lahir dari luka.

Di banyak tembok yang tersisa, para seniman menggoreskan warna.
Mereka melukis bendera Palestina, merah, hijau, hitam, dan putih yang berdiri tegak di atas tembok retak.

Mereka menulis Marhaban Ramadan dalam aksara Arab yang kokoh, seakan huruf-huruf itu sendiri sedang berdoa.

Seakan-akan mereka ingin berkata kepada dunia:
bulan suci ini tetap akan datang, dan kami tetap akan menyambutnya,
meski rumah-rumah kami telah diruntuhkan.

Di atas bongkahan beton, anak-anak duduk berderet.

Di banyak sudut Gaza, pemandangan itu berulang.

Baca Juga  Terpidana Korupsi Dana Gempa Marlin Mayaut Masuk DPO Kejari SBB

Bukan satu lokasi, bukan satu kamp, tapi di berbagai titik yang sama-sama porak-poranda.

Itulah kursi mereka.
Itulah teras mereka.
Itulah ruang keluarga yang tersisa.

Mereka menonton para seniman bekerja.
Mata mereka berbinar, wajah mereka cerah, seperti tidak ada yang runtuh di sekitar mereka.

Senyum-senyum kecil itu muncul begitu saja, seperti bunga liar yang tumbuh tanpa diundang.

Barangkali dunia akan bertanya:
bagaimana mungkin anak-anak itu masih bisa tersenyum?

Mungkin karena mereka tahu satu hal yang tidak pernah dipahami oleh tank dan bom:
bahwa hidup tidak hanya ditentukan oleh bangunan yang berdiri, tapi oleh hati yang menolak mati.

No More Posts Available.

No more pages to load.