Gegara Limbah Tambang, Warga Kusibibi Tidak Komsumsi Air PDAM

oleh -89 views
Link Banner

Porostimur.com | Labuha: Tambang rakyat di Desa Kusubibi, Kecamatan Bacan Barat, Halmahera Selatan, Maluku Utara (Malut) jadi ancaman bagi warga Kususbibi, pasalnya cemaran sianida dan merkuri mengancam keselamatan warga.

Dari data yang diterima awak media bahwa Asosiasi Pertambangan Rakyat Indonesia (APRI) Kabupaten Halmahera Selatan mencatat bahwa ada 15 pengusaha yang mengelola hasil tambang dengan menggunakan tong. Sementara dari masing-masing pengusaha memiliki lebih dari 1 tong. Total tong yang tersebar di area pertambangan sekitar 30 tong yang beroperasi.

Sedangkan pengelolan emas dengan menggunakan tong sangat berdampak pada pencemaran lingkungan, selain berdampak pada pencemaran lingkungan, pengelolaannya menggunakan campuran sianida, merkuri atau bahan kimia berbahaya lainnya yang dapat mengancam keselamatan jiwa manusia.

Baca Juga  Menkopolhukam: Papua Bakal Dimekarkan Jadi 5 Provinsi

Sementara itu, dari pengakuan warga bahwa sudah hampir dua bulan warga sudah tidak lagi mengonsumsi air yang bersumber dari PDAM. Sebab warga takut air yang dikonsumsi telah tercemari limbah tambang.

“Sudah hampir dua bulan warga Desa Kusubibi tidak lagi mengonsumsi air yang bersumber dari PDAM, Sebab kami khawatir air yang dikonsumsi sudah tercemari limbah berbahaya,” ungkap Hi Sadek, warga Desa Kusubibi, Senin (21/12/2020)

Hi Sadek yang juga merupakan Ketua Adat Togale Desa Kusubibi ini mengatakan bahwa saluran pipa PDAM sudah terlewati limbah tambang sehingga warga takut untuk mengonsumsi air yang bersumber dari PDAM

“Kami takut jangan sampai pipa itu ada yang bocor sehingga tecampur limbah,” ucapnya

Untuk itu, warga Desa kusubibi memilih mengonsumsi air sungai yang jauh dari lokasi tambang dengan menggunakan kendaraan roda dua untuk mengambilnya.

Baca Juga  Perjuangkan P4, Pemuda Pancasila Optimis Generasi Muda Terselamatkan

“Untuk sekarang warga peroleh air minum dari sungai yang jauh dari area tambang dengan menggunakan motor,” tandasnya.

Selain itu, kata Hi Sadek bahwa jarak pemukiman warga dengan tempat pengambilan air bersih itu 1 km, maka sebagian warga yang tak memiliki kendaraan terpaksa harus membeli air per galon dengan harga Rp10.000

Maka dengan adanya keluhan ini, dirinya juga berharap semoga ada perhatian dari pemerintah daerah “semoga ada perhatian dari pemerintah daerah, sebelum semuanya terlambat,” harapnya. (adhy)