Gelar Aksi, FMPD Meminta Polres Kepsul Tangkap Mertua Pemerkosa Menantu Tuna Wicara

oleh -38 views
Link Banner

[carousel_slide id=’11594′]

@porostimur.com | Sanana: Front Mahasiswa Peduli Demokrasi (FMPD), pagi tadi, Jumat (9/8) menggelar aksi Peduli Hak asasi Manusia (HAM) di depan Mapolres Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), Maluku Utara (Malut).

Mereka meminta agar polisi segera segera menangkap Daut Sapsuha, pelaku tindak kejahatan pemerkosaan terhadap menantunya sendiri hingga hamil

Korban Raulia Basahona (20) tahun adalah penyandang disabilitas (tuna wicara), yang kini dalam keadaab hamil akibat tindakan pemerkosaan dari mertuanya secara berulang kali.

Link Banner

Oleh sebab itu, FMPD mendesak Kapolres Kepulauan Sula agar segera menangkap pelaku.

Kepadaa porostimur.com, keluarga korban, Muhtadin Sapsuha menjelaskan dirinya telah melaporkan kasus pemerkosaan ini ke Polres Kepulauan Sula, pada tanggal 29 April 2019 lalu, namun hingga saat ini tidak ada perkembangan dari laporan tersebut.

Baca Juga  Kanwil Kemenkumham Malut Gelar Rapat Penguatan Pembangunan Zona Integritas WBK

Polisi menurutnya, menunda proses penyelidikan dengan alasan korban tidak dapat menyebutkan tanggal dan waktu kejadian. Padahal Polisi mengetahui bahwa korban adalah penyadang disbilitas.

“Kami dari pihak keluarga sangat kecewa, karena kasus ini jalan di tempat. Apalag polisi telah melepaskan pelaku Daud Sapsuha, setelah yang bersangkutan ditahan selama dua bulan,” tukas Sapsuha.

Setelah 15 menit melakukan aksnya, FMPD yang mengawal keluarga korban diterima oleh Wakapolres Kepsul, Kompol. Arifin La Ode Bury, KBO Reskrim, Ipda. Risal Mochammad, Penyidik La Jaya dan KBO Intel, Ruslan Tubaka SH.

Di hadapan Wakapolres dan anggotanya, koordinator aksi, Raski Soamole menjelaskan bahwa UU mengatakan setiap warga negara Indonesia sama di mata hukum. Akan tetapi kasus yang menimpa Raulia ini, polisi sangat diskriminatif.

Baca Juga  Nota Kesepahaman KUA-PPAS Maluku Tahun 2019 Ditandatangani

“Kami sudah mendatangkan pakar bahasa tubuh,mendatangkan psikolog dan dokter, dan ketiganya membenarkan bahwa korban diperkosa oleh mertuanya Daud Sapsuha hingga saat ini tengah hamil”, ujarnya.

Sementara itu KBO Reskrim Polres Kepulauan Sula, Ipda. Rizal Muhammad, menjelaskan pihaknya sudah bekerja keras untuk menuntaskan kasus ini. namun masih kekurangan bahan bukti.

“Hingga saat ini Reskrim dan penyidik selalu berkonsultasi dengan pihak jaksa terkait kelengkapan barang bukti. Ini untuk menghindar jangan sampai pelaku mengajukan gugatan prapradilan. Bisa malu kita kalau sampai kalah”, ungkapnya.(if/raka)