Gembong pengolah batu cinabar dibekuk Ditreskrimum Polda Maluku

@Porostimur.com | Ambon : Upaya warga di di Dusun Uhe Desa Iha, Kecamatan Huamual Muka, Kabupaten SBB, untuk mengolah maupun mengedarkan batu cinabar akhirnya berhasil diungkap Direktorat Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Maluku.

Hal ini dibenarkan Direktur Reskrimum Polda Maluku, Kombes Pol Gupuh Setiyono dan Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Mohamad Roem Ohoirat, di Kantor Subdit 1 Ditreskrimum Polda Maluku- Tantui, Selasa (20/3).

”Dari pengungkapan kasus tersebut, Tim Opsnal Subdit I Ditreskrimum Polda Maluku berhasil melakukan penangkapan terhadap 7 orang tersangka masing-masing, RS alias R, S alias Y, IK alias I, M, YR alias S, HK alias R dan AK alias D. Ditangkap di perairan Dusun Hulu, Desa Iha, Kecamatan Humual Muka, Kabupaten Seram Bagian Barat, pada Senin (19/3), sekitar pukul 02.00 WIT. Selain menangkap 7 orang tersangka itu, Tim Opsnal Subdit 1 Ditreskrimum Polda Maluku berhasil menyita sebanyak 71 karung, dengan berat keseluruhan mencapai 2.840 kg, atau seberat 3 ton,” ujarnya.

Saat penangkapan dilakukan, akunya, 7 tersangka ini melarikan diri menggunakan speedboat bermesin ganda 2 x 40PK, dari perairan Dusun Hulu menuju ke arah Pulau Suanggi, dekat Pulau Manipa.

Tembakan polisi yang diarahkan ke body speedboat, jelasnya, mengakhiri aksi kejar-kejaran dengan para tersangka di tengah laut.

”Dari keterangan 7 tersangka yang kini telah diamankan dirutan Ditreskrimum Polda Maluku,Penyidik Subdit 1 Ditreskrimum Polda Maluku menetapkan  RS alias R, warga Desa Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, sebagai tersangka utama dalam kasus tersebut sebagaimana teregister dalam laporan polisi nomor: LP-A 135/III/2018/Maluku/Ditreskrimum Maluku. Peranan RS alias R yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka utama karena diketahui sebagai pendana untuk mendanai peredaran batu cinabar yang diangkut dengan speedboat dari Dusun Hulu menuju ke arah Pulau Suanggi dan kemudian akan diangkut menggunakan kapal khusus menuju ke Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Kemudian batu cinnabar tersebut dibawa ke Kabupaten Sidrap untuk diolah menjadi mercury dan raksa,” jelasnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan, tegasnya, ternyata tersangka RS alias R, juga melakukan pembelian dan mengekspor batu cinabar sejak tahun 2017 lalu.

”Modus operandi yang dilakukan oleh tersangka RS alias R, berawal sejak Sabtu (25/11),  di Dusun Uhe Desa Iha, Kecamatan Huamual Muka. Tersangka membeli batu cinnabar sebanyak 700 kg dari warga Dusun Uleh, Desa Iha, berinisial D dan Y. Kemudian batu cinnabar tersebut dikirim dengan menggunakan kapal laut yang dinakodai oleh J, dengan tujuan Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan. Batu cinnabar tersebut di kemudian dibawa ke PT Parma, pengolah batu cinabar menjadi mercury dan air raksa yang berada di Kabupaten Sidrap, Provinsi Sulsel,” terangnya.

Dijelaskannya, RS alias R menerima rp 45 juta atas hasil pengolahan batu cinabar dari PT Parma, ditambah dengan modal sebesar Rp 140 juta pengumpul batu cinabar berinisial L.

Tersangka RS alias R, kemudian kembali ke Maluku untuk menjalankan bisnis pembelian batu cinabar, usai berhasil membawa batu cinabar ke perusahaan pembeli.

”Bisnis gelap batu cinabar tersebut terus dilakukan oleh tersangka di Provinsi Maluku tanpa diketahui oleh pihak Kepolisian yang hingga akhirnya baru diketahui pada bulan Maret 2018, oleh Tim Opsnal Subdit 1 Ditreskrimum Polda Maluku yang kemudian akhirnya dapat ditangkap bersama ke 6 orang tersangka lainnya di perairan Dusun Hulu, Desa Iha, Kecamatan Humual Muka,” timpalnya.

Menurutnya, sikap ini  menunjukkan keseriusan Ditreskrimum Polda Maluku menindaklanjuti penegasan Kapolri atas pemberantasan peredaran merkuri di Indonesia, yang lebih dititikberatkan pada wilayah hukum Polda Maluku sebagai salah satu daerah priotitas pemberantasan peredaran merkuri dan batu cinabar.

Pasalnya, di Maluku sendiri terdapat lokasi batu cinabar yang merupakan bahan baku pembuatan air raksa dan mercuri.

Terlebih, pada beberapa daerah di Maluku dikenal sebagai pengguna air raksa dan mercuri untuk aktifitas pengolahan pertambangan.

”Pengungkapan ini didasari atas penyelidikan informasi yang dari masyarakat. Sejak semakin ketat dan tegasnya Polda Maluku dalam melakukan penindakan terhadap aktifitas ulegal tambang Batu Cinabar, baik yang dikirimkan melalui kontener, kargo pesawat ataupun kapal penumpang yang disewa khusus, baik dari Makassar ataupun dari wilayah Maluku untuk menyelundupkan batu Cinnabar ini keluar dari Maluku, dan diduga dijual ke beberapa wilayah di luar Provinsi Maluku, seperti di Provinsi Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur dan Kalimantan,” pungkasnya. (keket)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: