Gempa M 5,8 di Ternate Pagi Tadi Karena Dampak Subduksi Lempeng Laut Maluku

oleh -151 views
Link Banner

Porostimur.com | Ternate: Gempa tektonik bermagnitudo 5,8 mengguncang Maluku Utara pada Kamis (30/1) pukul 06.46.58 WIB disebabkan subduksi Lempeng Laut Maluku.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat adanya subduksi Lempeng Laut Maluku,” kata Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (30/1/2020l

Hasil analisis BMKG menunjukkan episenter gempa terletak pada koordinat 0.76 LU dan 126.34 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 115 kilometer arah Barat Kota Ternate, Maluku Utara pada kedalaman 24 kilometer.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini memiliki mekanisme pergerakan sesar naik (Thrust Fault).

Gambar 1. Rona muka bumi kawasan Laut Maluku. Area di antara sepasang garis merah merupakan mikrolempeng Laut Maluku yang telah terdesak dan terbenam sepenuhnya oleh peristiwa tabrakan antar busur. Di sebelah barat (kiri) terdapat mikrolempeng Sangihe, bagian dari lempeng Eurasia yang mendesak ke arah timur. Sementara di sebelah timur terdapat mikrolempeng Halmahera yang mendesak ke arah barat seiring dorongan lempeng Laut Filipina. Sumber: Hamilton, 1979 dalam PusGen, 2017.
Rona muka bumi kawasan Laut Maluku. Area di antara sepasang garis merah merupakan mikrolempeng Laut Maluku yang telah terdesak dan terbenam sepenuhnya oleh peristiwa tabrakan antar busur. Di sebelah barat (kiri) terdapat mikrolempeng Sangihe, bagian dari lempeng Eurasia yang mendesak ke arah timur. Sementara di sebelah timur terdapat mikrolempeng Halmahera yang mendesak ke arah barat seiring dorongan lempeng Laut Filipina. Sumber: Hamilton, 1979 dalam PusGen, 2017.

Guncangan gempa dirasakan di Manado, Ternate, Sofifi, Jailolo, Tidore III MMI atau getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu.

Baca Juga  Pangdam Pattimura Goyang Kaka Enda dan Meti Kei Bersama Insan Pers

Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut.

Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa tidak berpotensi tsunami. Hasil monitoring BMKG juga mencatat hingga pukul 07.02 WIB, belum menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan (aftershock).

Gambar 3. Penampang melintang zona tubrukan antar busur di kawasan Laut Maluku dalam arah barat - timur. Nampak jelas kedudukan lempeng Sangihe dan lempeng Halmahera yang muncul di permukaan serta lempeng laut Maluku yang telah terbenam. Sumber: Zhang dkk, 2017.
Penampang melintang zona tubrukan antar busur di kawasan Laut Maluku dalam arah barat – timur. Nampak jelas kedudukan lempeng Sangihe dan lempeng Halmahera yang muncul di permukaan serta lempeng laut Maluku yang telah terbenam. Sumber: Zhang dkk, 2017.

Terkait kondisi tersebut BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Masyarakat juga diimbau untuk menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah.

Rumitnya bumi para raja selain menjadikannya sebagai kawasan seismik teraktif di Bumi juga membuat kawasan ini memiliki potensi terlanda gempa tektonik besar.

Baca Juga  Nona Ambon Sisca Monny Rilis Single Anyar “Hati”

Pusat Studi Gempabumi Nasional dalam Peta 2010 menunjukkan subduksi Parit Sangihe memiliki kemampuan membangkitkan gempa bumi tektonik dengan magnitudo maksimum 7,9.

Sedangkan subduksi Parit Talaud berkemampuan melepaskan gempa bumi tektonik pada magnitudo maksimum 8,1. Hal ini tentu bukan untuk ditakuti, melainkan untuk diantisipasi. (red/rtm)