Gigi Manyangkal Tutang

Penulis: Ida Azuz Sialana

Orang Maluku sangat mengenal peribahasa “gigi manyangkal tutang” ini. Maknanya mirip dengan peribahasa “seperti kacang lupa kulit” yang berarti seseorang telah melupakan orang sekitar yang telah berjasa dalam hidupnya. Lupa budi baik orang, begitu maksudnya.

Meskipun mirip maknanya, “gigi manyangkal tutang” tidak sekadar membicarakan tabiat seseorang yang tidak tau balas budi, tetapi maknanya lebih jauh dari itu karena berkaitan dengan tanah kelahirannya dan identitas kulturalnya.

Ketika ramai dibicarakan “darah” seseorang, peribahasa ini serta merta mengingatkan orang Maluku bahwa ada hal lain dari sekadar darah dalam arti keturunan biologis.

Tutang dalam bahasa Ambon artinya gusi. Gigi tidak mungkin berkembang dengan baik jika gusinya bermasalah. Namum gusi yang baik dapat ditumbuhi oleh gigi buruk. Gigi buruk yang berasal dari gusi sehat tentu saja karena pengaruh luar seperti pemiliknya tidak memerhatikan kebersihan mulut.

Gusi atau tutang menyediakan tempat berkembangnya akar dan badan gigi, tutang bekerja sejak awal dan selalu bekerja di dalam. Dengan kata lain, tutang merahimkan dirinya untuk gigi. Kitapun tahu bahwa tutang akan dibawa mati pemiliknya, sementara gigi bisa saja melangkah pergi meninggalkan rumahnya.

Peristiwa pergi meninggalkan rumah inilah yang berpotensi melupakan muasal bahkan mengkhianati identitasnya. Gigi berada pada posisi itu. Berpotensi pergi dan oleh karena pengaruh eksternal dia dapat melupakan habitatnya. Peristiwa politik praktis yang terjadi adalah contoh terbaik di depan kita. Ketika sudah memenangi percaturan politik, banyal gigi yang “manyangkal tutang” termasuk hutang. Banyak gigi bahkan tidak lagi mengenali tutangnya.

Orang Maluku menggunakan istilah gigi manyakal tutang sebagai peringatan keras kemungkinan itu. Melihat relasi dan analogi tampaknya mustahil, tetapi realitas penyangkalan itu tetap harus diperhatikan.

Seorang dokter gigi kerabat dekat saya yang ketika itu baru selesai pendidikan spesialis di bidang pembuatan organ gigi, geraham, mata, hidung, dan lainnya di seputaran wajah (Prostodontis) bercerita tentang gigi dan gusi dengan suara rendah dan bergetar.

Saat itu dua jam setelah Isya, kami berdua baru saja menyelesaikan tawaf mengelilingi ka’bah. Sambil duduk di tangga yang sejajar dengan multazam, tempat favorit kami, dia mengatakan bahwa gusi adalah salah satu organ di tubuh manusia yang halus dan lembut. Sedikit saja tersentuh, akan berdarah. Lalu yang halus itu Allah ciptakan mencengkram gigi dengan kuatnya.

Meski gusi itu halus, gigi sulit terlepas dari cengkeramannya, kecuali ada masalah. Sementara gigi adalah organ tubuh yang paling kuat dan susah lapuk seperti rambut. Itulah sebabnya rambut dan gigi sangat penting dalam kedokteran forensik sebagai alat identifikasi karena tidak rusak meski bertahun-tahun telah dikuburkan.

Dengan mata berkaca-kaca, Nona dokter Gigi Spesialis Prostodontis memandang Ka’bah lamaaa sekali. “Mungkin kita yang keras kepala ini harus datang kepada Dia Yang Maha Lembut agar kita tak kesasar, tetap pada posisi, seperti gigi yang keras itu dipegang oleh gusi yang lembut”. Rendah sekali suaranya dan semakin bergetar. Kami saling memandang dan pandangan kami semakin saling mengabur.

Saya lalu bertanya “apakah setiap dokter gigi memaknai gigi dan gusi dalam tatanan abstrak yang menauhid?” Dia mengangkat bahu. ” Saya tidak tau”, balasnya sambil tetap menatap Ka’bah, kali ini saya melihat ada yang melelehi wajahnya. ‘betapa Allah meletakkan pelajaran di mana-mana, termasuk dalam kelas Kedokteran Gigi, lalu saya kasian, ambil itu pelajaran”, imbuhnya pelan dalam dialek Makassar yang kental dan nyaris terisak.

Saya tau perjuangannya meraih spesialis prosto ini. Saya tau bagaimana dia membuat mata palsu, memperbaiki hidung yang rusak pada kelompok anak remaja tak mampu. Dia ketika itu berusaha dengan ilmunya memperbaiki yang rusak agar anak-anak yang menjadi pasiennya tidak minder dan dapat tertawa.

Saya katakan padanya bahwa kami orang Maluku punya peribahasa “gigi manyangkal tutang” (gigi mengingkari gusi) sebagai peringatan keras untuk tidak melupakan budi baik orang, tidak melupakan identitas diri dan budaya. Lalu saya menyambung ” sekarang saya lebih kaya lagi dalam memaknai peribahasa itu setelah mendengar penjelasan gigi dan gusi dari nona dokter.

Ketika saya membaca Qur’an, Saya menyempatkan diri mengirim alfatihah untuk Aba dan Ibu yang mengajari saya mengaji. Saya kira teman-teman yang beragama Kristenpun akan selalu mengenang guru “skola minggu” yang mengenalkannya pada ajaran Kristus ketika masih kecil. Pun mereka yang meski sudah dewasa selalu mengingat papa dan mama “sarani” yang biasa ikut tersenyum terharu menyaksikan anak saraninya berjalan pelan memasuki altar gereja untuk mengikuti Perjamuan Agung. Ingatan ini adalah tonggak penting perwujudan nyata dari “Gigi tar manyangkal tutang”, bukan?

Saya meminta keponakan saya memotret saya di Pantai Natsepa, Ambon dengan segelas kopi di atas batu. Saya ingin selalu memahatkan jejak semampu diri agar saya bukan gigi manyangkal tutang.

Dalam keseharian, saya berusaha keras, meskipun kerap tersandung, membawa serta nasehat itu ke mana-mana baik dalam konteks hablun minannas, terlebih lagi dalam hablun minallah. Saya semakin memeluk peribahasa kami untuk sedapat mungkin menjaga identitas diri, dan yang paling penting selalu harus kembali pada Dia Yang Maha Lembut. Sayalah gigi yang selalu mencari Dia Yang Maha Lembut, Tutang.

“Ingatang, jang macang gigi manyangkal tutang” kembali terngiang di batin saya.

Makassar, 26 November 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: