Gubernur Maluku Perlu Belajar ke Fatin Unru

oleh -339 views
Link Banner

Oleh: Hasan Bahta, Pemuda Buru Selatan, Maluku

Memang tidak mudah berbicara di depan umum, terutama kalau tidak punya kesiapan dan kemampuan komunikasi yang mumpuni. Itulah kesan yang dirasakan publik elit di Maluku saat melihat dan mendengar Gubernur Maluku Murad Ismail berbicara di depan banyak orang.

Bagi masyarakat awam seperti saya, merasa gampang saja dan mudah menyalahkan Pak Gubernur saat berbicara di depan umum ketika melontarkan kata-kata “kurang beradab” sebagaimana yang sering diperlihatkannya selama ini.

Kenyataannya, memang berbicara di depan umum itu gampang-gampang susah. Bahkan, ada yang sampai demam, panas tinggi, lidah keseleo akibat gugup, nervous dan takut saat berbicara di muka umum. Jika sudah berada dalam situasi seperti ini bisa berdampak fatal terhadap penampilan seseorang.

Menurut saya, kesalahan demi kesalahan public speaking yang dipertontonkan Gubernur Maluku selama ini adalah akibat dari kurang belajar dan latihan komunikasi. Untuk tampil maksimal dan sempurna seorang publik figur juga butuh latihan keras, sebagaimana yang dianjurkan penulis buku tips dan trik Public Speaking Surya Fazar, bahwa tiada sebuah penampilan yang sempurna tanpa latihan dan latihan lagi. Apa pun penampilannya, tidak ada yang sempurna apabila tidak diawali dengan latihan (belajar).

Bertolak dari asumsi diatas, saya mengajak Pak Gubernur Maluku jika tidak keberatan, untuk belajar komunikasi yang baik dan etik ke Fatin Unru. Apakah Pak Gubernur kenal Fatin Unru? Saya percaya, dengan belajar yang tekun dan benar dari Fatin, Pak Gubernur akan menjadi komunikator yang handal, bahkan jauh lebih memukau dari Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan bisa mengalahkan kehebatan Pak SBY dalam soal berbicara di muka umum.

Baca Juga  Misteri Rumah Jabatan Sementara Gubernur Maluku dan Dana Rp 5,1 M

Fatin Unru adalah seorang anak usia belasan tahun, tapi soal berbicara di muka umum dia mampu mengalahkan orang dewasa seperti saya, teman saya bahkan seorang gubernur, seperti Pak Murad. Dia seorang komika cilik yang setiap kali tampil selalu bikin gemes, setiap orang yang menyaksikan penampilannya pasti terkesima, tertawa dan terheran-heran. Bayangkan saja, seorang anak kecil itu mampu menghipnotis setiap orang dewasa juga anak-anai seusianya dengan kata-kata yang penuh santun, sopan dan penuh makna.

Yang bikin orang terheran-heran dengan Fatin adalah kemampuannya dalam merangkai kata-kata dalam menjelaskan sesuatu. Misalnya, saat dia mengkritik orang tua, tepatnya orang tua dia. “Nina Bobo, Nina Bobo, kalau tidak bobo digigit nyamuk, kebayang ngak sih teman-teman. Bagaimana sadisnya orang tua ngebully anaknya sendiri”, koar Fatin saat stand up comedy, yang mengundang tawa ribuan bahkan jutaan penonton baik di dalam maupun di luar studio.

Bayangkan saja, anak sekecil itu saat berbicara di depan umum, masih mampu memperlihatkan moralitas sebagai seorang anak, seorang manusia seutuhnya. Dia mencoba meluapkan kekecewaannya dengan tetap mengedepankan rasa hormat, rasa kemanusiaan terhadap orang yang dia kritik. Bayangkan jika yang berbicara bukan Fatin, tapi orang lain, orang ini? Apa yang terjadi, kata-kata apa yang bakal dikeluarkan.

Pak gubernur yang mulia, sebelum berjumpa pada momentum pemilihan kepala daerah yang akan datang. Sebagai warga Maluku, saya bermohon pak gubernur bisa belajar latihan kepada orang saya maksud, latihan yang tekun, telaten dan teladan ya pak. Sama seperti Chris Jhon, yang tak akan pernah menjadi petinju dunia apabila tidak latihan secara keras dan tekun. Begitu pula Michael Jordan, tidak akan pernah bisa menjadi pebasket dunia apabila ia tidak pernah masuk ke lapangan basket.

Baca Juga  Menanti Militansi Safitri

Prinsipnya, harus terbiasa dengan latihan yang keras dan tekun. Untuk terbiasa dengan hal itu harus dibiasakan. Jika terbiasa berbicara baik, sopan, dan benar dalam situasi apa pun seseorang pasti akan seperti itu, mengeluarkan kata yang enak dan mengundang empati orang lain. Bukan malah membuat orang lain muak dan marah.

Kata empati, menurut seorang psikolog Jerman Milton J. Bennet, berasal dari kata einfuhlung yang berarti “merasa terlibat”. Bennet memandang empati sebagai kemampuan untuk membayangkan pikiran dan perasaan orang lain dari perspektif mereka sendiri. Mendengarkan suara rakyat dengan penuh empati sama dengan meningkatkan harga diri mereka dan pada gilirannya mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang kita lakukan.

Pak gubernur yang baik hati, mengapa saya anjurkan hal seperti itu. Karena saya yakin, orang-orang di sekeliling Anda, sebenarnya sudah bosan dengan sikap anda selama ini, hanya saja Anda masih berkuasa, memegang kekuasaan, menjadi orang nomor satu di Maluku, sehingga mereka diam, tak berkutik, sok tenang di hadapan Anda. Namun, dibalik bayangan Anda, luapan kekecewaan mereka sudah terlontar, jika di depan mereka saat itu ada poster atau foto Anda pasti sudah (maaf) diludahi, saya yakin itu pak gubernur. Karena itu, segera perbaiki komunikasi pak gubernur yang kurang respek itu. Sebab memperbaiki kualitas komunikasi sama dengan memperbaiki kualitas diri dan identitas sendiri.

Jika pak gubernur merasa tidak nyaman belajar ke Fatin Unru, karena usia yang masih terlalu kecil. Tenang saja, masih banyak guru public speaking di Republik ini. Tapi saya lebih cenderung mengajak pak gubernur bertemu dengan seorang dosen Komunikasi Pembangunan yang handal di Indonesia namanya Sumadi Dilla. Dalam bukunya Komunikasi Pembangunan Pendekatan Terpadu, Sumadi mengatakan, peranan komunikasi dalam pembangunan merupakan sebuah kunci keberhasilan suatu pembangunan daerah (bangsa dan negara). Tanpa adanya komunikasi di antara perencana dan sasaran pembangunan, pembangunan tidak akan berhasil seperti yang diharapkan. Masyarakat sebagai sasaran pembangunan jarang, bahkan tidak diikutsertakan dalam perencanaan dan pelaksanaannya sehingga hanya sebagian kecil orang yang dapat merasakan manfaat dari pembangunan.

Baca Juga  Joaquin Phoenix Perankan Napoleon Bonaparte di Kitbag

Dalam bukunya itu, Sumadi juga menegaskan, kegagalan praktik pembangunan, di negara-negara berkembang (dunia ketiga), khusunya di Indonesia, selain disebabkan penggunaan paradigma dan teori yang tidak relevan, juga banyak disebabkan oleh model pendekatan komunikasi yang belum sesuai dengan kondisi masyarakat.

Nah, jika Pak gubernur sudi belajar dari orang yang kedua, pasti ada perubahan signifikan dari cara komunikasi politik yang selama ini pak gubernur terapkan. Rakyat Maluku akan sangat bangga dengan pemimpinnya, yang bicaranya kalem, tindakannya tegas. Bukan yang bicaranya kasar tapi tindakannya kalem. Sadarilah bahwa pak gubernur adalah orang yang spesial bagi masyarakat Maluku, tunjukkanlah spesial mu itu pak.

Di akhir catatan ini, saya mengutip pernyataan seorang pembicara handal Charles Bonar Sirat, yang mengatakan, berbicara sama halnya seperti kombinasi angka dalam sebuah kunci koper. Tugas kita adalah menemukan kombinasi angka yang tepat, serta dalam tata letak dan waktu yang tepat sehingga kita dapat memperoleh apa yang kita inginkan. (*)