Haji Bolot dan Birokrasi

oleh -24 views

Oleh: Ija Suntana, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

HAJI Bolot merupakan seorang komedian yang memerankan aktor tuli dalam aktingnya dan sukses mengundang gelak tawa penonton.

Namun, ketika topik yang dibicarakan perihal uang atau ada perempuan yang menyapa, kepekaan pendengarannya tiba-tiba kembali.

Akting ketulian haji Bolot memberikan refleksi mendalam tentang realitas sosial, politik, dan birokrasi.

Di negara yang tidak menjunjung tinggi keadilan dalam pelayanan publiknya, birokrasi sering kali terlihat seperti seseorang yang pura-pura tuli.

Ketika rakyat datang dengan keluhan atau permintaan layanan, penyelengara birokrasi bersikap seolah-olah tidak mendengar, menunda-nunda pekerjaan, atau membuat prosedur yang berbelit-belit sehingga rakyat merasa putus asa.

Baca Juga  2 Pendukung SYL Jadi Tersangka Pengeroyokan Jurnalis Kompas TV

Namun, ketika ada bisikan suap atau hadiah material yang menarik, mereka yang sebelumnya tampak lamban dan tidak peduli, tiba-tiba menjadi sangat sigap dan responsif.

Seorang pegawai yang biasanya lambat dalam memproses dokumen tiba-tiba bisa menyelesaikan semuanya dalam hitungan waktu yang lebih singkat ketika diberi “uang rokok.”

Atau, pejabat yang sulit ditemui mendadak tersedia setiap saat ketika berurusan dengan orang yang memiliki pengaruh atau daya tarik khusus.

No More Posts Available.

No more pages to load.