Hang Moju

oleh -86 views
Link Banner

Oleh: Dino Umahuk

Upaya memahami sudut pandang filosofis terutama laut sebagai wilayah kosmis dalam filsafat Ternate akan dapat ditempuh melalui upaya menelusuri makna yang terkandung dalam simbol “Goheba Dopolo Romdidi” yang merupakan lambang Kesultanan Ternate.

Selanjutnya, upaya ini akan dapat memberikan titik terang bagi kita dalam merumuskan jawaban atas pertanyaan dari mana sumber kebudayaan Maloko Kie Raha itu berasal.

Simbol ini berbentuk burung mitologik, yaitu seekor burung elang laut berkepala dua dan berhati satu, dinamakan “GOHEBA”.

Lambang Kie Raha ini merupakan objektivasi dari filsafat “Jou Se Ngofa Ngare” yang bisa diterjemahkan sebagai AKU dan ENGKAU.

Karena adanya “Ua Hang Moju”, yang juga dinamakan “Alam La” atau “Alam Ketiadaan” maka dapat kita katakan bahwa “Aku dan Engkau” berada dalam satu tempat.

Baca Juga  Ekspor langsung picu raupan ratusan milyar pemasukan Bea dan Cukai Maluku

Pada titik ini pula, lahirlah pertanyaan lanjutan yang tidak bisa dilepas-pisahkan dari “Uwa Hang Moju” itu, yakni “Koga I’dadi Susira”.

Maka menurut hukum logika, dapat diartikan pertanyaan “Toma uwa hang moju” sbb: Yakni bahwa” Toma ua hang moju” mengarah kepada waktu yang spatial dan ruang yang temporal dalam arti bahwa waktu yang spatial dan ruang yang temporal berada di luar kosmos (universe) karena adanya uwa hang moju.

Jika kita hubungkan dengan firman Tuhan dalam Al-Quran Surat Al Insan Ayat 1-2, yang berbunyi: “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut”.

Baca Juga  Arteta Panggil Kiper 18 Tahun Jelang Hadapi Chelsea di Final Piala FA 2019-2020

Maka tugas besar manusia Kie Raha adalah mencerdaskan akal budinya melalui tujuh belas sayap-sayap itu, guna merukuni ‘”Koga I’dadi Susira” yang akan menemaninya di atas perahu cinta menuju “Uwa Hang Moju” sebagai awal dan akhir kehidupan sebagai makhluk Ilahiah. (*)