Harga jual Fluktuatif, Petani Cengkih Maluku Menjerit

oleh -11 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Harga jual cengkih yang kerap mengalami fluktuasi, menyebabkan petani cengkih pun tak henti-hentinya menjerit kepada pemerintah. Bahkan, ajang reses anggota DPR RI pun tak pelak menjadi ajang untuk menyuarakan masalah petani cengkih di Maluku.
Hal ini diungkapkan anggota DPR RI asal Maluku, Hendrik Leweeissa, SH kepada wartawan, di Ambon, Senin (21/12/2020).

“Ketika melakukan reses di bulan Oktober tahun 2020, sebagai anggota DPR RI, saya bertemu dengan masyarakat di berbagai tempat baik di SBT, SBB, Malteng khususnya di Kepulauan Lease dan juga di Pulau Ambon. Dari serapan aspirasi yang saya tangkap, terutama dari petani-petani cengkeh, mereka mengeluh soal rendahnya harga cengkeh yang mereka hadapi. Sebenarnya harga cengkeh atau harga jual cengkeh di Maluku ini telah menjadi keluhan yang lama dari para petani,” ujarnya.

Fluktuatifnya harga jual cengkih ini, akunya, juga disuarakannya ketika melakukan rapat dengan Kementerian Perdagangan saat melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Sulawesi Selatan, Kamis (17/12), pekan kemarin.

“Kami dari Komisi VI DPR RI, memandang perlu untuk mengangkat isu ini untuk disampaikan kepada Kementerian Perdagangan. Hal ini disebabkan karena memang bagi petani cengkeh di Maluku, harga jual cengkeh yang fluktuatif terutama di bulan Desember dan Januari atau bulan-bulan menjelang perayaan Natal, biasanya harga jual cengkeh terlalu rendah dan itu mengalami fluktuasi. Harga jual cengkeh kemudian naik harga jualnya ketika di bulan Maret, April dan selanjutnya. Jadi seolah-olah para petani cengkeh ini merasa bahwa mereka tidak dilindungi dari sisi harga jual cengkeh yang mereka hadapi. Tentu keluhan ini harus disuarakan.  Sebagai wakil rakyat kita tidak mungkin berdiam diri menyaksikan atau melihat keluhan masyarakat yang mereka hadapi dalam waktu yang sudah lama. Bagi mereka kalau misalnya negara bisa mengatur soal misalnya harga gabah, harga gula, harga daging, harga minyak dan sebagainya termasuk harga beras misalnya, kenapa komoditi yang satu ini tidak bisa diatur?,” jelasnya.

Jika harga jual cengkeh dilepaskan pada mekanisme pasar, ungkapnya, ada alasan bahwa harga itu ditentukan oleh hukum pasar yaitu permintaan (Demand) dan penawaran (Supply). Dimana, bisa saja para pembeli berdalih suplainya berlebihan sehingga harganya rendah.

Baca Juga  Empati & Kesetiakawanan

Apalagi, ujarnya, para petani cengkih ini tidak pernah tahu betul data tentang suplai cengkih yang ada di Indonesia terutama yang dibutuhkan oleh pabrik-pabrik rokok misalnya, sehingga sulit memastikan apa benar harga cengkih dipengaruhi oleh hukum pasar ataukah memang ada praktek monopoli yang kemudian melakukan persaingan bisnis yang tidak sehat dengan melakukan price fixing.

Menurutnya, jika pembeli cengkih itu hanya satu atau dua orang yang merupakan pembeli utama diatasnya atau biasa disebut sebagai pembeli tunggal, dengan cara membentuk atau seolah-olah ada pembeli-pembeli di kabupaten/kota di Maluku sehingga terkesan seolah-olah ada persaingan atau kompetisi.

Namun jika ditelusuri lebih jauh, ternyata hal terawbut tidak terjadi.

Baca Juga  5 Model Celana Kasual dan Modis untuk Hijabers, Cocok Digunakan Sehari-hari

“Kalau mereka memang melakukan praktek usaha tidak sehat atau melakukan praktek monopoli, mereka bisa juga menentukan harga yang namanya price fixing. Price fixing ini merupakan sesuatu yang dilarang dalam UU tentang anti monopoli karena merugikan konsumen dalam konteksi ini merugikan para petani cengkeh. Saya kira pemerintah sebagai representasi negara tidak bisa berdiam diri membiarkan komoditas yang menyangkut hajat hidup orang banyak di Maluku dikendalikan oleh pasar begitu saja, tetapi harus ada intervensi kebijakan dari pemerintah dengan cara misalnya pemerintah bisa saja membangun gudang-gudang penampungan lalu membeli cengkeh-cengkeh dari petani dengan harga yang wajar dan kemudian akan melepaskan ke pasar ketika memang harganya sudah dianggap lebih memadai,” terangnya.

Baca Juga  Serius Perangi COVID-19, Gustu Kota Ambon Salurkan APD

Atas masalah yang sudah disampaikannya itu, timpalnya, pihak Kementrian Perdagangan juga sudah memberikan respon yang cukup positif yaitu melalui pengadaan gudang-gudang penampungan di pusat-pusat pembelian cengkeh.

“Kita tunggu saja apa implementasinya, bagi kami kan bukan soal wacana tapi kami lebih membutuhkan langkah yang lebih konkrit sehingga nasib petani cengkeh dapat dilindungi atau lebih sejahtera dengan yang mereka hadapi sekarang ini. Kami pun akan melakukan fungsi pengawasan untuk memastikan sejauh mana implementasi dari niat tersebut,” pungkasnya. (keket)