Harga Robert Tantular

oleh -73 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

Kalau Anda miskin, hidup pas-pasan, makan pagi sore bengong, itupun hanya dengan Indomie sebungkus dengan kuah luber di mangkok, maka sebaiknya Anda jangan berhutang. Bahkan sebelum berhutang pun Anda akan kesulitan mendapat hutangan karena tidak ada yang bisa anda jadikan jaminan untuk membayar kembali pinjaman itu.

Lain halnya kalau Anda cukup kaya dan dianggpa punya potensi. Anda boleh berhutang, bahkan dengan jumlah hutangan yang sangat besar, sehingga kalau Anda bangkrut, seluruh negeri ikut bangkrut.

Itulah doktrin ‘too big, too fail.’ Terlalu besar untuk gagal. Saking besarnya utang Anda, sehingga kreditornya takut Anda akan bangkrut.

Dalam bahasa Inggris ada istilah ‘the fat cats.’ Orang yang luar biasa kaya dan berkuasanya. Saking berkuasanya, apa saja yang dia bikin selalu berdampak terhadap orang lain.

Hari ini saya mendengar bekas boss Bank Century, bank yang runtuh di jaman pemerintahan SBY, dibebaskan. Banyak yang mengatakan bahwa kasus ini berkaitan dengan pemerintah yang berkuasa ketika itu. Entahlah, yang jelas si boss ini
dihukum 21 tahun penjara. Dia mendapat remisi 77 bulan atau kira-kira 6,5 tahun. Dia telah menjalani 2/3 jumlah hukuman dan kini bisa bebas bersyarat.

Baca Juga  BMKG: Gempa Bumi M 3.3 Guncang Kairatu, Ambon, Senin (3/8/2020)

Saya tidak mempersoalkan sistem remisi atau pemotongan hukuman ini. Saya tidak tahu apakah ini berada dalam sistem peradilan atau tidak. Tampaknya tidak karena yang berkuasa memberikan remisi bukan pejabat yudisial melainkan para birokrat penjara dan Kemenhumkam.

Sudahlah, itu soal lain. Namun ada satu bagian dari pemberitaan pembebasan beryarat si boss yang bernama Robert Tantular ini yang menarik perhatian saya.

“Robert Tantular telah menjalani subsider kurungan 14 bulan karena tidak membayar denda pada perkara pertamanya sebesar Rp 100 miliar dan perkara keduanya sebesar Rp 10 miliar, terhitung mulai 18 Mei 2017 sampai dengan 12 Juli 2018.”

Jadi, dalam amar putusan hakim, si Tantular ini harus membayar denda 100 miliar, kalau tidak dia akan dipenjara 12 bulan; dan untuk perkara lain dia harus membayar denda 10 miliar dengan subsider kurungan 2 bulan.

110 miliar untuk hukuman 14 bulan. Anda tahu apa artinya itu?

Itu artinya harga seorang Robert Tantular. Itu juga berarti Rp 235.294.117/hari. Itu artinya Rp 9,803,921/jam. Itu artinya 163.398/per detik.

Baca Juga  Bertambah, Pasien Positif Covid-19 di Maluku Utara Jadi 12 Kasus

Manusia dalam keadaan normal menghirup napas setiap empat detik. Jadi harga Robert Tantular dalam setiap tarikan napas adalah Rp 653.592.

Bayangkan keistimewaan apa yang dimiliki manusia macam ini sehingga dihargai sedemikian tinggi?

Saya bayangkan pengemudi GoFood yang mengantar makanan saya diupah Rp 12 ribu rupiah saja untuk mengambil makanan di restoran dan mengantar ke rumah saya. Itu perlu waktu paling tidak 45 menit hingga satu jam.

Tukang GoFood saya perlu waktu 13 kali anter makanan untuk bisa mendapatkan nilai uang setara dengan yang didapat oleh Robert Tantular dalam waktu satu detik!

Melebih-lebihkan? Tidak sama sekali. Ini kenyataan. Pahit memang. Tapi kenyataan-kenyataan dan perspektif berpikir seperti ini diperlukan agar kita bisa memahami secara lebih baik apa yang nama adil dan tidak adil.

Dimana-mana, terutama di negeri ini, keadilan itu pahit. Ia berlaku untuk orang-orang kecil. Pengemudi GoFood yang tidak berseragam akan dihukum. Tidak pakai helm akan dihukum. Melanggar rambu lalu lintas dihukum.

Memang harusnya demikian. Kita senang kalau orang-orang kecil dan orang-orang biasa itu patuh, tertib, dan taat mengikuti aturan. Kita melihatnya sebagai adil karena semua mendapat perlakuan yang sama.

Baca Juga  KPU Halbar: Hari ini PPK dan PPS Diaktifkan Kembali

Namun, persamaan ini tidak berlaku untuk orang model Tantular. Bukan karena dia diperlakukan tidak adil. Namun karena keadilan mati mengenaskan dihadapannya.

Kalau Anda berkuasa, Anda bisa bikin apa saja, kata Donald Trump. Iya, itu benar. Namun itu hanya bisa terjadi kalau orang-orang biasa seperti saya Anda membiarkan itu terjadi. Kita membiarkan mereka lepas bebas tanpa hukuman setimpal atas kejahatan yang mereka lakukan.

Bank Century itu disehatkan kembali dengan pajak yang kita bayar. Pada akhirnya kitalah yang membayar Robert Tantular.

Robert Tantular hanya satu. Itu pun dia dari administrasi pemerintahan yang lalu. Di jaman sekarang ini, kita punya banyak kasus yang sejenis tapi lepas dari perhatian kita. Berapa dari kita yang tahu apa yang terjadi pada Jiwasraya, Bumiputra, Asabri?

At the end the bucks stop on us! Pada akhirnya, yang membayar adalah kita semua.

Mau dibiarkan ini terjadi terus menerus dengan skala yang semakin mengerikan? (*)