Hari Pattimura, Pemprov Maluku sampaikan 7 pesan

oleh -220 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon : Upacara peringatan ke-201 perjuangan pahlawan nasional asal Maluku, Kapitan Pattimura, digelar di lapangan Merdeka Saparua, persis di depan Benteng Duurstede, Kota Saparua, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Selasa (15/5).

Upacara diawali peletakan karangan bunga di monumen Kapitan Pattimura oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua selaku Kapitan Manawa Kabaresi, dilanjutkan pembacaan sejarah perjuangan pahlawan Pattimura.

Selain dipenuhi masyarakat, upacara dihadiri Walikota Ambon, Richard Louhenapessy,SH, Bupati Maluku Tengah, Abua Tuasikal, serta sejumlah pimpinan umat beragama, pimpinan TNI/Polri dan para Latupati se-Pulau Saparua.

Dalam sambutannya, Sahuburua menegaskan perlunya belajar dari masa lalu untuk memperbaiki masa depan.

Link Banner

”Sejarah adalah bagian dari masa lalu. Dengan belajar sejarah, kita belajar masa lalu yang akan menumbuhkan harapan untuk masa depan. Dan setiap masa depan harus diawali dengan perjuangan,” ujarnya.

Sahuburua sendiri menyampaikan sedikitnya ada 7 pesan utama dalam hari bersejarah ini.

Diantaranya, perayaan 201 tahun perjuangan Kapitan Pattimura, menjadi momentum mengenang semangat yang begitu gigih dalam menegakkan nilai-nilain kebenaran demi Indonesia Merdeka.

”Oleh karena itu, masyarakat di Maluku harus bahu membahu, sebab semuanya telah dilebur dalam semangat pela-gandong, Kalwedo dan lainnya,” akunya.

Baca Juga  Pangdam Pattimura Goyang Kaka Enda dan Meti Kei Bersama Insan Pers

Menurutnya, Pattimura menjadi tanda sejarah, dimana inspirasinya harus menjadi kekuatan dan simbol perlawanan orang Maluku dalam segala bentuk ketidakladilan dan penindasan.

”201 tahun lalu, sosok kebanggaan kita itu, telah berhasil menembusi kokohnya tembok-tembok kekuasaan serta monopoli ekonomi kolonial yang menyengsarakan dan memiskinkan rakyat. Arah perjuangan Kapitan Pattimura sangat jelas yaitu perjuangan luhur membela harga diri kemanusiaan Rakyat Maluku yang terinjak-injak. Sang Pahlawan tidak tega melihat hak ulayat rakyatnya dirampas semena-mena, kekayaan negeri dieksploitasi untuk kepentingan penjajah sehingga kemiskinan merajalela di mana-mana,” jelasnya.

Jiwa dan semangat Pattimura, jelasnya, adalah jiwa dan semangat Maluku yang tidak gentar oleh tantangan apa pun dan tidak mundur untuk membela harga dirinya.

Baca Juga  Wamena Rusuh, Massa Bakar Kantor Bupati dan Pertokoan

”Jiwa dan semangat itu membuktikan bahwa harus ada keberanian untuk membangun keadilan, kejujuran, cinta kasih, perdamaian dan hidop orang basudara yang tidak boleh terkoyak lagi,” tegasnya.

Pesan Presiden Soekarno tempo dulu, terangnya, bahwa Indonesia tanpa Maluku bukanlah Indonesia, merupakan bentuk pengajuan akan pentingnya negeri ini.

Mungkin saja, akunya, jika tidak ada perjuangan Pattimura, mungkin tidak ada Indonesia Merdeka.

”Karena itu, jangan lagi kita mereduksi pikiran-pikiran yang menghambat kemajuan negeri ini,” terangnya.

Pesan ketiga melalui peringatan ini, jelasnya, yakni menjadiprajurit-prajurit perdamaian dengan cinta pada kemanusiaan dan persaudaraan, sebab kemajemukan yang dipertahankan Pattimura adalah kemajemukan yang menghidupkan bangsa.

”Bersatu manggurebe maju, demi masa depan yang baru,” singkatnya.

Selain itu, terangnya, meskipun Kapitan Pattimura sudah tidak ada, tetapi semangatnya harus tetap hidup dalam sanubari warga Malukuk.

Nasionalisme yang diperlihatkan bukanlah ansih masyarakat Maluku, terangnya, tetapi soal Indonesia Merdeka.

”Dengan demikian kita harus menjadi contoh di bangsa ini, terutama tentang kehidupan yang majemuk,” timpalnya.

Baca Juga  Kembalikan kerugian negara, kasus Ayal tetap diproses

Peran Pattimura, tegasnya, adalah refleksi tentang kapitan atau raja yang membela rakyat dan negerinya dari rampasan pihak asing.

”Berkaitan dengan refleksi ini, maka pemimpin yang besar di tanah Maluku adalah dia yang menjadikan rakyatnya kaya dari hasil tanah, laut, bumi, hutan dan segala yang ada di perut bumi,” imbuhnya.

Sedangkan pesan terakhir dalam peringatan ini, tambahnya, pattimura-pattimura muda di negeri ini dihimbau turut menjaga stabilitas menyongsong pesta demokrasi di Maluku, Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual.

Caranya, timpalnya, yakni dengan membangun persaudaraan yang rukun dan harmonis agar pemimpin baru yang lahir nanti adalah pemimpin besar yang membuat negeri ini terhormat.

”Mudah-mudahan kebijakan pemerintah dalam membangun masyarakat yang sejahtera dan berkualitas dapat menemui jawaban dan rentan waktu yang telah ditetapkan,” pungkasnya. (keket)