Hasil Penelitian: Pulau Ambon Rentan Terhadap Intrusi Air Laut

oleh -65 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Ketebalan vegetasi mangrove memegang peranan penting untuk ketersediaan air tanah di pulau-pulau kecil. Salah satu contoh di Pulau Ambon Provinsi Maluku.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi hutan mangrove dapat mempertahankan kualitas air minum dan mencegah intrusi air laut. Intrusi ini terjadi jika perembesan air laut ke dalam lapisan tanah sehingga terjadi percampuran air laut dengan air tanah.

Penelitian dilakukan Cahya Damayanti, Rian Amukti (dari Pusat Penelitian Laut Dalam, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ambon) dan Suyadi (dari Pusat Penelitian Biologi – LIPI, Bogor).

Luas Pulau Ambon yang hanya 775 km persegi memiliki kepadatan penduduk 647 orang/km, dengan kepadatan penduduk tertinggi di sekitar Teluk Ambon (Kota Ambon). Jumlah penduduk terus meningkat hingga 3,43 persen. Jumlah penduduk pada 2017 sebanyak 411.617 jiwa (Ohello, 2010; BPS Kota Ambon, 2019).

Sebagian besar masyarakat di Ambon menggunakan air sumur untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Sebagian masyarakat lainnya memanfaatkan air sungai karena air sumur terasa asin atau payau.

Baca Juga  KNPI KKT Kritik Pernyataan Hendrik Lewerissa Terkait Perjuangan PI 10% Blok Masela

Masalahnya adalah debit air sungai pada musim kemarau kecil dan pada musim hujan air menjadi keruh akan membuat air Kondisi hutan mangrove di Teluk Ambon juga sudah masuk ke dalam kategori rusak dan luasnya semakin berkurang.

Kerusakan hutan mangrove berdampak pada menurunnya fungsi dan manfaatnya termasuk untuk mitigasi intrusi air laut. Sementara itu, diduga ekstraksi air tanah di daerah ini cukup tinggi dan kualitas air permukaan semakin menurun (Peraturan Daerah Kota Ambon No 9 Tahun 2015; Dirjen Sumberdaya Alam, 2012).

Perubahan kualitas air permukaan tanah menjadi air payau dikonfimasi oleh masyarakat Ambon yang diwawancarai peneliti.

Penduduk memberikan informasi bahwa air di sumur mereka berubah menjadi air payau. Terutama di daerah yang terdapat penebangan atau konversi hutan mangrove menjadi peruntukan lainnya seperti mall dan perumahan.

Temuan penelitian, di daerah Passo yang memiliki vegetasi mangrove yang tebal (320 m) dan ukuran pohon mangrove yang besar (rata-rata diameter: 19 cm, dan rata-rata tinggi pohon 10 m) tidak terjadi intrusi air laut.

Baca Juga  Nilai Tukar Petani Provinsi Maluku Februari 2021 Turun 0,68 Persen

Daerah Poka yang memiliki ketebalan mangrove tipis (10 m) dan ukuran pohon mangrove yang kecil (rata-rata diameter: 8,6 cm, dan rata-rata tinggi pohon 5 m) memiliki tingkat intrusi air laut cukup tinggi.

Daerah Lateri yang tidak memiliki mangrove memiliki tingkat intrusi air laut yang sangat tinggi.

Dua parameter vegetasi mangrove tersebut juga berhubungan secara negatif terhadap sebaran dan
luas intrusi air laut.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kondisi hutan mangrove di lokasi penelitian sudah terdegradasi dan termasuk ke dalam kategori “rusak”.

Berdasarkan penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa selain karakteristik sedimen, tingkat intrusi air laut ditentukan oleh ketebalan vegetasi mangrove dan ukuran pohon mangrove. Vegetasi hutan mangrove di pulau kecil yang berupa spot-spot hutan (mangrove patches) memiliki potensi untuk mitigasi intrusi air laut.

Baca Juga  NOAH Mengulang Kenangan, Meremajakan Lagu Peterpan

Hal ini menunjukkan pentingnya peranan mangrove sebagai sabuk hijau pada garis pantai yang bermanfaat untuk mencegah intrusi air laut dan menjaga kualitas air tawar yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat.

Namun, adanya laju deforestasi hutan mangrove yang tinggi dan kondisi hutan mangrove yang sebagian besar masuk ke dalam kategori rusak (kerapatan pohon jarang dan tutupan kanopi sedang) menyebabkan diperlukannya sistem pengelolaan kawasan pesisir dan hutan mangrove yang lebih efektif.

Antara lain dengan mempertimbangkan perlunya program rehabilitasi dan restorasi kawasan pesisir khususnya mangrove.

Penelitian ini dapat dipergunakan oleh pemerintah untuk merumuskan kebijakan dan sistem tata kelola air tanah dan kawasan pesisir khususnya hutan mangrove.

Para peneliti mempublikasikan temuan ini di Jurnal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia 2020 5(2) halaman 75 – 91, dengan judul “Potensi Vegetasi Hutan Mangrove untuk Mitigasi Intrusi Air Laut di Pulau Kecil. (red/rtm/darilaut)