Heboh RI Diserang Gelombang Panas, Begini Faktanya

oleh -78 views
Link Banner

Porostimur.com – Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi cuaca panas yang terjadi di Indonesia saat ini bukan `Gelombang Panas`. Namun masyarakat masih harus berhati-hati karena kondisi cuaca pada siang hari bisa mencapai 40 derajat celcius.

Hal ini menanggapi banyak pesan berantai pada media sosial dan WhatsApp tentang `Gelombang Panas Kini Melanda Indonesia`. Lembaga pemerintah yang mengawasi iklim dan cuaca itu menyebut kabar itu tidak benar (Hoax).

Dijelaskan, gelombang panas yang terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah dan tinggi. Sementara wilayah Indonesia terletak di wilayah ekuator yang secara sistem dinamika cuaca tidak memungkinkan terjadi gelombang panas.

Gelombang panas dalam ilmu cuaca dan iklim didefinisikan sebagai periode cuaca (suhu) panas yang tidak biasa yang biasanya berlangsung setidaknya lima hari berturut-turut atau lebih (sesuai batasan Badan Meteorologi Dunia atau WMO) disertai oleh kelembapan udara yang tinggi.

Untuk dianggap sebagai gelombang panas, suatu lokasi harus mencatat suhu maksimum harian melebihi ambang batas statistik, misalnya 5 derajat celcius lebih panas, dari rata-rata klimatologis suhu maksimum, dan setidaknya telah berlangsung dalam lima hari berturut-turut.

Baca Juga  KAMMI Buru Bagi-Bagi Hand Sanitizer Buatan Sendiri Kepada Warga

“Kalau suhu maksimum itu terjadi dalam rentang rata-rata dan tidak berlangsung lama maka tidak dikatakan sebagai gelombang panas,” kata Plt. Deputi Bidang Klimatologi, Urip Haryoko, dalam keterangan, dikutip Sabtu (16/10/2021).

Gelombang panas umumnya terjadi berkaitan dengan berkembanganya pola cuaca sistem tekanan atmosfer tinggi di suatu area secara persisten dalam beberapa hari. Dalam sistem tekanan tinggi tersebut, terjadi pergerakan udara dari atmosfer bagian atas menuju permukaan (subsidensi) sehingga termampatkan dan suhunya meningkat.

Pusat tekanan atmosfer tinggi ini menyulitkan aliran udara dari daerah lain masuk ke area tersebut. Semakin lama sistem tekanan tinggi ini berkembang di suatu area, semakin meningkat panas di area tersebut, dan semakin sulit awan tumbuh di wilayah tersebut.

Baca Juga  Kejari Halsel Teken MoU dengan Kantor BPJS Cabang Ternate

Lantas Apa Penyebab Suhu Panas di Indonesia?

Urip menjelaskan suhu panas yang terjadi di Indonesia merupakan fenomena ada gerak semu matahari. Itu merupakan siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun.

Sehingga potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahun.

Berdasarkan pantauan BMKG suhu maksimum di wilayah Indonesia, paling tinggi terjadi pada siang hari, dan memang naik dalam beberapa hari terakhir.

Seperti di Medan, Deli Serdang, Jatiwangi, dan Semarang tercatat mencapai lebih dari 36 derajat celcius.

“Namun catatan suhu ini bukan penyimpangan besar dari rata-rata iklim suhu maksimum. Karena masih dalam rentang variabilitas di bulan Oktober,” kata Urip.

Baca Juga  Lagi. Dini Hari Tadi, Gempa M 3,7 Goyang Ambon

Suhu maksimum yang meningkat dalam beberapa hari terakhir ini disebabkan juga dari beberapa hal. Pertama kedudukan semu gerak mata hari yang tepat di atas pulau Jawa, Bali, dan Nusatenggara.

Posisi semu matahari di atas pulau Jawa akan terjadi dua kali yaitu di bulan September/Oktober dan Februari/Maret. Sehingga puncak suhu maksimum akan terasa di wilayah Jawa hingga NTT terjadi di seputar bulan itu.

Kedua cuaca cerah menyebabkan penyinaran langsung sinar matahari ke permukaan. Sehingga menimbulkan pemanasan suhu permukaan.

Kondisi tersebut berkaitan dengan adanya Siklon Tropis KOMPASU di Laut Cina Selatan bagian utara yang menarik massa udara dan pertumbuhan awan-awan hujan, serta menjauhi wilayah Indonesia sehingga cuaca di wilayah Jawa cenderung menjadi lebih cerah – berawan dalam beberapa hari terakhir.

(red/ljc)