Hunimua dan Dua Sajak lain Dino Umahuk

oleh -110 views

Hunimua

pantai itulah yang kerap kita ukur
di antara rapatnya waktu pertemuan
dan musim pancaroba yang amuk

gemuruh rindu membadai di dadamu
juga di matamu yang selalu aku kecup
di pantai itu yang kerap kita ukur

api membara di ranting cemara
menjalar lewat nadimu
di antara rapatnya waktu

semalam ketika bulan sedang purnama
aku kembali bertandang memungut kenangan
pantai itu, masih seindah dan seanggun dirimu

Ambon, 28 Desember 2023
============

Maaf, Jika Cintaku Hanya Memberimu Airmata

kita telah sama-sama berangkat tanpa berkemas
selimut terakhir pun tak sempat engkau lipat
bergitu pula roti terakhir yang terhidang di atas meja
taka ada lagi perjamuan seperti pagi yang biasa

“aku pamit, katamu dengan pipi yang mulai didera gerimis”

aku memelukmu untuk yang terakhir kali
di pagi hari yang tak lagi biasa itu
sengau suaraku tersendat ketika asin laut mengalir di pipimu
sedang aku menampung mendung bagai desember yang tak juga hujan

“aku berangkat, bisikmu dengan pipi yang mulai dilanda gerimis”

kita telah sama-sama berlepas pada pagi yang gegas
kenangan terakhir pun tak sempat engkau kemas
begitu pula kopi terakhir yang terhidang di dalam gelas
barangkali cinta lebih membahagiakan ketika kita mesti berlepas

“maaf, jika cintaku hanya memberimu airmata”

Ambon, 27 Desember 2023
========

No More Posts Available.

No more pages to load.