Ibadah Korban vs Korban Perasaan

oleh -19 views
Link Banner

Oleh: Apri Wardana Ritonga, S.Pd – Alumni UIN Imam Bonjol Padang

Ibadah kurban menjadi tradisi peribadatan tahunan yang dilakukan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia. Kata “korban” merupakan serapan dari bahasa Arab, bentuk mashdar dari “qaruba-yaqrabu-qurban” yang berarti mendekati. Akhir kata “qurban” ditambah “alif dan nun” maka maknanya berubah menjadi superlatif, yaitu sangat dekat. Sehingga dapat diartikan bahwa qurban itu ialah aktivitas yang dengannya bisa membuat seseorang menjadi sangat dekat kepada Allah Swt.

Di Indonesia, kata “korban” seakan menjadi kata baku bila dikaitkan dengan hari raya Idul Adha. Dan tidak jarang orang menyebut Idul Adha dengan “hari raya korban”. Bila dilihat dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), terminologi “korban” disebutkan sebagai pemberian untuk menyatakan kebaktian, kesetiaan dan sebagainya. Hal ini berarti kata “korban” dalam konteks Idul Adha, menjadi sebuah bukti peribadatan seorang hamba kepada Rabbnya dengan jiwa yang tulus dan hanya mengharapkan ridha-Nya semata. Seperti yang dilakukan oleh para nabi terdahulu dan shalafus shalih. Pada tulisan ini, saya akan menggunakan kata “korban” untuk menginterpretasikan tema di atas.

Secara historis, perintah korban sudah ada sejak masa nabi Adam as. Hal ini jelas digambarkan dalam Q.S. Al-Maidah:5:27-31. Dalam ayat tersebut, Allah seraya mengajak umat manusia hari ini untuk melihat sejarah dua anak Adam (Qabil dan Habil) yang meengorbankan hartanya di jalan Allah Swt. Dimana Qabil menyerahkan hasil taninya yang busuk, usang (yang paling jelek), sementara Habil mempersiapkan domba besar, sehat dan tanpa cacat sedikit pun, hewan pilihan terbaik dari hasil ternak yang dimilikinya. Lebih lanjut ayat tersebut menyatakan korban Habil diterima karena ketulusannya kepada Allah sedangkan korban saudaranya (Qabil) ditolak karena memberikan korban yang jelek dan tidak didasari hati yang ikhlas.

Link Banner

Ayat di atas memberikan ilustrasi kepada kita selaku masyarakat yang akan berkorban tahun ini. Bahwa memberikan sesuatu kepada orang lain hendaklah dengan pemberian yang terbaik dan ikhlas hanya mengharap keridhaan Allah. Harus tertanam dalam diri setiap orang, hanya Allah-lah yang akan membalasi ibadah korban yang dilakukan selama hidup di dunia ini. Dengan demikian, hikmah ibadah korban akan menghantarkan kepada kehidupan yang damai, sejahtera dan bahagia karena berada dalam keridhaan Allah.

Baca Juga  Pariwisata Goes To School 2019, Dispar Maluku targetkan 550 siswa SMU

Setiap amal yang dilakukan terdapat hukum dan hikmah di dalamnya, seperti halnya ibadah korban. Dalam kitab Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah diterangkan manfaat korban. Yaitu, sarana mendekatkan diri kepada Allah. Jika Habil mengorbankan hasil pertaniannya di jalan Allah dan diterima oleh-Nya, maka Nabi Ibrahim as mengorbankan putra kesayangnannya, Ismail, sebagai bentuk ketaatannya kepada perintah Allah. Dengan berkorban pula dapat memberi makan kaum fakir miskin, keluarga, tetangga dan kaum dhuafa.

Namun, walau pun hati kita senang menyambut hari raya korban, mesti disadari bahwa, kondisi negeri ini belum pulih dari virus Corona yang kian menghantui setiap aktivitas yang dilakukan. Bahkan kurvanya belum menunjukkan penurunan sama sekali. Per Senin, 27 Juli 2020 kasus terkonfirmasi positif Corona berjumlah 100.303, pasien yang dinyatakan sembuh 58.173 orang dan pasien meninggal sebanyak 4.781 orang. Dengan begitu, PR kita sebagai masyarakat yang menginginkan virus ini cepat berakhir belum selesai. Kita masih perlu mawas diri dan mengutamakan kesehatan dibandingkan yang lain. Terlebih-lebih saat mengikuti pelaksanaan hari raya Idul Adha dan pemotongan hewan korban.

Menteri agama RI, Fachrur Razi, menegaskan dalam sebuah kesempatan memberikan izin dilakukan pemotongan hewan korban, tetapi tetap menerapkan protokol kesehatan. Dalam Surat Edaran (SE) Menteri Agama Nomor 18 Tahun 2020 yang beredar di masyarakat, terdapat delapan hal pokok yang harus menjadi perhatian penyelenggara pemotongan hewan korban. Pertama, dilakukan pada area yang memungkinkan penerapan jaga jarak fisik. Kedua, pemotongan hewan korban hanya dihadiri oleh panitia dan peserta korban. Ketiga, pendistribusian daging korban dilakukan oleh panitia ke rumah mustahik. Keempat, pengukuran suhu tubuh di setiap pintu masuk. Kelima, setiap panitia dan peserta korban harus mengenakan masker, pakaian lengan panjang dan sarung tangan. Keenam, menghindari berjabat tangan langsung dan mencuci tangan dengan sabun secara berkala. Ketujuh, melakukan disinfeksi peralatan sebelum dan sesudah digunakan. Terakhir, menerapkan sistem satu orang satu alat.

Baca Juga  Awali 2019, SMASKris YPKPM Ambon gelar ibadah bersama

Secara gamblang harus kita katakan bahwa ketentuan yang dikeluarkan oleh kementerian agama itu ialah bagian dari upaya pencegahan penularan bahaya virus Corona. Namun, perlu ditambahkan berkaitan dengan kesehatan hewan yang akan dikorbankan. Dinas peternakan yang membidangi fungsi kesehatan veteriner, diharapkan turut mengambil peran memastikann hewan korban dalam keadaan sterill dari virus dan berbadan sehat. Sehingga kluster baru penularan Corona tidak terjadi saat pemotongan hewan korban. Bila hal ini tak digubris dengan serius, maka Indonesia harus bersiap melihat korban-korban baru Corona di hari raya korban.

Penulis ingin tegaskan bahwa terminologi “korban perasaan” yang dimaksud dalam tulisan ini ialah kondisi masyarakat yang tidak menentu di tengah Corona yang tak kunjung sirna. Terombang ambing antara janji dan harapan, antara pekerjaan dan ancaman PHK, serta kehidupan sosial yang semakin brutal. Jadi tidak berlebihan bila penulis mengungkapkan bahwa banyak di kalangan masyarakat yang menjadi korban perasaan di tengah perayaan ibadah korban.

Baca Juga  Kepala Desa di Halmahera Selatan Dukung Perang Lawan Politik Uang dan Hoax

Melalui momen ibadah korban inilah diharapkan mampu menekan korban perasaan yang kian mencuat di masyarakat. Karena esensi ibadah korban ialah keadilan sosial. Daging korban didistribusikan kepada masyarakat dengan takaran yang sudah ditentukan sesuia dengan porsinya masing-masing. Tanpa pilih kasih dan tanpa melihat suku dan budaya, semuanya akan mendapat daging korban secara adil dan bijaksana. Tujuh orang mampu mengorbankan satu hewan korban, yang akan menghadirkan senyum kepada ratusan orang lainnya.

Walhasil, berkorban selalu memberi kesan mendalam bagi pekorban dan penerima daging korban. Terlebih lagi saat masyarakat banyak yang menjadi korban perasaan di era Corona, kita masih mampu meringankan beban sesama. Dengan satu tujuan, yaitu mendekatkan diri kepada Allah sesuai dengan hakikat diperintahkan korban. (*)

Sumber: minangkabaunews.com