ICCF 2019 di Ternate: Ajang Temu Komunitas, Pemerintah dan Pengusaha

oleh -32 views
Link Banner

[carousel_slide id=’12211′]

porostimur.com | Ternate: Gelaran Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2019 yang akan diselenggarakan di Kota Ternate, Maluku Utara pada 2-7 September 2019, sudah semakin dekat. Tak sekadar festival, gelaran ini adalah kesempatan bagi penggerak komunitas maupun pemerintah dari berbagai kabupaten/kota untuk bersinergi, berkreasi, dan berkontribusi untuk pemajuan daerah secara kreatif.

Pada kesempatan ini, kita dapat berbagai pengetahuan bagaimana mengembangkan kota kreatif. Sebab, tidak sedikit pengusaha, komunitas, dan pemerintah daerah dari luar Maluku Utara turut hadir.

ICCF 2019 diselenggarakan tidak hanya sebagai perayaan potensi dan keunggulan kreativitas lokal, tapi juga menjadi momentum serta ruang aktif untuk mempertemukan dan menjalin kerja sama dalam jaringan kabupaten/kota seluruh Indonesia.

Link Banner

Pada ICCF 2019 pun akan diselenggarakan Indonesia Creative Cities Conference (ICCC) yang ke-5. ICCC sebagai salah satu dari rangkaian acara ICCF 2019 ini, akan dilaksanakan pada 4-5 September 2019.

Konferensi ini akan diisi oleh para ahli dan praktisi industri kreatif, seperti Erick Thohir (Chairman of Mahaka Group), Martin Hartono (CEO of GDP Venture), Wishnutama (President Commissioner of NET Mediatama), Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat), hingga Ricky Pesik (Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif/BEKRAF). Pada konferensi ini jugalah ICCN akhirnya akan meluncurkan 11 Jurus Kabupaten/Kota Kreatif kepada publik untuk pertama kalinya. Sebelas jurus yang disebut sebagai “Catha Ekadaksa” ini selaras dengan sasaran global The New Urban Agenda 2030 dan Sustainable Development Goals (SDGs).

Baca Juga  5 November, 5 Kali Gempa Getarkan Maluku

Catha Ekadaksa dapat menjadi solusi untuk pembangunan kabupaten/kota yang berorientasi pada potensi dan ekspresi kreativitas lokal. Berikut kesebelas jurus dalam formula Catha Ekadaksa; 1. Forum Lintas Komunitas, 2. Komite Ekonomi Kreatif, 3. Ekosistem Ekonomi Kreatif (Iterasatari), 4. Navigasi Pembangunan, 5. Musrenbang Interaktif (design action), 6. Indeks kabupaten/kota kreatif (IKK), 7. Command centre, 8. Strategi Komunikasi dan Narasi, 9. City branding management, 10. Festival Komunitas, 11. Wirausaha desa x kota.

Untuk salah satu jurus, yaitu Wirausaha Desa X Kota, entitas yang telah berkontribusi secara signifikan adalah The Local Enablers (TLE). Suatu gerakan yang membentuk wirausaha-wirausaha baru, dengan menghubungkan potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) di desa dan pelosok daerah dengan potensi pasar, pengetahuan, jejaring infrastruktur dan finansial, dan SDM di kota.

Baca Juga  Senator Namto Roba Sumbang APD untuk 18 Puskesmas di Halmahera Utara

Penciptaan nilai kerja sama SDA dan SDM di desa dan di kota ini menggunakan metode Design Thinking. Dwi Purnomo, Deputi Pengembangan Bisnis ICCN sebagai inisiator TLE mengatakan, melalui eksperimen, iterasi design thinking, intervensi kreativitas yang terus-menerus, dan pengembangan aktivasi kewirusahaan inklusif kreatif yang melibatkan sumber daya lokal, pihaknya berhasil meningkatkan nilai tambah dan dampak baik bagi perekonomian daerah, sehingga komoditas lokal dapat tampil sebagai lokomotif bagi kemajuan perekonomian daerah.

“Sehingga dampak dan manfaatnya dapat segera dirasakan oleh seluruh pelaku yang terlibat di dalamnya, mulai dari petani, industri rumahan, dan pengusaha mikro di desa, hingga mitra mereka di kota,” kata Dwi.

Baca Juga  Musda Ke V Partai Golkar Halut Milik Frans Manery

Menurutnya, metodologi TLE sangat mungkin untuk diduplikasi pada berbagai kondisi serupa di seluruh Indonesia. “Berbagai konten kreatif – dari 16 sub-sektor dan 4 elemen dasarnya – dapat disuntikkan ke dalam usaha mikro di seluruh Indonesia sesuai dengan potensi spesifik masing-masing.

Sementara itu, Fiki Satari, Ketua Umum ICCN mengatakan, ketika seluruh stakeholders sektor ekonomi kreatif di Indonesia memperoleh keleluasaan dan kelancaran dalam menerapkan jurus-jurus Catha Ekadaksa, secara bertahap akan tercapai pembangunan Indonesia yang swadaya, inklusif, merata, serta nyata berdaulat terhadap seluruh sumber dayanya sendiri.

“Di usia Republik Indonesia yang ke-74 ini, dalam memaknai kemerdekaan, ICCN dengan jejaringnya yang telah tersebar di lebih dari 200 kabupaten/kota di Indonesia berkomitmen untuk siap mengawal keberlangsungan sinergi antara seluruh pelaku ekonomi kreatif, agar dapat terus berkarya, berekspresi, dan berkontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia,” kata Fiki. (red)