ICEL Terbitkan Jurnal Tentang Dampak Buruk UU Ciptaker Terhadap Lingkungan

oleh -39 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Lembaga Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) mengeluarkan analisis terbarunya tentang dampak lingkungan dan Sumber Daya Alam (SDA) akibat adanya Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang disahkan DPR RI.

Dalam jurnal ICEL berjudul ‘Berbagai Problematika dari UU Cipta Kerja Sektor Lingkungan dan Sumber Daya Alam’ itu, ada 6 undang-undang yang memiliki dampak pada sektor lingkungan dan SDA.

“Kami sangat meyakini bahwa tidak ada seorang penyusun pun yang benar-benar memahami dan mampu menjelaskan UU Cipta Kerja,” kata jurnal tersebut, Sabtu (10/10/2020).

 Menurut ICEL, ada enam undang-undang yang terdampak UU Cipta Kerja, yakni:

Link Banner

1. UU. No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup atau Persetujuan Lingkungan

2. UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagaimana diubah dengan UU No. 19 tahun 2014

3. UU No. 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan

4. UU No. 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan

Baca Juga  UNJ dan Pemkot Tidore Usulkan Sultan Zainal Abidin Syah Sebagai Pahlawan Nasional

5. UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

6. UU No. 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan

Berkaitan dengan UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, permasalahan utama adalah direduksinya hak masyarakat atas akses dalam mendapatkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, baik itu hak atas informasi, hak atas partisipasi, serta hak atas keadilan.

Selain itu, terdapat kesalahan konsep dalam perumusan ‘strict liability’ yang dapat berakibat sulitnya menjalankan konsep tersebut. Penghapusan pengecualian larangan membakar bagi masyarakat peladang tradisional berpotensi terjadinya kriminalisasi dan pemindahan beban pertanggungjawaban.

Berkaitan dengan UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, permasalahan utama adalah dihapusnya batas minimal 30 persen kawasan hutan berdasarkan daerah aliran sungai dan/atau pulau, meski pun fraksi-fraksi menolak saat rapat pembahasan.

Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan juga tidak lagi ‘didasarkan’ melainkan hanya ‘mempertimbangkan’ penelitian terpadu.

Baca Juga  Laiskodat Ajak Pemimpin di Wilayah Timur Indonesia Bersatu Membangun Ekonomi

Selain itu terdapat pengecualian bagi masyarakat adat yang memanfaatkan hutan di kawasan hutan asalkan telah 5 tahun berturut-turut melakukannya dan terdaftar dalam kebijakan penataan kawasan hutan.

UU No.18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, permasalahan utama terdapat pada perumusan sanksi administrasi dan pidana yang kurang tepat.

UU No. 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan, permasalahan utama terdapat pada berbagai ketentuan-ketentuan dasar yang sebelumnya didetailkan dalam Undang-Undang, kemudian dihapus dan diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah.

Di satu sisi, kekuatan PP tentu lebih lemah dari UU karena tidak dapat memberikan sanksi pidana apabila kewajiban yang diatur tidak dipenuhi. Di sisi lain, penilaian atas perubahan tersebut juga tidak dapat dilakukan sekarang karena masih harus menunggu PP tersebut terbit.

Berkaitan dengan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, permasalahan utama adalah dilemahkannya posisi tata ruang sebagai salah satu instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.

Baca Juga  Hari Kesembilan, Team SAR Terus Cari MV. Nur Allya

Dalam UU Cipta Kerja, berbagai ketentuan dalam penataan ruang ‘dilonggarkan’ dengan tujuan untuk mengakomodasi kebijakan nasional yang bersifat strategis, yang mana lingkup kebijakan nasional yang bersifat strategis ini juga tidak dijelaskan.

Sementara itu, UU No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, sekalipun telah mengakomodasi ketentuan tentang otonomi daerah yang sebelumnya dihapus dalam draf RUU Cipta Kerja versi 2009, namun permasalahan utama terdapat pada ketentuan terkait partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan.

Selain itu, pereduksian beberapa kewenangan DPR dan Pemerintah Daerah juga masih ditemukan. Dikhawatirkan hal ini akan berpengaruh kepada semangat transisi energi yang tengah digagas saat ini.

“Keenam kesimpulan ini menandakan bahwa UU Cipta Kerja dalam implementasinya berpotensi melemahkan instrumen perlindungan lingkungan hidup, hak-hak masyarakat dan juga berpotensi memberikan dampak negatif terhadap kualitas lingkungan hidup,” tulis jurnal ICEL. (red/idntimes)