In Memoriam Prof. Dr. Cornelis Lay

oleh -130 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Peneliti Sosial, Politik dan Militer

Sedih sekali mendengar bahwa Mas Cornelis Lay (Connie) telah meninggalkan kita semua. Saya mengenal beliau sejak mahasiswa. Dia mengajak saya melakukan penelitian bersama, “Financing Political Parties” yang diorganisir oleh SPES (Society for Politics and Economics Studies).

Lembaga ini kini sudah tiada. Tapi ini adalah penelitian pertama tentang bagaimana partai politik membeayai dirinya. Ketika itu, kami menemukan bahwa Golkar, yang tidak mau menyebut dirinya partai melainkan hanya golongan fungsional, ternyata dibeayai oleh sebuah yayasan. Ini saya ketahui setelah menelusuri Berita Negara/Tambahan Berita Negara, dokumen kenegaraan yang tersedia dimana-mana namun jarang dijamah oleh para peneliti atau jurnalis.

Itulah Yayasan Dana Abadi Karya Bhakti (Dakab) yang menghimpun uang dari pegawai negeri dan pengusaha-pengusaha yang mendapat proyek negara. Uang dari pegawai negeri dikutip begitu saja dari gaji mereka. Rejim Suharto tentu melakukan itu tanpa merasa bersalah. Karena dimata mereka kutipan itu adalah ‘sumbangan.’ Mereka sudah diberi makan oleh negara, dan sudah sewajarnya memberikan sedikit untuk negara. Suharto ketika itu adalah negara. Golkar adalah apparatchik-nya.

Link Banner

Kami mempresentasikan temuan itu dalam workshop SPES. Itulah pertama kali saya melakukan presentasi dalam bahasa Inggris dan bertemu dengan elit-elit ilmuwan sosial Indonesia dan Asia Tenggara.

Perkawanan saya dengan Mas Connie berlanjut sekalipun saya tidak lagi di UGM. Kami masih sering bertemu di kos-nya di asrama NTT. Dia selalu sibuk. Selain mengajar, dia juga aktivis GMNI. Dia juga menjadi orang yang selalu dicari oleh anak-anak muda NTT jika mereka memiliki masalah.

Baca Juga  Harga Tiket Prambanan Jazz 2020, Dimeriahkan Artis Mancanegara dan Musisi Tanah Air

Mas Connie juga sumber informasi saya tentang kejadian-kejadian penting yang terjadi dalam politik di negeri ini. Dengan saya, dia bisa bicara apa saja bahkan hal-hal sensitif yang dia ketahui.

Kadang saya menyampaikan analisis saya dan dia bisa memberikan konfirmasi atau sanggahan. Untuk saya, Mas Connie adalah orang yang sangat terbuka dan well-informed. Saya selalu merasa mendapatkan privilese darinya. Dan tentu, saya akan tutup mulut bila dia meminta saya untuk off the record.

Hubungan agak terputus ketika saya meninggalkan tanah air. Namun saya ingat ketika pertama kali menghubungi dia saat mudik setelah lebih dari 10 tahun tidak berkomunikasi. Dia bertanya tentang studi saya dan kemungkinan untuk kembali dan mengajar di jurusan. Saya hanya tertawa terbahak-bahak. Saya kira dia mengerti maksud saya.

Mas Connie adalah satu dari sedikit ilmuwan politik yang memiliki prinsip politik. Tidak diragukan bahwa dia adalah seorang nasionalis dari sisi ideologi. Dia mampu mengimbangi keilmuannya dengan praksis. Itu dilakukannya tanpa pernah menjadi politisi dalam arti sesungguhnya.

Saya tahu bahwa Mas Connie dekat dengan petinggi-petinggi PDI (yang kemudian berubah menjadi PDIP). Dia mengenal hampir semua elitnya. Dia punya privilese untuk memanggil Megawati Sukarnoputri dengan sebutan akrab, “Mbak Ega,” misalnya. Dia sedikit banyak ikut memberikan pandangan-pandangannya tentang partai dan tentang Indonesia.

Baca Juga  Polres Kepulauan Sula Bongkar Keberadaan Pabrik Cap Tikus di Leko Kadai

Banyak orang mengatakan bahwa Mas Connie adalah ‘intelektual’ dibalik PDIP. Saya menyetujui pendapat itu. Mas Connie memiliki visinya tentang Indonesia. Karena dia ilmuwan politik, saya kira dia juga tahu persis langkah-langkah strategis yang harus diambil untuk memajukan bangsa ini.

Dari Mas Connie pulalah saya pertamakali mendengar nama Ir. Joko Widodo atau Jokowi, yang sekarang menjadi Presiden RI. Waktu itu, saya menelponnya dari Amerika dan bertanya-tanya soal desentralisasi dan elit lokal. Jokowi ketika itu baru saja menang pemilihan menjadi Walikota Surakarta. Dalam perbincangan kemudian, saya tahu bahwa Mas Connie ternyata sangat dekat Jokowi. Setidaknya, dia ikut andil dalam menyertai perjalanan politik Jokowi.

Beberapa kali serangan jantung membuat Mas Connie harus menghentikan aktivitas politiknya. Dia kembali ke kampus dan mengerjakan pekerjaan yang sejak awal dia cintai: mengajar dan meneliti. Dia membereskan disertasinya, membuat publikasi, dan pada akhirnya memperoleh gelar guru besar dalam ilmu politik.

Jika saja tidak terkendala masalah kesehatan, saya kira, Mas Connie pasti berada di lingkaran dalam presiden. Dia pasti berguna sebagai konselor dan saya percaya nasehat-nasehatnya pasti sangat inklusif dan menekankan kepentingan rakyat biasa dari bangsa ini.

Baca Juga  KKIG Kota Bitung Gelar Rapat Finalisasi acara Walimah dan Tab'ligh Akbar

Mas Connie adalah seorang yang sangat inklusif. Dia memiliki sahabat dari berbagai latar belakang. Dia tidak mengikatkan pendirian politiknya dengan pergaulan antar-manusia. Ketika iklim di lingkungannya menjadi sangat toxic, dia mampu mengambil sikap independen. Tetap dihormati dan dihargai semua pihak. Kemampuan inilah yang tidak dimiliki oleh banyak orang.

Ini sangat tampak ketika dia diminta untuk melakukan ‘vetting’ untuk satu jabatan politis tertentu. Dia akan mengusulkan orang-orang tanpa memandang latar belakang primordialnya. Dia sangat memperhatikan kemampuan orang yang dia usulkan.

Terakhir saya bertemu dengan Mas Connie di RS Mount Elizabeth di Novena, Singapore. Dia sedang melakukan kontrol atas kesehatannya. Kami berbincang lebih dari tiga jam. Waktu yang sangat lama. Seperti biasa dia memberikan informasi apa saja yang dia ketahui. Saya berjanji untuk menulis di jurnal yang dia asuh. Tentu saja, janji itu belum dapat saya penuhi.

Kepergian Mas Connie adalah sebuah kehilangan. Dia dikenal sebagai guru yang baik, mentor yang penuh perhatian, dan seorang ahli strategi politik yang sangat memperhatikan bagaimana merangkul sebanyak mungkin orang dalam proses politik. Indonesia kehilangan seorang intelektual nasionalis yang sangat berdedikasi dan mencintai negerinya. (*)