Ini Dia Penyebab Terjadinya Gempa Dahsyat di Ambon 26 September 2019 Lalu

oleh -132 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Kamis, 26 September 2019 lalu, tepatnya pada pukul 06.46 WIB, gempa dengan kekuatan 6,5 Magnitudo mengguncang wilayah Ambon, Kairatu , dan Haruku di Maluku. Akibatnya, 38 orang dilaporkan tewas dalam bencana tersebut.

Episenter gempa tektonik ini terletak pada koordinat 3,34 LS dan 128,45 BT, atau tepatnya berlokasi di darat dengan jarak 45 km ke arah tenggara kota Kairatu , atau pada jarak 42 km ke arah timur laut kota Ambon dengan kedalaman 10 km.

Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono, dengan melihat lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa yang terjadi di Maluku merupakan jenis gempa dangkal yang diakibatkan aktivitas sesar aktif.

Daryono, Kabid Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Foto: Utomo P/kumparan

Menurutnya, kawasan ini memang memiliki tatanan tektonik yang cukup kompleks. Ada beberapa unsur tektonik yang ada di wilayah tersebut, yakni Sesar Sorong, Sesar Buru, Sesar Tarera Aiduna , dan Seram Trough . Adapun terjadinya gempa Kairatu , Haruku, Masohi, dan Ambon, berkaitan dengan aktifnya salah satu struktur sesar.

“Dari sebuah paper ditemukan bahwa sumber sesar aktif jalurnya membentang dari timur, dari Pulau Gorom sampai ke barat Pulau Manipa , dan itu berimpit dengan Sesar Seram. Ini merupakan Sesar Mendatar Kawa yang akhirnya bisa menjawab gempa-gempa besar disertai tsunami yang pernah terjadi pada masa lalu,” ujar Daryono, dalam konferensi pers Penanganan Bencana di Ruang Serba Guna Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Rabu (2/10) lalu.

Baca Juga  Warga KKSS Halmahera Selatan, Meriahkan HUT dengan Kegiatan Olahraga

Struktur Sesar Mendatar Kawa sendiri memiliki pola membentuk busur, melengkung ke utara dari timur ke barat, membentang dengan jarak mencapai 453 km. Sebelum gempa berkekuatan 6,5 magnitudo terjadi, BMKG mencatat, sejak 28 Agustus 2019, telah terjadi rentetan gempa kecil yang terjadi di sekitar sesar, dan ini merupakan gempa pembuka sebelum gempa besar terjadi.

Ini tak lain karena Gempa Ambon, Haruku, dan Kairatu , kata Daryono, merupakan gempa shallow crustal atau kerak dangkal yang disusul oleh sesar aktif. Gempa ini memiliki tipe yang didahului oleh gempa pembuka atau forseshocksmainshocks, dan aftershocks.

Kerusakan akibat Gempa di Desa Liang

Selain itu, rentetan gempa yang terjadi di Ambon telah menjawab gempa besar yang terjadi di masa lalu. Tercatat, setidaknya ada 4 kejadian gempa dan tsunami yang dikaitkan dengan Sesar Mendatar Kawa.

Pertama, gempa yang terjadi pada 17 Februari 1674. Kala itu, kekuatan gempa diperkirakan berkekuatan 7,8 magnitudo, hingga menyebabkan tsunami besar yang dikenal Tsunami Rumphius . Akibat gempa dan tsunami ini, sekitar 2.243 orang tewas dalam bencana tersebut.

“Ternyata, sesar ini pernah membangkitkan gempa tersebut. Kemudian 1899, juga terjadi gempa dan tsunami di Seram hingga ada kisah Desa Elpaputih yang hilang dan diperingati setiap tahunnya,” jelasnya. “Gempa disertai tsunami yang terjadi di Seram pada 30 September 1899 itu, berkekuatan 7,8 magnitudo, dan menewaskan 4.000 jiwa.”

Baca Juga  SKP Ambon musnahkan 30 kantong benih tumbuhan asal Belanda
Lokasi pengungsian di Desa Kabauw

Selanjutnya, Seram kembali diguncang gempa dan tsunami pada 14 Maret 2016 dengan kekuatan 6,4 magnitudo, dan 3 orang dilaporkan tewas dalam bencana tersebut. Terakhir, gempa yang terjadi beberapa hari lalu, tepatnya pada 26 September 2019 dengan kekuatan 6,5 magnitudo. Gempa yang mengguncang tiga wilayah sekaligus ini menewaskan 28 orang.

“Secara regional, Sesar Mendatar Kawa ini memiliki struktur yang cukup panjang, sehingga khusus di wilayah Kairatu sesar ini dapat disebut sebagai ‘Segmen Sesar Kairatu ’,” ujarnya.

Gempa Pukul 13.50 WIB hari ini Senin (7/10)


Daryono, menjelaskan bahwa dalam setiap peristiwa gempa kuat terjadi deformasi batuan kerak bumi yang menyebabkan pergeseran blok batuan.

“Karena blok batuan yang bergeser sangat luas, maka terjadilah ketidaksetimbangan gaya tektonik di zona tersebut. Akhirnya muncul gaya-gaya tektonik untuk mencari kesetimbangan menuju kondisi stabil,” paparnya.

“Dalam proses mencari kesetimbangan gaya tektonik itu, terjadilah deformasi-deformasi kecil pada batuan di sekitar pusat gempa utama yang dimanifestasikan sebagai gempa susulan.”

Baca Juga  Ibadah dan Perayaan Natal Lantamal IX Ambon Berjalan Khidmat

Menurutnya, gempa susulan di kawasan Ambon dan sekitarnya lazim terjadi.

“Lazimnya gempa kuat dengan magnitudo di atas 6,0 maka wajar jika terjadi aktivitas gempa susulan. Semakin besar magnitudo gempa, maka potensi gempa susulannya semakin banyak, apalagi jika ditunjang dengan kondisi batuan di wilayah tersebut yang rapuh,” tuturnya.

Banyaknya aktivitas gempa bumi susulan di Kairatu – Ambon, jelas Daryono, menggambarkan karakteristik batuan di wilayah tersebut yang rapuh.

Akan tetapi, sambungnya, tren frekuensi aktivitas gempa susulan Kairatu – Ambon kini semakin mengecil, walaupun Ambon sempat diguncang gempa susulan bermagnitudo 3,0 pada pukul 10.41 WIB.

Beberapa jam sebelumnya, gempa bermagnitudo 4,1 mengguncang sekitar pukul 08.21 WIB

Waspadai Hoaks

Daryono mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah percaya kepada berita bohong alias hoaks terkait prediksi gempa dan tsunami yang disebarkan pihak yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Gempa bumi belum dapat diprediksi dengan akurat kapan, di mana, dan berapa besar kekuatannya,” cetusnya.

Dia juga menganjurkan agar para pengungsi yang tempat tinggalnya masih kuat dan kokoh untuk kembali ke rumah dan beraktivitas seperti biasa.

“Sebaliknya bagi warga yang rumahnya sudah rusak dan membahayakan jika terjadi gempa, maka sebaiknya tidak dihuni dulu,” tutupnya.

Pekan lalu, dilaporkan setidaknya 108.000 orang memilih mengungsi. Pihak berwenang telah meminta pengungsi kembali ke rumah, tapi mayoritas enggan pulang karena gempa susulan masih berlangsung. (red/rtl/kcm/bbc)