Inspirasi Puisi Lusiadi

oleh -122 views
Link Banner

Oleh: Moksen Sirfefa, Peminat Sejarah dan Peradaban

Luar biasa, itulah kalimat yang pantas disematkan pada karya penyair besar Portugis ini, Luís Vas de Camões. Puisi Lusiadi dari versi asli Os Lusiadas adalah mahakarya sastra dunia yang layak dibanding dengan karya klasik Aenid dari Virgil untuk kesusasteraan Romawi Kuno, atau Iliad dan Odyssey karya Homer untuk kesusateraan Yunani Kuno.

Kepiawaian puitis epik Camões ada pada fantasi kepenyiarannya terhadap kedigdayaan bangsa Portugis mencari dunia baru pada abad ke-15 dan abad ke-16. Tidak heran di dalam karya ini, dia mengangangkat bangsa Portugis setinggi langit dan memuji para rajanya.

Camões yang lahir di Portugal Utara tahun 1524 dan sejak muda dididik sang paman di Biara Santa Cruz. Tumbuh remaja dan memerankan seni panggung komedi sejak muda. Ia merantau ke India di umur 26 tahun dan kembali lagi ke Lisbon tahun 1550 dan menggandrungi night club di Lisbon. “Mereka adalah para peri yang lebih banyak ditemukan di Lisbon daripada di tempat lain” (Surat dari Lisbon).

Tahun 1551, ia naik panggung pada Komedi Raja Seleucus, berperan sebagai narator. Suatu malam 16 Juni 1552 dia melukai seorang petugas Istana, Borge Corte-Real, entah karena kasus apa. Ia harus ditahan dan dipenjara di Lisbon. Pada 7 Maret 1553 ia dibebaskan dan pada tanggal 24 atau 26 Maret, dalam usia 29 tahun ia bergabung dengan armada Fernao Alvare Cabral ke India.

Dia tiba di Goa bulan September tahun yang sama. Pada bulan November ia mengikuti ekspedisi melawan Raja Chembe, yang dikenal sebagai Raja Lada. Antara bulan Februari dan November 1554 ia bergabung dalam ekspedisi Selat Mekah dalam armada yang dipimpin oleh D. Fernando de Menezes. Ia mengunjungi Monte Felix di Abysinia, di pantai Afrika yang menghadap Teluk Aden. Dia melakukan perjalanan di sepanjang pantai Arab ke Muscat dan tiba di Ormuz di Persia (Iran) dan kembali beristirahat di Muscat (kini ibukota Oman) di tahun yang sama.

Karakternya yang suka memberontak dan berkata apa adanya, sering membuat penguasa Portugis di Lisbon maupun di daerah jajahan marah. Tahun 1555 ia memerankan seni panggung komedi di Goa dan menyindir perilaku bangsanya itu. Fransisco Barreto penguasa Portugal di Goa menerima laporan dari orang-orang Portugis di Goa tentang tulisan-tulisan dan aksi panggung Camões yang selalu mengeritik dan mengolok-olok bangsanya sendiri di daerah jajahan. Barreto lalu membebaskan Camões dari dinas militer dan membuangnya ke Ternate.

Padahal jika membaca Puisi Lusiadi, terlihat jelas nasionalisme Portugis Camões yang menggebu-gebu. Ia mengidolakan Vasco da Gama dengan pujian, Vasco da Gama yang agung. Sementara Ferdinand Magellan yang sama-sama dari Portugal Utara disebutnya tidak setia. Ya, Magellan kecewa pada Raja Manuel (Portugal) karena proposal permintaan dana eksplorasi rempahnya dua kali ditolak Manuel. Ia pun membelot ke Raja Carlos I (Spanyol) dan ekspedisinya berhasil mencapai Kepulauan Rempah, walaupun Magellan sendiri harus martir di Mactan.

“…Di sepanjang pantai milik raja-raja Portugis,
Ia mencari wilayah paling terpencil :
Selat yang kemudian ditemukan Magellan,
Padahal ia bukan orang Portugis yang setia.” ( Puisi Lusiadi, X, 140).

Di sisi lain, Camões memahami Afrika Utara dan bersentuhan dengan kaum Moro (nama yang dipakai Portugis dan Spanyol untuk menyebut kaum Muslim). Kata Moro selalu mengisi setiap bagian Puisi Lusiadi.
Ini menunjukan bahwa Camões memiliki pengetahuan tentang sejarah penaklukan daratan Andalusia (Portugis dan Spanyol). Di beberapa bagian, ia kagum sekaligus sinis.

“Saat mereka makan dengan riang,
Mereka bertanya,
Dalam Bahasa Arab, tempat asal orang Portugis,
Siapa mereka, darimana apa yang mereka cari,
Wilayah laut mana yang sudah mereka lewati?
Orang Portugis pemberani,
Memberikan jawaban yang tepat dan bijaksana.
Kami orang Portugis, dari Barat,
Dan kami sedang mencari negeri-negeri di Timur.” ( Puisi Lusiadi, I, 50)

“Orang Moro yang durhaka,
Membenci kekuatan orang Kristen dan tidak tahu,
Mereka mendapat dukungan Benteng Ilahi.
Bahkan neraka yang mengerikan menyerah padanya.
Dengan bantuan surgawi dan kekuatan luar bisa,
Raja Kastilia menyerang Raja Maroko yang perkasa.
Orang Portugis yang tidak takut rintangan,
Menjadi ditakuti di kerajaan Granada.” ( Puisi Lusiade, III, 112)

Granada adalah kota di Spanyol ibukota Arab kecil sampai tahun 1492, dan kaum Muslim Granada disebutnya Granadil.

“Dengan berbagai usaha orang Portugis,
Menghancurkan Orang Granadil dan dalam waktu singkat,
Benar-benar melenyapkan kekuatan orang Moro.” ( Puisi Lusiade, III, 114)

Membaca karya sastra ini kita disuguhkan pengetahuan sejarah, filsafat dan geografi. Penguasaannya pada mitologi Yunani dan astrologi membuat Puisi Lusiadi seolah dilindungi dewa-dewi Yunani dan dihiasi rasi bintang.

“Oh Dei Calliope, ajarilah aku,
Mengungkapkan yang dikatakan Vasco da Gama yang masyhur pada raja,
Berikan inspirasi puisi abadi dan suara ilahi,
Di hatiku yang fana yang sangat mencintaimu.
Dan kemudian aku membuat Apollo, dewa pengobatan,
Laki-laki yang memberimu anak, Orpheus, hai wanita jelita.
Agar tidak pernah mengubah dirimu menjadi Clicie,
Leucotoe atau Dane dan jangan kau tolak cinta tulus yang melenakan” ( Puisi Lusiade, III, 1)

Buku ini juga mengandung beberapa ajaran moral. Camões menasehati pentingnya menjadi pribadi yang kuat atas godaan tahta, harta dan wanita.

“Hati-hati yang kuat dapat menjadi lemah,
Karena cinta yang tidak nyaman,
Seperti yang terlihat pada putra Alcmene
Yang tampak seperti wanita saat jatuh cinta pada Orfale
Atau seperti Marco Antonio yang reputasinya rusak,
Karena terlalu menyukai Cleopatra….” ( Puisi Lusiadi, III, 141)

“Ketangkasan, tari, dan aneka hiburan
Adat-istiadat Malindi memancing di pantai menyenangkan
Seperti Cleopatra yang menghibur Antonio,
Yang dicinta sekaligus diperdaya…” ( Puisi Lusiadi, VI, 2).

“Sequeira yang luar biasa
Air Eritrea akan membelah dan membuka jalan baru
Menuju kerajaan besar,
Yang tak mengenal takut, karena keturunan Candance dan Saba.” ( Puisi Lusiade, X, 52).

Sebagian mengatakan Candance adalah nama Ratu Ethiopia sementara yang lain menyebutnya nama jabatan. Sedangkan Saba mengacu pada Ratu Sheba yang dikenal dengan nama Bilqis di dalam tradisi Islam. Menurut tradisi Yahudi, Bilqis mengunjungi Raja Salomo di Yerusalem dan memiliki seorang putra darinya, yang kemudian menjadi nenek moyang raja-raja Ethiopia. (Kisah Ratu Sheba dan Raja Salomo versi Islam telah saya tulis dalam salah satu Rorano saya tempo hari).

Karya sastra ini termasuk “asing” bagi pembaca jika Danny Susanto, penerjemah karya besar tak berpengalaman di bidang penerjemahan. Dia adalah doktor Ilmu Susastra dan Ketua Association of Indonesian Conference Intrepreters) dan seorang polyglot yang telah menerjemahkan beragam jenis teks dan film berbahasa Ingris, Prancis, Italia, Spanyol dan Portugis. Kepiawaiannya menambahkan 1412 anotasi dalam catatan kaki membuat karya Camões ini lebih menghujam dan menambah khazanah pengetahuan umum pembaca.

Karya yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia ini pada tahun ini (2022) diterjemahkan bersama dalam bahasa Indonesia, Turki dan Arab. Tapi semua orang tak akan menikmati karya besar ini jika sang penulis tidak dibuang jauh dari kota kelahirannya menuju Ternate. Kota kecil di kaki gunung Gamalama ini memiliki pesona yang tak lekang dimakan abad. Hamparan tanah Halmahera di hadapannya dan puncak kerucut gunung Tidore Matubu di sebelahnya, Camões terinspirasi. Di tahun 1556, pada usia 32 tahun, ia menulis Os Lusiadas.

“Perhatikan bahwa di tepian lautan Timur,
Banyak pulau yang tersebar,
Lihatlah Tidore dan Ternate,
Dengan puncaknya yang bergolak,
Yang melontarkan gelombang api.
Kau akan melihat pohon cengkeh terbakar,
Yang dibeli dengan darah orang Portugis,
Ada burung emas yang tidak pernah turun ke bumi,
Dan hanya muncul setelah kematiannya.( Puisi Lusiadi, X, 140).

Selamat “Tambaru”🙏🏿

Ciputat, 31 Desember 2022.

Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.