Serangan tersebut memicu Iran menutup Selat Hormuz. Washington kemudian merespons dengan memberlakukan blokade Angkatan Laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Gangguan terhadap lalu lintas di Selat Hormuz kemudian berdampak terhadap pasar energi global. Harga minyak dunia sempat melonjak hingga mencapai sekitar USD120 per barel.
Gharibabadi mengatakan Iran tidak akan membuka selat tersebut hanya karena mendapat tekanan dari Washington.
“Jalur perairan tersebut hanya akan ditutup dan dibuka di bawah komando Iran, dan selama Anda tidak menerima kenyataan kekalahan serta menghentikan delusi muluk-muluk Anda, Iran akan terus memberlakukan blokade tersebut,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa Teheran tidak gentar menghadapi ancaman maupun unjuk kekuatan militer AS.
Pernyataan itu menjadi respons langsung terhadap ucapan Trump saat berbicara di sebuah akademi kepolisian di Nassau County, New York, Jumat.
Trump saat itu mengklaim Republik Islam Iran telah mengalami kekalahan telak.
“Begitu kemenangan diraih, dalam waktu dekat, saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah AS,” kata Trump.
Teheran Ajukan Syarat Pembukaan Selat
Di tengah kebuntuan tersebut, Iran sebelumnya telah mengajukan sejumlah persyaratan untuk membuka kembali Selat Hormuz.









