Jakarta Disebut Bakal Jadi Contoh Penerapan New Normal, WHO Ingatkan Hal Ini ke Indonesia

oleh -46 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Indonesia N. Paranietharan ikut menanggapi rencana DKI Jakarta yang akan dijadikan sebagai provinsi percontohan untuk penerapan new normal. Skenario new normal kian bergema meski pandemi COVID-19 di Indonesia belum berakhir.

Paranietharan mengingatkan pemerintah untuk memperkuat keandalan data jika memang ingin melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Sebab, saat ini negara-negara di dunia tengah dihadapkan pada situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, tak terkecuali Indonesia.

“Apa yang diperlukan Jakarta saat ini adalah membuat data semakin reliabel dari sebelumnya,” ujarnya seperti dilansir porostimur.com dari CNBC Indonesia, Rabu (27/5/2020).

Untuk menyongsong kehidupan baru ini, protokol kesehatan harus benar-benar diterapkan secara ketat. Sebab hal itu menjadi syarat mutlak. Begitu juga dengan pendeteksian virus. Deteksi virus bisa dilakukan dengan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR).

Link Banner

Semakin cepat pengujian spesimen dilakukan, maka akan semakin banyak pula nyawa yang bisa diselamatkan. Selain itu, pemerintah juga harus gencar untuk melacak riwayat interaksi pasien dengan orang-orang di sekitarnya.

Baca Juga  Kemenhub Gelar Bimtek Keselamatan Pelayaran Periode VII di Ambon

Lebih jauh, ia menyebutkan  jika angka reproduksi virus bisa diturunkan jika sebagian besar orang disiplin untuk menerapkan protokol kesehatan. Setidaknya, ia menyebut sebanyak 80 persen.

“Jika kita memiliki setidaknya 80 persen orang yang disiplin cuci tangan, menggunakan masker yang dapat digunakan kembali, dan menjaga jarak fisik,” tutur dia. “Maka kita dapat menurunkan angka reproduksi virus ke bawah 1.”

Hal senada juga disampaikan oleh Tim Pakar Modeling Gugus Tugas COVID-19 dr. Panji Fortuna Hadisoemarto. Penerapan new normal harus diiringi dengan akurasi data yang tepat. Pertimbangan yang dilakukan harus berdasarkan data dan fakta di lapangan.

“Saya pikir yang perlu digarisbawahi adalah membuka ekonomi harus didasari perhitungan-perhitungan yang mewakili penyebaran virus,” tutur Panji masih dilansir CNBC Indonesia. “Bagaimana kondisi yang sedang terjadi saat ini, bukan hanya pertimbangan yang sifatnya feeling.” (red/rtm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *