Jaksa Agung ST Burhanuddin Punya Hubungan Khusus dengan Jaksa Pinangki?

oleh -166 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Benarkah Jaksa Agung ST Burhanuddin punya hubungan khusus dengan Jaksa Pinangki? begini reaksi Kejaksaan Agung.

Kabar tak sedap menghampiri Jaksa Agung ST Burhanuddin di tengah penanganan kasus Djoko Tjandra dan Jaksa Pinangki.

Disebut-sebut Jaksa Agung ST Burhanuddin punya hubungan kedekatan khusus dengan Jaksa Pinangki.

Benarkah demikian?

Link Banner

Melansir Kompas.tv, sejumlah petinggi Kejaksaan Agung mengungkap adanya kedekatan antara Jaksa Pinangki dan Jaksa Agung ST Burhanuddin.

Kabar ini seperti tertuang dalam laporan khusus Tempo yang menyebutkan keduanya memiliki kedekatan.

Bukan tanpa sebab Jaksa Agung ST Burhanuddin dan Jaksa Pinangki punya kedekatan, lantaran keduanya pernah bertugas di Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara pada 2012.

Karena kedekatan itulah, dikabarkan, kepergian Jaksa Pinangki ke Singapura untuk menemui Djoko Tjandra sepengetahuan Jaksa Agung ST Burhanuddin.

Disebut-sebut Jaksa Pinangki lah yang memberi tahu ke Jaksa Agung mengenai kepergiannya.

Hal itu, kabarnya, diungkap Jaksa Agung Pinangki dalam serangkaian pemeriksaan di Kejaksaan Agung.

Pemeriksaan itu juga mengungkap, Jaksa Pinangki sempat menggelar video call dengan ST Burhanuddin setelah Djoko Tjandra sepakat membayar USD100 juta untuk pengurusan fatwa.

Reaksi Kejaksaan Agung

Terkait kabar liar yang berhembus tersebut, Kejaksaan Agung melalui Kepala Pusat Penerangan dan Hukum (Kapuspenkum) Hari Setiyono membantah.

Baca Juga  Ganti kepemimpinan, PD Panca Karya harus berdaya saing

Menurutnya Jaksa Agung ST Burhanuddin dekat dengan siapapun anak buahnya.

Kendati demikian hubungan Jaksa Agung dengan anak buahnya hanya sebatas profesional, bukan hubungan khusus.

“Jaksa Agung dengan staf sangat dekat. Cara milenial. Tidak jaga jarak,” kata Hari.

Apalagi jika sebelumnya pernah bersama dalam hubungan kedinasan.

Menurutnya, Jaksa Agung juga perhatian dengan anak buah.

Karena bagi Jaksa Agung, anak buah merupakan partner kerja.

Periksa teman dekat Jaksa Pinangki

Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Senin (24/8/2020), memeriksa seorang teman dekat Jaksa Pinangki Sirna Malasari bernama Andi Irfan Jaya.

Irfan diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan suap terkait polemik Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra di mana Jaksa Pinangki berstatus sebagai tersangka.

“Saksi yang diperiksa atau diminta keterangannya adalah saudara Andi Irfan Jaya,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Hari Setiyono melalui keterangan tertulis, Senin.

Hari menuturkan, Irfan sebelumnya pernah dipanggil untuk diperiksa pada 10 Agustus 2020 silam.

Baca Juga  Kian Digemari Para Hijabers, Inilah Wujud Hijab Crinkle

Namun, pada saat itu Irfan tak memenuhi panggilan dengan alasan sakit.

Maka dari itu, Irfan baru diperiksa pada Senin kemarin.

Menurut Hari, pemeriksaan Irfan terkait permohonan peninjauan kembali (PK) yang diajukan oleh Djoko Tjandra secara diam-diam pada Juni 2020.

Sebagai informasi, Djoko Tjandra merupakan narapidana kasus pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali yang sempat buron selama 11 tahun.

“Pemeriksaan saksi dilakukan guna mencari serta mengumpulkan bukti, yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam pasal 1 angka 2 KUHAP,” tutur dia.

Dalam kasus ini, Kejaksaan Agung menemukan bukti permulaan yang cukup adanya dugaan tindak pidana berupa penerimaan hadiah atau janji oleh pegawai negeri.

Baca Juga  Masuki Pensiun, Brigjen TNI Erwansyah Resmi Diganti Heri Sapari

Menurut Kejagung, Jaksa Pinangki diduga berperan dalam memuluskan permohonan peninjauan kembali (PK) yang diajukan Djoko Tjandra beberapa waktu lalu.

Selain itu, Kejagung mengungkapkan, Jaksa Pinangki sempat bertemu dengan Djoko Tjandra di Malaysia saat masih buron.

Jaksa Pinangki diduga menerima uang suap sebesar 500.000 dollar Amerika Serikat atau jika dirupiahkan sebesar Rp 7,4 miliar.

Selain ditetapkan sebagai tersangka, Pinangki ditangkap 11 Agustus 2020 malam.

Selanjutnya, ia ditahan di Rutan Salemba cabang Kejagung untuk 20 hari yang terhitung selama 11-30 Agustus 2020.

Terkait kasus ini, Jaksa Pinangki pun disangkakan Pasal 5 Ayat (2) Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 250 juta. (red/rtm/tribun)