Oleh: Arbangi Kadarusman, Penulis
Saya, Anda, atau bahkan kita semua mungkin heran melihat raksasa sebesar Amerika Serikat, yang biasanya kalau bicara itu seperti guntur, tiba-tiba mau duduk manis dan mengangguk pada syarat-syarat yang diajukan Iran. Setelah tiga puluh sembilan hari mereka baku hantam, di mana pangkalan-pangkalan militer yang megah itu luluh lantak, dunia bertanya-tanya: “Bensinnya Iran ini apa kok nggak habis-habis?”
Analis politik di medsos sibuk menghitung jumlah rudal hipersonik atau akurasi serangan. Tetapi kalau hanya menghitung berapa jumlah hulu ledak, kita tidak akan pernah paham kenapa negara sekecil Iran sanggup membabat habis pangkalan-pangkalan raksasa di Timur Tengah hingga AS terpaksa bertekuk lutut di meja gencatan senjata.
Strategi perang modern itu dasarnya adalah teror. Mereka bom rumah sakit, mereka hancurkan universitas, tujuannya supaya rakyat mentalnya jatuh dan membenci pemerintahnya sendiri. Begitu kalkulasi Trump dan para jenderal di Pentagon. Tapi mereka salah alamat ketika menerapkan itu di tanah yang frekuensi cintanya nyambung ke Sayyidina Ali.
Di Iran, ketika fasilitas publik diancam akan dilumat, rakyatnya tidak demo minta menyerah. Mereka justru demo mendukung pemerintah sambil berdiri memagari fasilitas listrik dan jembatan. Secara logika materialisme, tindakan ini dianggap gila. Mana mungkin daging manusia bisa menahan ledakan bom?









