Jatuhnya Benteng Duurstede di Saparua

oleh -214 views
Link Banner

Oleh: Frieda Amran, Anthropolog, penulis dan pemerhati sejarah, bermukim di Belanda

Di Eropa, seperti laba-laba, Napoleon memanjangkan jari-jarinya dan meraup berbagai negeri ke bawah kekuasannya, kecuali Inggris di seberang selat. Belanda, yang sempat dikuasai juga, khawatir bahwa Prancis akan merebut juga tanah jajahannya di nusantara. Karena itu, mereka meminta dan membiarkan Inggris berkuasa, untuk sementara.

Seperti orang yang main Monopoli, Inggris dan Belanda berebut dan bertukar-tukaran ‘properti’ di Asia. Seenak jidat. Beberapa tahun berlalu. Di kawasan timur nusantara, pada tahun 1816, Inggris hengkang dan Ambon kembali jatuh ke tangan Belanda. Untuk unjuk kekuatan kepada penduduk setempat dan mempertahankan kekuasaannya, Belanda mengirimkan pasukan yang terdiri sekitar 2000 orang serdadu dan beberapa orang pegawai pemerintahan.

Johannes Rudolph van den Berg diangkat sebagai Residen baru di Pulau Saparua. Residen van den Berg adalah lelaki yang masih sangat muda. Usianya baru 27 tahun saja. Anak bawang, sebetulnya. Ia sama sekali tidak berpengalaman memimpin suatu daerah. Ia membawa isterinya, Johanna Christina Umbgrove dan empat orang anak yang masih kecil-kecil. Keluarga muda itu tiba di Saparua pertengahan Maret 1817.

Link Banner

Entah sejak tahun kapan, Belanda telah mendirikan sebuah benteng di Saparua. Seperti juga di daerah-daerah lain di nusantara, benteng itu kemungkinan berbentuk persegi empat dengan sebuah pintu gerbang besar yang selalu dijaga. Di keempat dindingnya, terdapat parapet (semacam balkon) tempat mereka menyiapkan setidak-tidaknya empat buah meriam yang dapat diputar di asnya sehingga memungkinkan mereka menembakkan meriam itu ke segala penjuru mata angin. Barak militer, gudang, bilik kesehatan, kantor administrasi penjajahan dan kediaman Residen terdapat di dalam benteng.

Barangkali, ketika baru tiba, Johanna sibuk menata rumah tangganya. Di Belanda, mungkin ia biasa melakukan segala sesuatu sendiri; di Saparua, sebagai isteri Residen, pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga dimudahkan oleh adanya koki yang menyiapkan makanan dan minumannya, pengasuh(-pengasuh) anak, tukang cuci, tukang bersih-bersih dan tukang kebun.

Baca Juga  Ayah Tiri di Bekasi Lempar Bayi ke Tembok karena Tidur Terganggu

Walaupun ia sebetulnya dapat menghabiskan waktunya dengan bersantai-santai saja, ia pasti merasa lelah, resah dan gerah. Kubayangkan perempuan Belanda tuh megap-megap kepanasan. Roknya yang panjang menyapu lantai seperti membelenggu kakinya. Blusnya juga berlengan panjang. Dan kakinya terbungkus kaus kaki dan sepatu. Pastilah itu harus dikenakannya karena alas kaki, sepatu, adalah salah satu pembeda manusia yang ‘beradab’ dan orang-orang Saparua dan Ambon yang sebagian besar tidak beralas kaki. Bahkan mungkin mereka sumur hidup belum pernah menyusupkan kakinya ke dalam benda yang disebut sepatu! Karena itu, Johanna, perempuan Belanda yang beradab, pastilah bersepatu walau kesepuluh jari kakinya seperti berteriak-teriak kepanasan terkurung sepatu bot dari kulit.

Mungkin Johanna dan suaminya, Sang Residen, awalnya sulit tidur. Udara panas menyelimuti dunia di kamar tidur mereka. Mungkin juga, Johanna harus beberapa kali bangun karena anak-anaknya rewel kegerahan. Serba salah, memang. Bila jendela dibuka, angin sepoi yang bertiup dari laut pastilah melegakan nafas. Akan tetapi, bersama angin itu, masuklah pula jutaan nyamuk yang berdenging-denging di kuping dan menggigit segala bagian tubuh yang tidak tertutup baju atau selimut. Barangkali mereka tidur di bawah kelambu. Itu takkan menyelesaikan masalah karena angin tak mampu menyusup ke dalam lubang-lubang kecil kelambu itu. Kurasa nyonya muda itu baru dapat tertidur pulas—kelelahan sendiri—menjelang pagi.

Pada suatu dini hari, kira-kira dua bulan setelah mereka tiba di Saparua, ketika matahari belum mengoyak langit, di luar benteng tampak bayang-bayang hitam bergerak-gerak dan berpindah dari balik pohon ke semak-semak dan menyelinap ke pohon lainnya. Semakin lama, bayang-bayang itu semakin mendekat ke benteng. Tak terdengar suara kecuali kesiur angin di antara dedaunan dan suara binatang-binatang malam yang hendak mencari tempat untuk tidur.

Kubayangkan penjaga pintu gerbang benteng mungkin mulai mengantuk. Barangkali ia bahkan sudah tertidur dibuai angin laut dini hari. Tiba-tiba ia terjaga. Kraak! Derak ranting yang patah dan jatuh ke bumi? Ataukah patah berderak diinjak kaki orang? Matanya yang biru membelalak. Ia melompat berdiri dan membunyikan tanda bahaya. Di dalam benteng, semua orang terbangun. Juga keluarga Residen van den Berg.

Baca Juga  TNI-Polri di Kabupaten Buru Swadayakan Dapur Umum Bantu Dampak Covid

Johanna mengumpulkan anak-anaknya dan mencari sudut yang aman untuk berlindung, sementara suaminya, Sang Residen segera mengenakan pakaian seadanya dan bergabung dengan pasukan-pasukan yang sudah mengangkat senjata untuk mempertahankan benteng. Residen melangkah ke salah sebuah meriam putar. Ia menyulut ujungnya. Malang baginya, meriam itu mungkin tersumbat.

— (Aku teringat pada meriam-meriam bambu yang biasanya disundut pada saat jelang Lebaran di Palembang. Atau mungkin, jelang Hari Kemerdekaan. Entahlah kapan anak-anak Palembang biasa menyundut meriam buluh—meriam bambu. Di salah satu ujungnya, buluh bamboo itu diisi karbit yang kemudian disundut api. Lalu, … DAAAR !!! Meledaklah suara meriam itu. Akan tetapi, terkadang walau sudah disundut, meriam itu tak meledak juga. Mungkin karena karbitnya lembab atau buluhnya lembab. Itu berbahaya sekali karena kalau itu terjadi, yang menyundut menjadi penasaran dan melongokkan kepala ke lubang tempat menyundut. Seandainya karbit itu tiba-tiba menyala, api karbit bisa membias juga ke lubang penyundutan. Naaaah, pun aku pernah mengalami itu. Alisku terbakar sebagian. Aku menangis tentu saja dan habis dimarahi Ibu. “Itulaaaah, …” kata Ibuku. “Lah diomongke, dak usahlah melok-melok wong main meriam tuh. Kau dak denger kato Ibu. Neh, alis kau tebakar sekarang … nangis kau. Salah dewek. Ai dah …”) —

Nah, kembali ke Saparua. Meriam yang disundut pak Residen tidak meledak dan ia melongok mendekat atau meriam itu terdorong ke belakang saking kuat dorongan ledakannya. Entahlah. Bagaimana pun, lelaki Belanda itu terluka. Beberapa orang mengangkat pak Residen yang terluka ke rumahnya. Johanna semakin ketakutan. Anak-anaknya ketakutan dan ia tak dapat menenangkan hati mereka. Ia tak dapat berlindung di dalam rangkulan suaminya. Lelaki itu terkapar kesakitan.

Baca Juga  Beli barang curian, 4 mahasiswa Poltek Ambon diamankan polisi

Di luar, pasukan-pasukan Belanda berusaha bertahan sekuat tenaga. Seperti klimaks dalam sebuah tayangan orkestra, gelegar meriam dan tembakan ditingkahi suara-suara orang berteriak, dalam bahasa Belanda dan Melayu Saparua. Ayam jago yang baru bangun menambahkan kukuruyuknya dan kebas sayap burung-burung yang tak sempat bersiul. Dengan suara yang mengerikan, pintu gerbang benteng terbuka oleh dorongan massa di luar.

Setiap langkah mundur serdadu-serdadu Belanda ditelan oleh dua-tiga langkah maju lelaki-lelaki Saparua yang menyerang. Teriak gusar dan takut, dalam bahasa Belanda dan bahasa Saparua, memecah sepi. Orang Belanda di dalam benteng berlarian, mencari perlindungan. Mau ke mana? Menyelematkan diri ke luar benteng? Tak ada gunanya. Di luar, lebih banyak lagi orang Saparua yang mengamuk marah. Di dalam benteng, tak ada tempat persembunyian.

Menjelang sore, Pattimura berjaya. Tak tampak lagi lelaki-lelaki berkulit putih yang berdiri tegak. Mereka sudah terkapar, bermandi darah. Senjata mereka sudah dirampas. Residen bersama keluarganya sudah tewas. Ruangan tempat mereka berlindung sudah dikunci rapat. Seorang penjaga duduk di depan pintu itu. Di beberapa tempat, benteng itu dijaga oleh lelaki-lelaki Saparua yang garang.

Kubayangkan benteng itu yang porak-poranda. Kursi-meja terjungkir balik. Pot-pot bunga pecah. Lantai batu licin oleh darah. Merah kecoklatan terserap tanah. Barangkali baunya bacin. Dalam peperangan seperti itu, apa yang dilakukan dengan mayat-mayat yang bergelimpangan? Kurasa mayat-mayat Saparua dibawa pulang ke kampung masing-masing untuk ditangisi keluarga dan dikuburkan. Tetapi, bagaimana dengan mayat-mayat Belanda di sana? Apakah dibiarkan saja? Sampai kapan? Ataukah dikumpulkan lalu dibuang di dalam satu lubang besar, sebuah kuburan masal? Bukankah tentara Belanda melakukan hal yang sama terhadap korban pembantaian mereka?

Tak ada catatan yang pernah kubaca tentang kegiatan pembersihan arena peperangan setelah pertempuran usai. (*)

One thought on “Jatuhnya Benteng Duurstede di Saparua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *