Jimly Asshiddiqie Geram, Tokoh KAMI Ditahan Saja Tidak Pantas, Apalagi Diborgol

oleh -112 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Prof Jimly Asshiddiqie geram melihat perlakukan rezim ini kepada tokoh Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Jumhur Hidayat dan Syahganda Nainggolan.

Jumhur dan Syahganda ditangkap karena dianggap menyebarkan informasi provokatif dan haox di media sosial terkait UU Cipta Kerja (Ciptaker).

Jumhur dan Syahganda serta sejumlah aktivis KAMI ditampilkan dalam rilis kasus di Bareskrim Polri, Kamis (15/10).

Para aktivis KAMI tampak mengenakan baju tahanan berwarna oranye dengan tangan diborgol. Mereka diperlakukan seperti penjahat kriminal.

Link Banner

“Ditahan saja tidak pantas apalagi diborgol untuk kepentingan disiarluaskan,” tegas Jimly Asshiddiqie melalui akun Twitter pribadinya, @JimlyAs, Jumat (16/10).

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu menyebut aparat kepolisian merupakan pengayom masyarakat. Seharusnya aparat lebih bijaksana dalam menegakkan keadilan.

Baca Juga  Penyaluran Bantuan Capai 95 Persen, DPRD Apresiasi Pemkot Ambon

“Sebagai pengayom warga, polisi harusnya lebih bijaksana dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. Carilah orang jahat, bukan orang salah atau yang sekedar “salah”, tandas Jimly yang juga anggota DPD RI itu.

Prof. Jimly Asshiddiqie
Prof. Jimly Asshiddiqie

Anggota DPR RI, Fadli Zon menganggap Syahganda Nainggolan dan Jumhur Hidayat merupakan tahanan politik.

Rezim ini dianggap lebih kejam dari Belanda dalam memperlakukan tahanan politik. Sebab, para tahanan politik diperlakukan seperti penjahat kriminal.

“Dulu kolonialis Belanda jauh lebih sopan dan manusiawi memperlakukan tahanan politik,” kata Fadli Zon.

Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra itu menyebut satu persatu tahanan politik yang pernah dipenjara pada masa penjajahan Belanda di tanah air.

“Lihat Bung Karno di Ende, Bengkulu n Bangka. Bung Hatta n Syahrir memang lebih berat di Digul. Di Bandanaitra lebih longgar. Merka masih diperlakukan manusiawi bahkan diberi gaji bulanan,” tandas Fadli Zon.

Baca Juga  Kapolda Maluku & Pangdam XVI Pattimura Hadiri Silaturahmi Bersama Universitas Pattimura
Fadli Zon

Salah satu deklarator KAMI, Gde Siriana Yusuf menilai perlakuan tidak manusiawi terhadap Jumhur dan Syahganda telah menyinggung rakyat dan sistem politik di Indonesia.

“Ini penghinaan terhadap rakyat dan demokrasi,” ujar Gde Siriana Yusuf.

Direktur Indonesia Future Studies (INFUS) ini mengharapkan pemerintah memperlakukan para aktivis KAMI tersebut dengan baik. Jangan justru ditampilkan dalam jumpa pers seperti pelaku kriminal lainnya.

“Aktivis politik diperlakukan bak kriminal dengan koruptor dengan tangan diborgol. Bukan seperti ini cara menghadapi perbedaan pendapat,” tegas Gde Siriana Yusuf.

Hal yang sama juga diungkapkan aktivis 98, Haris Rusly Moti. Haris Rusly menanggapi penahanan Syahganda dkk itu dengan keras.

“Sobat, dikiranya negara hanya milik dia (penguasa) saja, hanya karena pegang hukum dan pegang duit,” cuitnta di Akun twitter, Jumat (16/10/2020).

Baca Juga  Kasus Dermaga Kaimana sarat politik, massa demo PN Manokwari

Sebagai seorang aktivis yang turut menumbangkan pemerintahan orde baru, ia pun merasa sedih melihat rekan sejawatnya diperlakukan layaknya pelaku kriminal berat.

“Sangat sakit dan perih rasanya menyaksikan dua sahabat saya diborgol tangannya dan dikenakan rompi oranye kayak Djoko Tjandra (terdakwa kasus pengalihan hak tagih Bank Bali),” tandas Haris Rusly. (red/jpnn/bs)