Jokowi resmi buka Kongres ke-30 HMI di Ambon

oleh -39 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon :Dengan mengusung demokrasi Pancasila, Indonesia juga menjunjung pemahaman Islam yang moderat dan penuh toleransi.

Karenanya, sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia sesungguhnya memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin di dunia.

Hal ini diungkapkan Presiden Joko Widodo saat membuka Kongres ke-30 HMI, di Kampus uNiversitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Rabu (14/2).

Turut hadir dalam pembukaan Kongres HMI ke-30 ini Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Pratikno, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menrsitekdikti), M. Nasir, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, Menteri PU dan Perumahan Rakyat (PUPr), Basuki Hadimuljono, Gubernur Maluku, Ir. Said Assagaff, tokoh Senior KAHMI, Akbar Tanjung dan Ketua Umum Pengurus Besar HMI, Mulyadi Tamsir, Ketua MPR, Zulkifli Hasan, Ketua DPD RI, Oesman Sapta Odang dan Ketua Umum PPP, Romahurmuziy.

”Kita punya modal besar menjadi pemimpin. Islam Indonesia adalah yang moderat, bertoleransi, dan terbuka untuk kemajuan. Kita punya bukti bahwa nusantara kokoh dan bersatu, negara muslim yang sukses berdemokrasi, dan memiliki insan yang hebat, yang memperjuangkan keadilan,” ujarnya.

Baca Juga  Mahasiswa Malut Desak KPK Periksa AGK & Bahrain Kasuba

Panjangnya perjalanan bangsa kedepan, akunya, begitupun tantangan dan persaingan global pun menanti setiap langkah para anak bangsa yang dituntut untuk selalu meningkatkan kualitas guna menghadapi persaingan, khususnya bagi kader-kader HMI yang berkualitas.

”Tidak ada jalan lain selain meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang sehat, berakhlak mulia, cerdas, inovatif, dan solutif. Saya tahu ini bukan tugas ringan,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini pemerintah juga sedang melakukan upaya peningkatan kualitas dan daya saing, dimana pembangunan infrastruktur yang merata merupakan salah satu bagian dari upaya dimaksud.

Apalagi dengan melihat fakta bahwa infrastruktur di wilayah Timur Indonesia yang masih jauh tertinggal.

”Prioritas pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, waduk, dan pembangkit listrik adalah sebuah langkah awal yang dibutuhkan untuk menopang ekonomi nasional kita agar bisa berkompetisi dengan negara lain,” tegasnya.

Baca Juga  Arham Belum Ditemukan, Tim SAR akan Lanjutkan Pencarian

Salah satu bentuk perwujudan sila kelima Pancasila, terangnya, yakni menyediakan infrastruktur pembangunan yang meadai kepada masyarakat, khususnya bagi masyarakat di wilayah timur Indonesia yang masih jauh tertinggal.

”Saya berikan sebuah gambaran jalan di Papua. Berjalan 150 kilometer bisa menempuh dua sampai tiga hari. Kalau ada orang menyampaikan infrastruktur tidak penting, lihatlah kondisi seperti ini,” timpalnya.

Selain itu, terangnya, keadilan sosial juga harus menyentuh anak-anak bangsa yang kelak akan meneruskan perjuangan bangsa.

Melalui sejumlah program sosial, timpalnya, pemerintah terus berupaya mewujudkan keadilan sosial dan mengurangi kesenjangan.

”Kita ingin membangun Indonesia yang lebih adil. Kartu Indonesia Pintar (KIP) menjamin semua anak bisa bersekolah, sudah kita berikan kepada 18 juta anak. Kartu Indonesia Sehat (KIS) menjamin semua warga untuk mengakses layanan kesehatan, sudah diberikan kepada 92 juta warga,” pungkasnya. (keket)