Jual 2000 H Tanah Adat, Topilus Dipersoalkan Keluarga Kapailu

oleh -293 views
Link Banner

Porostimur.com – Masohi: Langkah Topilus Henlau yang menjual tanah adat Henlau seluas 2000 hektare lebih, di Kecamatan Bula Barat, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, diduga mencakup tanah adat milik marga Kapailu.

Hal ini lantaran Topilus Henlau telah memberikan uang dari hasil penjualan tanah adat tersebut kepada Ismail Kapailu secara pribadi. Padahal Ismail mengambil keputusan sepihak untuk menjual tanah adat tersebut tanpa ada persetujuan keluarga besar Marga Kapailu.

Kepada porostimur.com, Senin (26/10/2031), salah satu perwakilan keluarga Kapailu bernama Mahmud Kapailu, S.Sos, mengatakan bahwa keputusan Ismail itu salah karena dia telah mengambil keputusan dengan tidak transparan tanpa persetujuan keluarga besar marga Kapailu dan tanpa melakukan musyawarah bersama keluarga-keluarga marga Kapailu yang ada.

Baca Juga  Kemenag Maluku Raih Dua Penghargaan Nasional

“Sebab tanah adat marga Kapailu itu semua punya hak yang sama. Olehnya itu, sangat salah
jika Ismail mengambil keputusan tanpa persetujuan bersama keluarga-keluarga Kapailu yang ada. Krputusan yang dilakukan Ismail dengan satu atau dua orang saja, itu tidak sah karena marga Kapailu itu banyak. Bukan cuma di Hote, di Gorom, di Bula dan di Tanah Goyang saja. Marga Kapailu itu menyebar di Maluku,” tutur Mahmud.

Mahmud menambahkan, kalau tanah seluas 2000 hektare itu milik tanah adat Henlau yang sudah dijual Topilus ke pihak pembeli tidak ada masalah, akan tetapi jadi masalah jika 2000 hektare lebih yang dijual itu, sudah masuk di tanah adat marga Kapailu.

Baca Juga  Bahas Penanganan Dana Desa, Kapolda Maluku Janji Maksimalkan Peran Bhabinkamtibmas

“Karena Topilus sudah menemui Ismail Kapailu dan memberikan sejumlah uang, menurut informasi yang beredar tanah kapailu juga termasuk dalam tanah yang telah dibayarkan oleh pembeli. Itu salah dan saya akan meminta kepada pihak pembeli untuk meninjau kembali batas-batas tanah yang telah dibelinya, karena batas tanah adat marga Henlau dan Kapailu itu letaknya di sebelah barat berbatasan Waibubi Mati. Ada jembatan Waibubi Mati itu batas di situ, kalau Ismail menjual tanah milik pribadinya berdasarkan sertifikat pertanahan, ya sah-sah saja, tapi kalau tanah adat Kapailu stop, caranya salah,” tegas Mahmud.

Mahmud juga meminta kepada keluarga besar marga Henlau, agar menentukan batas-batas tanah adat antara Kapailu dan Henlau, agar lebih jelas sehingga pembeli tidak mencaplok tanah adat marga kapailu.

Baca Juga  Kapolri Tetapkan Kewenangan Penyidikan 1.062 Polsek Dihapus

“Dalam waktu dekat ini saya akan memasang papan peringatan larangan untuk tidak melakukan aktifitas apapun di tanah adat Kapailu, dan meminta pembeli agar meninjau ulang batas-batas tanah 2000 hektare yang akan dibelinya sehingga tidak menimbulkan sengketa di antara kami, dan khususnya yang menyangkut tanah adat Kapailu dan Henlau,” pungkas Mahmud. (kahar)