Juli 2019, Inflasi Bulanan Maluku Menurun

oleh -34 views
Link Banner

[carousel_slide id=’11594′]

@Porostimur.com  Ambon : Meskipun secara tahunan berada di atas sasaran inflasi, namun inflasi bulanan Provinsi Maluku pada bulan Juli 2019 menurun.

Tekanan inflasi di Maluku secara bulanan pada bulan Juli 2019, menurun jika dibandingkan bulan Juni 2019 sebesar 0,49% (mtm) dan inflasi tahunan sebesar 4,10% (yoy).

Sementara Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Maluku pada bulan Juli 2019 tercatat mengalami deflasi 0,17% secara bulanan (month to month/mtm).

Link Banner

Namun, secara tahunan mencapai 5,24% (year on year/yoy) dan berada di atas sasaran target Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Maluku yang sebesar 3,5%±1% (yoy).

Hal ini diungkapkan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Noviarsano Manullang, dalam rilis berita yang diterima wartawan, Senin (5/8).

Baca Juga  FPP GMKI Cabang Ambon gelar pemberdayaan perempuan desa di Ema

Menurutnya, kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga menjadi faktor utama penyebab inflasi Maluku yang melebihi batas.

Dimana, kelompok ini mengalami inflasi 3,24% (mtm) pada Juli 2019, sementara pada bulan Juni 2019 mengalami deflasi 0,03% (mtm).

”Naiknya tekanan inflasi disebabkan oleh subkelompok pendidikan, terutama biaya akademi/perguruan tinggi dan taman kanak-kanak yang cenderung naik pada saat tahun ajaran baru. Selain itu, inflasi Maluku juga disebabkan oleh kelompok bahan makanan. Kelompok bahan makanan mengalami inflasi 0,88% (mtm), lebih tinggi dari bulan Juni 2019 yang mengalami inflasi 0,04% (mtm). Naiknya inflasi kelompok bahan makanan disebabkan oleh subkelompok sayuran dan bumbu-bumbuan. Sebagian besar pasokan bumbu di Maluku didatangkan dari Jawa Timur, terutama cabai rawit yang mengalami inflasi 23,66% (mtm). Musim kemarau berkepanjangan di Jawa Timur berdampak pada berkurangnya suplai cabai yang tersedia. Naiknya harga cabai juga semakin diperparah oleh menurunnya kapasitas produksi lokal di Kota Ambon akibat serangan Hama Gemini,” jelasnya.

Baca Juga  Tanda-tanda Cewekmu Kena Virus HIV, Cepat Periksa Sebelum Menyesal

Subkelompok ikan segar, akunya, juga masih menjadi penyebab inflasi.

Dimana, angin musim dengan curah hujan tinggi memicu gelombang tinggi yang berdampak pada menurunnya pasokan ikan segar di pasar.

”Penyebab lain inflasi di Maluku adalah tingginya biaya distribusi, terutama biaya operasional di pelabuhan. Berdasarkan Rakor bersama Dishub, Pelindo, Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Asosiasi TKBM dan perusahaan jasa kargo di Maluku, terdapat potensi distributor harus membayar lebih mahal akibat sewa area bongkar muat di pelabuhan Yos Sudarso. Hal ini dipicu karena terdapat beberapa distributor bahan pokok yang tidak memiliki gudang penyimpanan dan menjadikan area pelabuhan sebagai alternatif gudang penyimpanan, sehingga biaya sewa tersebut dibebankan pada harga komoditas,” tegasnya.

Baca Juga  Pangdam Pattimura Tatap Muka dengan Ketua DRPD Provinsi Maluku

Di sisi lain, jelasnya, inflasi Maluku pada bulan Juli 2019 masih tertahan oleh kelompok sandang yang sebesar negatif 2,97% (mtm), lebih rendah dibanding Juni 2019 sebesar 2,78% (mtm).

”Turunnya tekanan inflasi pada kelompok sandang lebih disebabkan oleh turunnya permintaan terhadap pakaian baru pasca Idulfitri, terutama pakaian wanita dan pakaian laki-laki. Perilaku musiman masyarakat yang cenderung mengurangi konsumsi pakaian pasca hari raya menjadi penyebab utama pedagang menurunkan harga pakaian,” pungkasnya. (dayon)