Jumlah Kasus Covid-19 Pecah Rekor Lagi, Epidemiolog: Pemerintah Harus Jujur!

oleh -95 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Gugus Tugas Penanggulangan COVID-19 mengumumkan bahwa terjadi rekor baru penambahan jumlah orang terkonfirmasi pada Rabu (8/7/2020), yakni 1.863 kasus.

Epidemiolog dari Eijkman Oxford Clinical Research Unit, Iqbal Elyazar, meminta pemerintah untuk jujur dalam menerangkan penyebab terjadinya lonjakan kasus yang besar ini.

Iqbal mengatakan, dalam kondisi saat ini dimana jumlah kasus COVID-19 di Indonesia mencapai angka 68.079 kasus, tidak banyak opsi yang bisa diambil oleh pemerintah.

Namun yang terpenting sebelum langkah preventif ditentukan, pemerintah dianggap perlu untuk terbuka dan jujur terhadap faktor-faktor penyebab bertambahnya jumlah kasus setiap harinya.

Link Banner

“Jujur dalam menjelaskan data dan situasi yang sesungguhnya adalah kunci mengatasi pandemi. Pengaturan data dan tertutupnya data yang sesungguhnya hanya menurunkan kewaspadaan masyarakat dan memberikan pesan yang salah kepada sesama aparat, sekaligus menurunkan kredibilitas penanganan covid. Statistik pandemi haruslah statistik kebenaran, bukan dengan statistik pembenaran, apalagi pembegalan dan pengaturan statistik,” kata Iqbal dalam siaran pers yang diterima wartawan, Kamis (9/7/2020).

Baca Juga  Relawan Gustu Covid-19 Desa Kou Periksa Suhu Tubuh Fifian Adeningsi Mus

Dia melanjutkan, perlu kejelasan dari otoritas kesehatan dan Gugus Tugas, dari jalur mana saja kontribusi kenaikan kasus itu terjadi.

Dengan begitu, dapat dijelaskan apakah penambahan kasus terjadi karena situasinya memang tambah parah atau karena ada upaya diagnosis yang menjadi lebih baik.

Apakah pemeriksaan orang yang datang ke rumah sakit meningkat? Apakah orang yang terlacak dari kasus positif meningkat? Apakah kemampuan lab COVID-19 untuk memeriksa jumlah sampel meningkat? Misalnya karena ada tambahan lab, tambahan alat, atau tambahan tenaga?” ujar Iqbal.

Menurut Iqbal, Pemerintah Daerah tidak perlu merasa takut untuk memulai, memperpanjang, atau bahkan mengulang masa PSBB karena mobilitas di daerah sangat berisiko tinggi terhadap penularan.

Baca Juga  Kisah Hidup Gus Dur Diangkat ke Layar Lebar

“Pemda dan aparat memaksimalkan pemakaian masker di luar rumah dan pastikan ada sanksi sosial untuk pelonggaran. Pemakaian masker adalah tindakan bela negara dan manfaat untuk melindungi anggota komunitas yang lain,” imbuh Iqbal, yang juga tergabung dalam Kolaborator Saintis Lapor COVID-19. (red/rtm/ljc)