Jurnalis ini Skakmat Donald Trump saat Konferensi Pers

oleh -18 views
Link Banner

Porostimur.com | Washington: Dalam sebuah konfrensi pers, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampak tak berkutik saat mendapat pertanyaan wartawan.

Trump hanya bisa bingung dan terdiam tak bisa menanggapi pertanyaan dari seorang jurnalis kantor berita Huffington Post.

Ia terlihat langsung ‘lari dari kenyataan’ karena tak bisa menanggapi apapun.

Semua itu bermula ketika Presiden AS memberikan konferensi pers terkait virus corona, seperti diberitakan Washington Post, Jumat (14/8/2020).

Link Banner

Dalam forum itu, ia juga menyinfgung rivalnya di Pilpres AS, Joe Biden.

Kemudian tibalah sesi tanya jawab.

Presiden ke-45 Amerika Serikat itu menunjuk SV Date, seorang koresponden Huffington Post di Gedung Putih HuffPost.

Tak disangka, Date menyoal ‘kebiasaan berbohong’ Donald Trump.

“Bapak Presiden, setelah tiga setengah tahun, apakah kamu tidak menyesali semua, semua kebohongan yang kamu lakukan pada rakyat Amerika?” tanya Date.

Trump tampak bingung.

“Apa?” jawab presiden.

“Semua kebohongan, semua ketidakjujuran,” kata Date mempertegas.

“Itu yang telah dilakukan?” kata Trump.

“Kamu telah melakukannya,” tegas Date.

Baca Juga  Mikaela Mayer, Petinju Seksi AS yang Sempat Terpapar Virus Corona
tribunnews
Presiden Donald Trump saat mengikuti wawancara dengan para jurnalis. (Yahoo News)

Menanggapi pertanyaan Date, Trump berhenti sejenak.

Namun dia enggan menjawab pertanyaan tersebut.

Alih-alih memberi sepatah kata, Donald Trump langsung mempersilakan reporter lain untuk bertanya.

Pertanyaan blak-blakan ini kemudian viral di Twitter.

Aksi Date menjadi sejarah baru di mana seorang reporter berani meminta pertanggungjawaban presiden atas kesalahannya.

Sebagai presiden, Trump memang dianggap sebagai penyebar informasi yang salah.

Hingga Juli, dia membuat lebih dari 20.000 klaim palsu atau menyesatkan saat menjabat.

Jumlah tersebut diketahui berdasarkan perhitungan yang dilakukan pemeriksa fakta The Washington Post.

Dia melakukannya pada tingkat yang lebih besar dalam 14 bulan terakhir, menghitung rata-rata 23 klaim per hari karena negara itu diguncang oleh pengadilan pemakzulan dan pandemi.

Meski kerap memberikan klaim bohong, Trump tak menampakkan ‘permusuhan’ dengan media.

Hal ini membuka kesempatan bagi reporter di Gedung Putih untuk menanyakan hal demikian.

Date, seorang jurnalis veteran dan penulis yang menghabiskan lebih dari tiga dekade di berbagai outlet termasuk Palm Beach Post dan Associated Press sebelum bergabung dengan HuffPost, memang dikenal agresif dalam menyoal kebohongan Trump.

Baca Juga  Spanyol Lockdown Karena Virus Corona, Real Madrid Kampanyekan #StayHome
tribunnews
Jurnalis SV Date saat mewawancarai Presiden Donald Trump. (Fox Bussines/Newsbusters)

Dalam sebuah email kepada rekan-rekannya tahun lalu, Dáte mendesak para jurnalis untuk lebih peduli terhadap kebohongan yang dilakukan Donald Trump.

“Saya telah berkecimpung dalam bisnis ini lebih dari tiga dekade, dan apa yang terjadi sekarang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis Dáte sebagai bagian dari promosi yang gagal untuk menjadi presiden Asosiasi Koresponden Gedung Putih.

“Kami diserang hampir setiap hari menggunakan bahasa Stalinis. Kami disebut korup dan tidak jujur. Kami diberi informasi palsu dari staf yang sering kali tahu betul bahwa itu salah.”

Dáte juga menulis tentang efek informasi yang salah Trump.

Dalam artikel pada Januari, Dáte menyebut kesalahan Trump yang berulang kali telah “melelahkan”.

“Saya belum pernah bertemu dengan pejabat publik, kandidat untuk jabatan, birokrat, pengacara pembela, atau, terus terang, penjahat aktual yang tidak jujur ​​secara teratur dan agresif seperti presiden Amerika Serikat saat ini.

Baca Juga  Begini Kata-Kata Motivasi Serena Williams Kepada Sofia Kenin

“Dan itu termasuk belasan tahun meliput legislatif Florida, ”tulisnya kemudian.

Yang paling meresahkan bagi Date, kesalahan Trump dilakukan setiap hari.

Hal itu membuat orang menjadi jarang memperhatikannya.

“Tidak lagi layak diberitakan bahwa orang yang memimpin negara paling kuat di dunia, yang memimpin persenjataan paling merusak dalam sejarah manusia, tidak dapat dipercaya sampai ke intinya,” tulisnya.

Mengenai apa yang mendorong keputusannya untuk mengajukan pertanyaan langsung kepada Trump tentang kepalsuannya pada hari Kamis, Dáte tidak segera menanggapi pesan dari The Post.

Tetapi di Twitter, dia mengatakan pertanyaan itu telah ada di benaknya sejak lama.

“Selama lima tahun saya ingin menanyakan itu padanya,” tweet Dáte. (red/rtm/tribun)