Kakanwil Kemenag Malut Rinci Tiga Langkah Penyuluh Agama di Era Digital

oleh -23 views
Link Banner

Porostimur.com |Labuha: Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara, H. Sarbin Sehe melaksanakan pembinaan Penyuluh Agama Islam Non PNS di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Halmahera Selatan di Labuha, pada hari Senin (2/11/2020).

Pada kegiatan pembinaan dengan tema Peningkatan Peran Penyuluh Agama Islam Non PNS di Era Digital tersebut, ikut mendampingi Kakanwil Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Islam Kanwil Kemenag Malut, H. Salmin Abd. Kader, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Halmahera Selatan, H. La Sengka La Dadu, serta sejumlah Pejabat Eselon IV di lingkungan Kanwil maupun Kankemenag Kab. Halsel.

Dalam pembinaan, Kakanwil menerangkan arti penting Penyuluh Agama Islam Non PNS dalam meningkatkan kualitas peningkatan pengamalan nilai-nilai agama di masyarakat, yakni sebagai pihak yang mampu mengajak, membina, menerangkan, serta mengubah sikap dan perilaku masyarakat kepada ajaran-ajaran agama, maupun dalam upaya menjaga kerukunan hidup beragama.

Sementara itu pada saat ini, dengan semakin majunya teknologi informasi, kecepatan dalam proses merupakan suatu keharusan dalam dunia yang serba instan, kemudahan-kemudahan dalam melakukan aktivitas hidup, dapat terpenuhi dengan pemanfaatan teknologi tersebut, komunikasi, aplikasi kerja, interaksi sosial, transaksi jual beli, dll semua telah disediakan internet.

Namun, banyaknya manfaat dari era digital saat ini, aspek negatif pun tidak kalah jumlahnya mengimbangi aspek positif yang menjadi dampak dari penggunaan IT, “Laksana gelap mengiri terang, atau pagi setelah malam, dampak negatif positif internet selalu ada”, jelas H. Sarbin

Baca Juga  Hasil Liga Inggris: Chelsea ke Liga Champions, Gandeng Spurs ke Europa

Oleh sebab itu, menurut H. Sarbin, salah satu tantangan penyuluhan yang dihadapi saat ini adalah sikap dan perilaku buruk akibat pengaruh negatif dari kemajuan teknologi informasi dalam hal ini internet, pada masyarakat.

Kakanwil mencontohkan, ujaran kebencian, radikalisme, berita palsu atau hoaks, pergaulan bebas, narkoba serta konten-konten pemecah belah persatuan kesatuan, anti kebangsaan dan pornografi, telah menyeruak mengisi lembar-lembar informasi di internet yang setiap waktu siap diakses atau menjadi konsumsi masyarakat.

Selain itu, generasi penerus yang telah akrab dengan pemanfaatan teknologi seperti gadget, internet dll, jika tanpa dibarengi pondasi agama yang kukuh dan keilmuan yang kuat maka psikologi mereka dimasa akan datang dapat rapuh sehingga muncullah generasi bangsa yang individualis, tidak menjadi pilar kerukunan, moderasi, tidak mencintai bangsa dan negara, dll.

“Sedangkan di satu sisi, tidaklah mungkin kita bisa membendung laju perkembangan teknologi pada era digitalisasi saat ini, akan tetapi kita masih bisa berupaya membentengi diri dari pengaruh negatif yang ditimbulkannya”, jelas Kakanwil.

Sehingga diperlukan peran Penyuluh Agama, yang langsung bersentuhan dengan masyarakat menyampaikan komunikasi dengan baik, dalam upaya membentengi masyarakat dari pengaruh negatif baik secara lisan maupun melalui konten-konten produktif yang mampu mengimbangi banyaknya konten kontra produktif di internet.

Baca Juga  Di Ambon, Warga Hadang dan Ambil Paksa Jenazah yang Diduga Terpapar Covid 19

Kakanwil melanjutkan, dalam mencapai usaha kearah tersebut, banyak di antara penyuluh agama saat ini yang menggunakan “jalan pintas” yakni dengan membagikan (share) konten-konten keagamaan yang telah beredar di internet.

Menurut H. Sarbin hal tersebut sah-sah saja untuk dilakukan, akan tetapi menurut Kakanwil, kehati-hatian dalam memilih konten dengan mencari tahu kredibilitas sumber dan konsekuensi pengaruh dari konten tersebut juga harus menjadi pertimbangan Penyuluh dalam melakukannya.

Kakanwil mengajak Penyuluh Agama Islam Non PNS agar jangan mau diombang-ambing informasi yang tidak jelas. “Cari tahu kredibilitas sumber, fahami isinya, analisa pengaruhnya terhadap khalayak, sebelum membaginya, sehingga kita terhindar dari dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab”, tegas Kakanwil

Oleh sebab itu, memahami komunikasi melalui media sosial sebagai penghubung interaksi sosial melalui internet, sudah menjadi keharusan bagi Penyuluh Agama dalam melaksanakan tugas penyuluhan di era digital saat ini. Adapun langkah-langkah yang perlu ditempuh, menurut H. Sarbin antara lain sbb :

Penyuluh memanfaatkan media sosial dalam menjalin komuniy di antara sesama penyuluh dengan membuat grup, dimana dalam grup tersebut dibahas metode-metode dakwah serta materi-materi yang akan disampaikan, kendala-kendala dakwah serta bagaimana mencari solusinya.

Yang kedua Kakanwil mengharapkan kepada seluruh Penyuluh Non PNS di Maluku Utara khususnya di Kementerian Agama Kab. Halmahera Selatan untuk memiliki minimal satu akun media sosial pada setiap media sosial yang ada, baik FB, Instagram, Twitter, YouTube, Blog dll, sebagai sarana ada saluran komunikasi dalam menyampaikan dakwah, konten produktif, dan inovasi penyuluhan lainnya, seperti materi khutbah, pidato agama, kultum dsb, yang dapat diakses, dan juga dapat dimanfaatkan masyarakat.

Baca Juga  Kylian Mbappe Gagal Eksekusi Penalti, Prancis Disingkirkan Swiss di 16 Besar

Selanjutnya yang ke tiga, Penyuluh Agama diharapkan dapat memfilter berita-berita palsu, bohong atau hoaks, ujaran kebencian, untuk diluruskan kepada masyarakat, dimana sebelumnya telah dibahas terlebih dahulu dalam forum-forum diskusi pada grup-grup media sosial Penyuluh Agama yang telah dibuat sebelumnya.

Menurut Kakanwil, jika ketiga langkah tersebut benar-benar dilaksanakan oleh Penyuluh, maka usaha ke arah membentengi masyarakat dari pengaruh negatif internet dapat terlaksana sesuai dengan yang diharapkan, dan tentunya kesabaran dalam menghadapi masyarakat di media sosial harus lebih ditingkatkan, sehingga jangan mudah tersinggung, marah ataupun malah menuduh atau menghukumi yang belum jelas dan bukan kewenangan kita.

Terakhir Kakanwil meminta kepada Penyuluh Agama Islam Non PNS pada jajaran Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara, untuk menjalin dan selalu bersinergi dengan pihak-pihak ekstenal Kemenag, sehingga peran dan fungsinya dapat lebih diketahui oleh masyarakat dan negara, dan akhirnya Penyuluh Agama semakin elegan dan dibutuhkan. (adhy/inmas)